# Kenapa Bayar Pakai QRIS Bikin Belanja Keluarga Bocor Tanpa Terasa (Sains "Pain of Paying")

> QRIS bukan masalahnya. Rasa kehilangan yang menipis saat membayar bisa membuat transaksi kecil menumpuk tanpa terasa.

Sumber: https://familio.id/artikel/qris-pain-of-paying · Keuangan keluarga · 30 September 2026 · Familio

## Inti artikel

- Eksperimen Drazen Prelec dan Duncan Simester pada 2001 menemukan kelompok kartu kredit bersedia membayar sampai dua kali lipat dibanding kelompok tunai.
- Pain of paying adalah rasa sakit psikologis saat melepas uang, yang cenderung menipis ketika pembayaran terasa makin mulus.
- Menurut Bank Indonesia, transaksi QRIS pada semester pertama 2026 mencapai 12,55 miliar kali dengan nilai sekitar Rp600 triliun.
- Pengeluaran kecil dapat dikendalikan dengan jatah mingguan, mematikan top-up otomatis, memberi label pada uang, dan melakukan tinjauan mingguan.
- Mencatat seluruh transaksi QRIS di bawah Rp50.000 selama 7 hari membantu keluarga melihat kebocoran yang sebelumnya tidak terasa.

Coba ingat kapan terakhir Anda mengeluarkan lembar merah Rp100.000 dari dompet. Ada jeda sepersekian detik, jari terasa agak berat, lalu muncul suara kecil di kepala: "Beneran nih?"

Saat membayar Rp100.000 dengan QRIS, jeda itu nyaris hilang. Inilah jawaban intinya: pembayaran digital dapat menipiskan *pain of paying*, yaitu rasa sakit psikologis ketika melepas uang, sehingga transaksi kecil lebih mudah dilakukan dan pengeluaran keluarga bisa menumpuk tanpa terasa.

QRIS bukan sumber masalahnya. Teknologinya aman, cepat, inklusif, dan membantu UMKM. Yang perlu dijaga adalah kebiasaan kita, sebab otak belum beradaptasi dengan kecepatan pembayaran yang hanya membutuhkan angkat HP, pindai, lalu selesai.

## Mengapa bayar pakai QRIS terasa lebih ringan?

Tahun 2001, dua profesor MIT, Drazen Prelec dan Duncan Simester, melelang tiket pertandingan basket yang sudah *sold out*. Transaksinya sungguhan, bukan simulasi. Separuh peserta diberi tahu bahwa mereka harus membayar tunai, sedangkan separuh lainnya harus memakai kartu kredit.

Tiketnya sama. Pertandingannya sama. Kursinya juga sama.

Studi Prelec dan Simester yang dipublikasikan di jurnal Marketing Letters menemukan bahwa kelompok kartu kredit bersedia membayar sampai dua kali lipat dibanding kelompok tunai. Efeknya bisa mencapai 100%.

Para peneliti menyebut fenomena ini *pain of paying*. Uang tunai terasa menyakitkan karena Anda melihat lembar demi lembar berpindah tangan. Pembayaran digital mengurangi rasa kehilangan tersebut. Ketika rasa sakitnya menipis, rem untuk mempertimbangkan pembelian juga ikut melemah.

Riset-riset lanjutan menemukan pola yang sama pada pembayaran mobile dan paylater. Semakin mulus cara membayar, semakin tipis rasa kehilangan yang dirasakan.

![Orang tua menimbang rasa kehilangan antara pembayaran tunai dan QRIS.](https://familio.id/media/articles/01a0fc97a56270998ee50770cd9e6d60.jpg)

## Seberapa besar penggunaan QRIS di Indonesia?

Menurut Bank Indonesia, transaksi QRIS pada semester pertama 2026 mencapai 12,55 miliar kali, sekitar dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Nilainya sekitar Rp600 triliun. Jumlah penggunanya lebih dari 66 juta orang, dengan hampir 45 juta merchant.

Angka tersebut memperlihatkan betapa dekatnya QRIS dengan kehidupan sehari-hari. Indonesia seperti laboratorium raksasa untuk mengamati apa yang terjadi ketika pembayaran menjadi sangat cepat dan praktis.

Dulu, belanja kecil memiliki "biaya gesekan". Anda perlu mencari uang pas, menunggu kembalian, dan melihat isi dompet menipis. Sekarang, prosesnya selesai dalam beberapa detik.

Kopi Rp28.000. Parkir Rp5.000. Jajan anak di minimarket Rp47.000. Gorengan Rp10.000. Tidak ada satu pun yang terasa besar jika dilihat sendiri-sendiri.

Namun, jumlahnya dapat mengejutkan setelah 30 hari. Banyak keluarga kaget ketika pertama kali melihat total transaksi kecil mereka menyentuh Rp1,5 sampai Rp3 juta sebulan. Uang itu tidak pernah terasa keluar, tetapi benar-benar meninggalkan rekening.

