# Ayah Juga Bisa Depresi Setelah Anak Lahir: Tanda yang Sering Tidak Dikenali

> Ayah juga bisa depresi setelah anak lahir. Kenali tanda yang kerap dianggap sikap cuek, dari mudah marah hingga sengaja menghindari rumah.

Sumber: https://familio.id/artikel/depresi-ayah-setelah-anak-lahir · Jurnal & kesehatan emosi · 24 September 2026 · Familio

## Inti artikel

- Meta-analisis Paulson dan Bazemore di JAMA (2010) menemukan 10,4% ayah mengalami depresi sejak trimester pertama hingga satu tahun setelah anak lahir.
- Periode 3–6 bulan setelah kelahiran memiliki estimasi tertinggi, 25,6%, tetapi angka ini berasal dari lebih sedikit studi sehingga bukan angka pasti.
- Depresi pada ayah dapat terlihat sebagai amarah, lembur terus, menarik diri, atau pelarian melalui game, rokok, alkohol, dan judi.
- Depresi ayah berkorelasi dengan depresi ibu serta dikaitkan dengan masalah emosi dan perilaku anak pada usia prasekolah.
- Jika tanda-tanda muncul hampir setiap hari selama dua minggu, ayah perlu berbicara dengan dokter atau psikolog.

Empat bulan setelah anak pertamanya lahir, Arga berubah. Ia makin sering lembur meski kantor tidak sedang sibuk, bermain game sampai pukul dua pagi, dan meledak karena hal sepele seperti botol susu yang belum dicuci. Istrinya mengira ia tidak mau terlibat. Teman-temannya menyebut itu wajar bagi bapak baru.

Namun, perubahan seperti ini bisa menjadi tanda depresi setelah anak lahir. Ayah juga dapat mengalami depresi perinatal, dan gejalanya tidak selalu berupa kesedihan. Amarah, menarik diri, sengaja pulang terlambat, atau tenggelam dalam game dapat menjadi tanda yang perlu diperhatikan.

Tidak ada yang bertanya apakah Arga sedang depresi. Kabar ibu setelah melahirkan memang penting, tetapi kabar ayah juga perlu ditanyakan. Riset menunjukkan bahwa masalah ini dialami cukup banyak ayah dan dapat berdampak pada seluruh keluarga.

## Berapa banyak ayah yang mengalami depresi setelah anak lahir?

Meta-analisis James Paulson dan Sharnail Bazemore di jurnal JAMA (2010) menggabungkan 43 studi yang melibatkan 28.004 ayah dari 16 negara. Penelitian tersebut menemukan bahwa 10,4% ayah mengalami depresi antara trimester pertama kehamilan hingga satu tahun setelah anak lahir.

Angka itu sekitar dua kali lipat prevalensi depresi pria pada umumnya dalam studi yang sama, yaitu 4,8%. Dengan kata lain, depresi pada ayah selama masa kehamilan dan setelah kelahiran bukan persoalan yang layak dianggap sepele.

Periode paling rawan adalah 3–6 bulan setelah kelahiran, dengan estimasi mencapai 25,6%. Namun, angka puncak tersebut berasal dari lebih sedikit studi. Karena itu, anggap angka ini sebagai sinyal bahaya, bukan angka pasti.

Meta-analisis tersebut juga menemukan bahwa depresi ayah berkorelasi dengan depresi ibu. Ketika salah satu pasangan tenggelam, pasangan yang lain sering ikut tertarik. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan jiwa setelah kelahiran perlu mencakup keduanya.

## Apa tanda depresi pada ayah yang sering terlewat?

Depresi pada pria sering tidak tampak sebagai kesedihan. Tinjauan ilmiah tentang depresi ayah menyebut bahwa gejalanya lebih sering muncul lewat perilaku yang mudah diberi penjelasan lain.

| Yang terlihat dari luar | Yang sering disangka |
|---|---|
| Mudah marah, meledak karena hal kecil | "Memang orangnya temperamental" |
| Lembur terus, sengaja pulang telat | "Lagi kejar karier demi keluarga" |
| Main game, menonton, atau menggulir HP berjam-jam | "Butuh hiburan, wajar" |
| Menarik diri dari istri dan bayi | "Laki-laki memang kurang telaten" |
| Merokok atau minum lebih banyak, berjudi | "Stres kerja" |
| Keluhan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan susah tidur | "Kurang olahraga" |

Satu perilaku saja tidak otomatis membuktikan bahwa seseorang mengalami depresi. Namun, perubahan yang terus terjadi patut membuka percakapan, terutama jika ayah juga kehilangan minat, merasa kosong, atau makin bergantung pada berbagai bentuk pelarian.

Budaya kita dapat membuat gejala ini makin sulit dikenali. Laki-laki kerap diajari bahwa "lelaki tidak boleh cengeng". Akibatnya, tekanan yang dialami mungkin tidak keluar sebagai air mata, melainkan sebagai amarah, pelarian, atau diam.

![Ayah baru memakai topeng amarah di antara keluarga dan berbagai bentuk pelarian.](https://familio.id/media/articles/01a0fc9a29c8718f862ef586bc1d2d27.jpg)

## Apa dampak depresi ayah terhadap anak?

Ini bagian yang paling menampar. Studi Paul Ramchandani dan rekan di The Lancet (2005) mengikuti ribuan keluarga di Inggris. Anak-anak yang ayahnya mengalami depresi pada masa setelah kelahiran lebih berisiko mempunyai masalah emosi dan perilaku pada usia prasekolah, terutama anak laki-laki.

