# "Terserah" Bukan Jawaban: Seni Memutuskan Berdua Tanpa Ada yang Kalah

> Jawaban "terserah" bisa membebani pasangan. Gunakan pembagian wilayah, dua pilihan, dan skala prioritas agar keputusan bersama lebih adil.

Sumber: https://familio.id/artikel/berhenti-bilang-terserah · Pasangan · 18 September 2026 · Familio

## Inti artikel

- Jawaban "terserah" yang terus berulang dapat membuat satu pihak memikul keputusan sekaligus kesalahannya sendirian.
- John Gottman menemukan bahwa ketika seorang suami tidak mau berbagi kuasa dengan pasangannya, ada peluang 81% pernikahannya akan hancur.
- Keputusan harian, sedang, dan besar membutuhkan cara pengambilan keputusan yang berbeda.
- Orang yang berkata "terserah" dapat membantu dengan menawarkan dua pilihan konkret.
- Untuk keputusan besar, kedua pihak perlu memiliki hak veto dan tidak memutuskan saat sedang emosi.

"Mau makan di mana?" "Terserah." "Gimana kalau sate?" "Jangan, kemarin udah daging." "Ya udah, soto?" "Hmm, lagi nggak pengen." "Terus maunya apa?" "Terserah kamu aja."

Percakapan ini sudah menjadi lelucon nasional. Namun, jawabannya cukup serius: keputusan berdua akan terasa lebih adil jika Anda dan pasangan sama-sama menyampaikan keinginan, bersedia dipengaruhi, dan tahu siapa yang berwenang memutuskan setiap jenis urusan.

"Terserah" memang terdengar seperti mengalah. Padahal, jawaban itu sering menjadi cara menghindari tanggung jawab: "Aku nggak mau memutuskan, tapi aku juga mau protes kalau hasilnya nggak sesuai." Untuk urusan makan malam, akibatnya mungkin hanya percakapan yang melelahkan. Untuk pindah rumah, sekolah anak, atau merawat orang tua yang sakit, pola yang sama dapat menjadi masalah serius.

## Mengapa pasangan perlu berbagi kuasa saat memutuskan?

Dalam studi jangka panjang terhadap pasangan pengantin baru, John Gottman menemukan pola yang ia sebut *accepting influence*. Artinya adalah kesediaan untuk dipengaruhi oleh pasangan: mendengarkan pendapatnya, mempertimbangkannya dengan serius, lalu bersedia mengubah keputusan karena pendapat tersebut.

Temuan Gottman tajam. Ketika seorang suami tidak mau berbagi kuasa dengan pasangannya, ada **peluang 81%** pernikahannya akan hancur.

Berbagi kuasa bukan berarti tidak boleh ada pembagian peran. Poinnya juga bukan menentukan siapa yang harus memimpin rumah tangga. Banyak keluarga Indonesia memiliki nilai bahwa suami adalah kepala keluarga, dan nilai tersebut tidak bertentangan dengan temuan ini.

Kepala keluarga yang baik justru mendengar sebelum memutuskan. Masalah muncul ketika keputusan selalu dibuat sepihak sampai pasangan merasa pendapatnya tidak pernah dihitung.

Kesediaan menerima pengaruh juga berlaku dalam percakapan sehari-hari. Anda tidak harus selalu setuju. Namun, pasangan perlu melihat bahwa pendapatnya benar-benar masuk ke dalam pertimbangan, bukan sekadar didengar sambil lalu.

## Apa dua masalah keputusan yang sering muncul di rumah tangga?

Ada dua pola yang sama-sama melelahkan. Yang pertama menempatkan seluruh kuasa pada satu orang. Yang kedua membuat tidak seorang pun mau memegang tanggung jawab.

- **Satu orang memutuskan semuanya.** Pasangan yang lain lama-lama merasa seperti penumpang dalam hidupnya sendiri. Ia berhenti memberi pendapat, lalu berhenti peduli.
- **Tidak ada yang mau memutuskan.** Semua menjawab "terserah". Keputusan terus ditunda sampai keadaan yang memutuskan. Ketika hasilnya buruk, keduanya lalu saling menyalahkan.

![Pasangan Indonesia menghadapi dua pola keputusan dengan meja seimbang sebagai jalan tengah.](https://familio.id/media/articles/01a0fc98907f71ee86c1a7f1209a59f2.jpg)

Kedua pola ini tampak berlawanan, tetapi bebannya serupa. Salah satu pasangan akhirnya merasa sendirian, entah karena tidak pernah diajak menentukan arah atau karena harus menentukan semua hal.

Karena itu, tujuan Anda bukan memastikan semua keputusan dibahas panjang. Tujuannya adalah membuat pembagian yang cukup jelas agar urusan kecil tidak menguras tenaga dan urusan besar tidak diputuskan sepihak.

## Siapa yang sebaiknya memutuskan setiap urusan keluarga?

Pasangan yang jarang bertengkar soal keputusan biasanya memiliki kesepakatan tidak tertulis tentang jenis keputusan. Agar tidak bergantung pada tebakan, buat kesepakatan itu menjadi tertulis.

| Jenis keputusan | Contoh | Cara memutuskan |
|---|---|---|
| Harian dan kecil | menu makan, belanja rutin, jadwal les | Satu orang yang "memegang" wilayah itu memutuskan sendiri. |
| Sedang | pengeluaran di atas batas tertentu, liburan, kegiatan anak | Dibicarakan singkat, salah satu memberi usulan konkret. |
| Besar dan jangka panjang | pindah kerja, beli rumah, sekolah anak, merawat orang tua | Dibicarakan tenang, kedua pihak punya hak veto, tidak diputuskan saat emosi. |

Pembagian tersebut bukan perlombaan untuk mencari pihak yang paling berkuasa. Ini adalah cara memperjelas tanggung jawab. Untuk keputusan harian dan kecil, orang yang memegang wilayah itu tidak perlu meminta persetujuan setiap saat.