## Bagaimana cara mencegah belanja QRIS bocor?

Anda tidak perlu kembali sepenuhnya ke uang tunai. Saran "pakai cash saja" terasa naif untuk kehidupan pada 2026. Pilihan yang lebih masuk akal adalah menciptakan kembali sedikit gesekan sebelum dan sesudah membayar.

### Pisahkan uang jajan harian

Gunakan dompet digital khusus untuk jajan harian, lalu isi hanya sebesar jatah mingguan. Saat saldonya habis, jatahnya juga habis. Batas ini menggantikan tanda fisik berupa dompet yang mulai menipis.

### Matikan top-up otomatis

Top-up otomatis membuat saldo kembali tersedia tanpa keputusan sadar. Inilah cara paling halus untuk membuat anggaran terasa seolah tidak pernah ada. Isi ulang secara manual agar Anda sempat melihat sisa jatah dan memutuskan apakah perlu menambahnya.

### Beri nama pada uang

Riset tentang *mental accounting* menunjukkan bahwa uang yang memiliki label lebih jarang dipakai sembarangan. Nama "jatah jajan minggu ini" memberi batas yang lebih jelas daripada sekadar "saldo".

### Tinjau transaksi setiap minggu

Satu bulan terlalu panjang untuk mengingat 80 transaksi kecil. Seminggu sekali, buka daftar transaksi dan ajukan satu pertanyaan: "Mana yang besok tidak akan saya ulangi?"

Tujuannya bukan menyesali setiap pembelian. Anda sedang mencari pola, seperti pengeluaran yang berulang karena praktis, bosan, atau tidak sempat berpikir.

### Terapkan jeda 10 detik

Tentukan angka yang memicu jeda sebelum Anda memindai QRIS, misalnya Rp150.000. Selama 10 detik, tanyakan dalam hati: "Kalau ini harus dibayar pakai uang merah dari dompet, masih mau?"

Jeda singkat itu tidak melarang Anda membeli. Fungsinya hanya mengembalikan momen pertimbangan yang dahulu hadir secara alami saat menggunakan uang tunai.

**Cek diri: Sudahkah QRIS Anda punya rem?**

- [ ] Memisahkan dompet digital untuk jajan harian
- [ ] Mengisi saldo sesuai jatah mingguan
- [ ] Mematikan top-up otomatis
- [ ] Memberi nama pada jatah uang
- [ ] Meninjau transaksi setiap minggu
- [ ] Menerapkan jeda 10 detik di atas batas tertentu
- [ ] Membahas total transaksi bersama pasangan

## Tamparan kecilnya

Perusahaan pembayaran digital menghabiskan miliaran rupiah untuk membuat Anda merasa bahwa membayar itu tidak sakit. Itu tugas mereka. Tugas Anda adalah mengembalikan sedikit rasa sakit tersebut, cukup agar Anda berpikir dua kali sebelum menekan tombol bayar.

Transaksi kecil bukan musuh. Masalah muncul ketika puluhan keputusan kecil lewat tanpa disadari, lalu keluarga baru melihat dampaknya saat rekening sudah menipis.

## Coba sekarang di Familio

Selama 7 hari ke depan, catat setiap transaksi QRIS di bawah Rp50.000 pada tab Uang, sekecil apa pun. Pada hari ketujuh, lihat totalnya bersama pasangan. Angka itu biasanya menjadi percakapan uang paling jujur yang pernah Anda lakukan.

*Sumber: Prelec & Simester (2001), Marketing Letters; Kontan, data QRIS Bank Indonesia semester I 2026*

## Pertanyaan yang sering diajukan

### Mengapa QRIS bisa membuat belanja terasa lebih ringan?

Pembayaran QRIS mengurangi momen ketika Anda melihat uang berpindah tangan. Akibatnya, pain of paying atau rasa sakit psikologis saat melepas uang dapat menipis, sehingga keputusan membeli terasa lebih mudah.

### Apakah memakai QRIS pasti membuat boros?

Tidak. QRIS adalah teknologi yang aman, cepat, inklusif, dan membantu UMKM. Risiko muncul ketika kemudahan membayar membuat transaksi kecil dilakukan berulang kali tanpa sempat dipertimbangkan atau ditinjau.

### Bagaimana cara mengontrol pengeluaran QRIS harian?

Pisahkan dompet digital untuk jajan, isi sesuai jatah mingguan, dan matikan top-up otomatis. Beri nama pada jatah tersebut, lalu tinjau daftar transaksi setiap minggu agar polanya terlihat.

### Berapa lama transaksi QRIS perlu dicatat?

Mulailah dengan mencatat setiap transaksi QRIS di bawah Rp50.000 selama 7 hari. Pada hari ketujuh, jumlahkan dan tinjau hasilnya bersama pasangan.

### Apa yang perlu dilakukan sebelum membayar QRIS?

Untuk transaksi di atas batas yang Anda tentukan, misalnya Rp150.000, ambil jeda 10 detik. Tanyakan apakah Anda masih ingin membeli jika harus membayarnya dengan uang merah dari dompet.