Penelitian lanjutan menemukan risiko depresi yang lebih tinggi pada anak-anak tersebut ketika remaja. Temuan ini tidak berarti setiap anak dari ayah yang depresi pasti mengalami masalah. Namun, temuan itu memperjelas bahwa kondisi ayah bukan semata-mata urusan pribadi.

Merawat kesehatan jiwa ayah adalah bagian dari merawat tumbuh kembang anak. Ketika keluarga mengenali tanda lebih awal, percakapan dan pencarian bantuan juga dapat dimulai lebih awal.

## Siapa yang lebih berisiko mengalami depresi sebagai ayah baru?

Beberapa keadaan dalam tinjauan tentang depresi ayah perlu diwaspadai:

- Pasangan juga mengalami depresi selama atau setelah kehamilan, yang menjadi prediktor terkuat.
- Ayah pernah mengalami depresi sebelumnya.
- Ada konflik pernikahan dan dukungan sosial yang minim.
- Keluarga menghadapi tekanan ekonomi atau kehilangan pekerjaan.
- Ayah masih muda atau menjadi pengasuh utama di rumah.

Faktor risiko bukan vonis. Daftar ini berguna sebagai pengingat untuk lebih peka terhadap perubahan perilaku dan tidak buru-buru menyebut ayah malas, cuek, atau sekadar stres kerja.

## Apa yang bisa dilakukan mulai minggu ini?

### Untuk istri

Ganti pertanyaan "Kamu kenapa sih?" dengan pengamatan yang spesifik: "Aku lihat kamu sering marah dan pulang telat belakangan ini. Kamu baik-baik saja?" Sebutkan perilakunya, bukan tuduhannya. Tujuannya adalah membuka ruang bicara, bukan memenangkan perdebatan.

### Untuk ayah

Jawab tiga pertanyaan dengan jujur. Apakah selama dua minggu terakhir Anda hampir setiap hari merasa kosong, mudah marah, atau tidak menikmati apa pun? Apakah Anda menghindari rumah? Apakah Anda makin bergantung pada rokok, alkohol, game, atau pelarian lain?

Jika jawabannya "ya", bicaralah dengan dokter atau psikolog. Kuesioner Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) juga dapat dipakai untuk ayah dan bisa diminta saat kontrol ke puskesmas atau bidan.

### Untuk keluarga besar dan teman

Setelah bertanya tentang ibu dan bayi, tanyakan juga kepada ayah, "Kamu sendiri gimana?" Satu kalimat itu bisa menjadi satu-satunya pintu yang terbuka. Dengarkan jawabannya tanpa langsung mengecilkan masalah atau menyebut semua ayah baru pasti merasakan hal yang sama.

**Cek diri: Cek perubahan pada ayah setelah anak lahir**

- [ ] Merasa kosong atau mudah marah
- [ ] Tidak menikmati hal yang biasanya disukai
- [ ] Sengaja menghindari rumah atau sering pulang terlambat
- [ ] Menarik diri dari pasangan dan bayi
- [ ] Bermain game, menonton, atau menggulir HP berjam-jam
- [ ] Makin bergantung pada rokok, alkohol, atau pelarian lain
- [ ] Mengalami sakit kepala, gangguan pencernaan, atau susah tidur

## Tamparan kecilnya

Kita merayakan ayah yang "kuat" dan "tidak pernah mengeluh". Padahal, di balik sebagian ayah yang tidak pernah mengeluh, ada ayah yang tidak tahu bagaimana cara mengeluh. Anaknya dapat ikut menanggung akibatnya.

## Coba sekarang di Familio

Ayah, buka tab Jurnal dan tulis satu kalimat setiap malam selama dua minggu: "Hari ini, dari skala 1–10, perasaan saya ___ karena ___." Jika skornya terus berada di bawah 5, jangan menunggu minggu ketiga. Bagikan catatan itu kepada pasangan atau bawa saat berbicara dengan dokter.

*Sumber: Paulson & Bazemore, 2010, JAMA; ringkasan angka dari Medscape; Ramchandani et al., 2005, The Lancet; Paternal depression: "The silent pandemic", tinjauan di PMC.*

## Pertanyaan yang sering diajukan

### Apakah ayah bisa depresi setelah anak lahir?

Ya. Meta-analisis Paulson dan Bazemore di JAMA (2010) menemukan bahwa 10,4% ayah mengalami depresi sejak trimester pertama kehamilan hingga satu tahun setelah kelahiran.

### Kapan depresi setelah kelahiran paling rawan dialami ayah?

Estimasi tertinggi ditemukan pada 3–6 bulan setelah kelahiran, yaitu 25,6%. Namun, angka tersebut berasal dari lebih sedikit studi sehingga perlu dipandang sebagai sinyal bahaya, bukan angka pasti.

### Apa tanda depresi pada ayah baru?

Tandanya dapat berupa mudah marah, menarik diri, sengaja pulang terlambat, bermain game atau menggulir HP berjam-jam, serta lebih banyak merokok atau minum. Keluhan fisik seperti sakit kepala, gangguan pencernaan, dan susah tidur juga dapat muncul.

### Apa yang harus dilakukan jika ayah menunjukkan tanda depresi?

Ajak bicara dengan menyebut perubahan perilaku tanpa menuduh. Jika tanda-tanda terjadi hampir setiap hari selama dua minggu, bicaralah dengan dokter atau psikolog; EPDS juga bisa diminta saat kontrol ke puskesmas atau bidan.

### Apakah depresi ayah dapat memengaruhi anak?

Studi Ramchandani dan rekan di The Lancet (2005) menemukan risiko masalah emosi dan perilaku yang lebih tinggi pada usia prasekolah, terutama pada anak laki-laki. Penelitian lanjutan juga menemukan risiko depresi yang lebih tinggi saat mereka remaja.