Untuk keputusan sedang, jangan memulai pembicaraan dengan persoalan yang terlalu luas. Salah satu pihak dapat membawa usulan konkret agar percakapan memiliki titik awal. Pasangan tetap dapat menerima, menolak, atau mengusulkan pilihan lain.

Keputusan besar dan jangka panjang membutuhkan perlakuan berbeda. Kedua pihak mempunyai hak veto. Artinya, keputusan tidak dilanjutkan hanya karena salah satu pihak lebih keras, lebih cepat menjawab, atau ingin segera selesai.

## Bagaimana cara berhenti menjawab "terserah"?

Kesepakatan pembagian peran akan lebih berguna jika disertai aturan percakapan. Empat aturan berikut dapat langsung dicoba.

- **Yang bilang "terserah" wajib memberi dua pilihan.** Anda bisa berkata, "Aku lagi pengen yang berkuah. Soto atau bakso?" Keputusan menjadi jauh lebih mudah karena pasangan tidak harus menebak dari awal.
- **Pakai skala 1 sampai 10.** Tanyakan, "Seberapa penting ini buat kamu?" Jika Anda berada di angka 3 dan pasangan di angka 8, biarkan pasangan yang menang. Gantian di lain waktu.
- **Setelah memutuskan, jangan mengungkit.** Keputusan bersama berarti tanggung jawab bersama, termasuk ketika hasilnya tidak ideal.
- **Untuk keputusan besar, beri waktu tidur semalam.** Keputusan penting yang diambil saat lelah atau marah hampir selalu disesali.

Skala 1 sampai 10 membantu membedakan keinginan ringan dari kebutuhan yang sungguh penting bagi salah satu pihak. Anda tidak harus memenangkan jumlah keputusan yang sama setiap hari. Yang perlu dijaga adalah kesediaan untuk bergantian memberi ruang.

Aturan untuk tidak mengungkit juga penting. Jika usulan yang disepakati ternyata tidak berjalan ideal, hindari mengubahnya menjadi senjata. Evaluasi hasilnya bersama, lalu perbaiki keputusan berikutnya.

Untuk keputusan besar, menunda sampai esok bukan berarti lari dari masalah. Jeda itu memberi kesempatan agar pembicaraan dilanjutkan ketika Anda dan pasangan tidak sedang lelah atau marah.

**Cek diri: Cek Pola Keputusan di Rumah**

- [ ] Kami sudah membagi siapa yang memegang keputusan harian tertentu.
- [ ] Kami memiliki batas pengeluaran yang boleh diputuskan sendiri.
- [ ] Kami membawa usulan konkret saat membahas keputusan sedang.
- [ ] Kami sama-sama memiliki hak veto untuk keputusan besar.
- [ ] Kami menawarkan dua pilihan saat ingin menjawab terserah.
- [ ] Kami memakai skala 1 sampai 10 saat tingkat kepentingan kami berbeda.
- [ ] Kami tidak mengungkit keputusan bersama ketika hasilnya tidak ideal.
- [ ] Kami menunda keputusan besar saat sedang lelah atau marah.

## Tamparan kecilnya

"Terserah" terdengar rendah hati. Namun, jika diucapkan terus-menerus, pasangan Anda akan merasa memikul semua keputusan sendirian sekaligus menanggung semua kesalahan ketika hasilnya buruk.

Berani memberi pendapat adalah bentuk tanggung jawab. Bersedia dipengaruhi pasangan adalah bentuk hormat. Pernikahan yang sehat membutuhkan keduanya.

## Coba sekarang di Familio

Duduk berdua selama 15 menit, lalu isi tabel di atas sesuai keadaan keluarga Anda. Tentukan siapa yang memegang setiap wilayah keputusan dan berapa batas pengeluaran yang boleh diputuskan sendiri. Simpan hasilnya di Jurnal keluarga di Familio agar kesepakatan tersebut dapat dibuka kembali setiap kali muncul keraguan.

*Sumber: The Gottman Institute, Manage Conflict: Accepting Influence*

## Pertanyaan yang sering diajukan

### Apa arti accepting influence dalam hubungan suami istri?

Accepting influence adalah kesediaan untuk mendengarkan pendapat pasangan, mempertimbangkannya dengan serius, dan bersedia mengubah keputusan karenanya. Ini bukan berarti harus selalu setuju atau kehilangan peran dalam keluarga.

### Bagaimana cara menjawab selain "terserah"?

Sebutkan dua pilihan konkret, misalnya soto atau bakso. Cara ini menyampaikan keinginan Anda tanpa membebani pasangan untuk menebak dari awal.

### Siapa yang sebaiknya mengambil keputusan dalam rumah tangga?

Untuk urusan harian dan kecil, satu orang dapat memegang wilayah keputusan tertentu. Keputusan sedang perlu dibicarakan singkat, sedangkan keputusan besar perlu dibahas dengan tenang dan memberi kedua pihak hak veto.

### Bagaimana jika keinginan suami dan istri berbeda?

Gunakan skala 1 sampai 10 untuk menunjukkan seberapa penting pilihan itu bagi masing-masing pihak. Jika satu pihak berada di angka 3 dan pihak lain di angka 8, beri ruang kepada pihak yang menganggapnya lebih penting, lalu bergantian pada kesempatan lain.

### Kapan keputusan besar sebaiknya dibuat?

Keputusan besar sebaiknya dibicarakan dengan tenang dan tidak diputuskan saat emosi. Jika Anda atau pasangan sedang lelah atau marah, beri waktu tidur semalam sebelum melanjutkan pembicaraan.

