# Tantrum Bukan Kenakalan: Apa yang Terjadi di Otak Anak Saat Ia Meledak

> Tantrum bukan berarti anak nakal. Kenali apa yang terjadi di otaknya, cara merespons, dan pemicu yang dapat Anda cegah.

Sumber: https://familio.id/artikel/tantrum-otak-anak · Pengasuhan · 13 September 2026 · Familio

## Inti artikel

- Saat tantrum, otak anak sedang kewalahan sehingga ia belum mampu berpikir logis seperti orang dewasa.
- Korteks prefrontal yang membantu mengendalikan diri berkembang sangat lambat dan baru matang sepenuhnya pada pertengahan usia 20-an.
- Hadapi tantrum dengan tiga langkah: tenangkan diri, hubungkan diri dengan anak, lalu pertahankan batas.
- Lapar, lelah, transisi mendadak, dan terlalu banyak rangsangan dapat memicu tantrum.
- Catatan tantrum selama dua minggu dapat membantu orang tua melihat pola pemicunya.

Supermarket, pukul 7 malam. Antrean kasir panjang. Anak Anda yang berusia 3 tahun tiba-tiba menjatuhkan diri ke lantai, menjerit, dan menendang karena tidak dibelikan permen di dekat kasir.

Semua mata memandang. Anda merasa malu, marah, dan tidak berdaya. Namun, anak Anda kemungkinan besar bukan sedang nakal. **Otaknya sedang kewalahan, sehingga ia belum mampu mengendalikan emosi dan berpikir logis seperti orang dewasa.**

Ada yang menatap dengan kasihan. Ada pula yang menghakimi. Mungkin terdengar bisikan, "Anaknya manja banget." Di kepala Anda sendiri muncul pertanyaan, "Kenapa anakku nakal sekali?"

Memahami apa yang terjadi di otak anak tidak berarti Anda harus menuruti semua keinginannya. Pemahaman ini membantu Anda merespons ledakan emosi dengan lebih tenang, lalu tetap memasang batas yang jelas.

## Apa yang terjadi di otak anak saat tantrum?

Psikiater anak Daniel Siegel, penulis buku *The Whole-Brain Child*, memakai perumpamaan otak sebagai rumah dua lantai:

- **Lantai bawah** adalah bagian otak yang lebih primitif. Bagian ini mengurus emosi kuat, naluri, dan reaksi cepat seperti marah, takut, serta "lawan atau lari". Lantai bawah sudah cukup aktif sejak bayi.
- **Lantai atas** mengurus kemampuan berpikir, merencanakan, menahan diri, mempertimbangkan akibat, dan menenangkan emosi. Bagian ini, terutama korteks prefrontal, berkembang sangat lambat dan baru matang sepenuhnya pada pertengahan usia 20-an.

Pada anak balita, "tangga" yang menghubungkan kedua lantai tersebut masih sangat rapuh. Ketika emosi besar datang, lantai bawah dapat mengambil alih. Pemicunya bisa berupa kecewa karena tidak mendapat permen, lelah, lapar, atau suasana yang terlalu ramai.

Lantai atas yang seharusnya mampu berkata, "Tenang, nanti juga dapat permen di rumah," belum cukup kuat untuk menahan ledakan itu. Daniel Siegel menyebut kondisi ini sebagai "flipping the lid", yaitu saat tutup otak seolah terbuka. Dalam keadaan tersebut, anak secara harfiah tidak mampu berpikir logis.

![Otak anak digambarkan sebagai rumah dua lantai dengan tangga yang belum selesai.](https://familio.id/media/articles/01a0fc9937ad70d28ac1ce4e137e6769.jpg)

## Mengapa nasihat tidak mempan saat anak tantrum?

Saat anak sedang tantrum, nasihat Anda ditujukan kepada lantai atas, padahal yang sedang bekerja adalah lantai bawah. Kalimat seperti, "Kamu kan sudah besar, malu dong dilihat orang," membawa pesan logis kepada otak yang saat itu tidak bisa memproses logika.

Berteriak juga tidak membantu. Ketika orang tua ikut meninggikan suara, anak menerima sinyal bahaya tambahan. Lantai bawahnya justru semakin panik.

Karena itu, tujuan pertama Anda bukan memberi ceramah atau memaksa anak segera memahami alasan. Bantu tubuh dan emosinya lebih tenang terlebih dahulu. Setelah itu, barulah lantai atasnya lebih siap diajak berbicara.

## Bagaimana cara menghadapi anak tantrum?

Ada tiga langkah yang dapat Anda lakukan. Urutannya penting karena anak perlu merasa aman sebelum mampu menerima arahan.

### 1. Tenangkan diri Anda terlebih dahulu

Anak meminjam ketenangan dari orang dewasa di sekitarnya. Para ahli menyebut proses ini ko-regulasi. Artinya, ketenangan Anda membantu anak perlahan mengatur emosinya.

Anda sulit menenangkan anak jika "tutup" otak Anda sendiri juga sedang terbuka. Tarik napas panjang. Turunkan suara. Beri diri Anda waktu sejenak sebelum bereaksi.

### 2. Hubungkan diri, baru arahkan

Turunkan badan hingga sejajar dengan mata anak. Lalu namai perasaannya dengan kalimat sederhana, misalnya, "Kamu kecewa banget ya, pengen permen itu."

Menamai emosi membantu mengaktifkan kembali lantai atas. Jika anak bersedia, Anda juga dapat memeluknya. Jika ia belum mau, tetaplah berada di dekatnya dengan sikap tenang.

### 3. Pertahankan batas

Memahami perasaan anak tidak sama dengan menuruti keinginannya. Anda dapat berkata, "Mama ngerti kamu kecewa. Tapi hari ini kita nggak beli permen."

Batasnya tidak berubah, meski perasaannya tetap diterima. Jika anak selalu dituruti setiap kali tantrum, ia belajar bahwa tantrum adalah cara paling efektif untuk memperoleh sesuatu.

Setelah anak tenang, bicarakan apa yang terjadi menggunakan kalimat sederhana. Pada saat itulah lantai atasnya sudah lebih siap mendengar.

## Bagaimana cara mencegah tantrum anak?

Banyak tantrum dapat dicegah dengan membaca polanya. Perhatikan apa yang terjadi sebelum ledakan emosi, bukan hanya perilaku anak saat ia sudah menangis atau berteriak.

- **Lapar dan lelah adalah pemicu nomor satu.** Hindari mengajak anak berbelanja tepat pada jam tidur siangnya.
- **Transisi mendadak.** Beri aba-aba sebelum berganti kegiatan, misalnya, "Lima menit lagi kita pulang ya."
- **Terlalu banyak rangsangan.** Tempat yang ramai, bising, dan terang dapat membuat otak anak cepat penuh.

Catatan sederhana membantu Anda membedakan kejadian sesekali dari pola yang berulang. Tulis waktu, tempat, dan kejadian sebelumnya agar Anda dapat menyiapkan langkah pencegahan yang sesuai.

**Cek diri: Kenali pemicu tantrum anak**

- [ ] Anak sedang lapar.
- [ ] Anak sedang lelah atau melewati jam tidur siang.
- [ ] Anak menghadapi pergantian kegiatan secara mendadak.
- [ ] Tempatnya ramai, bising, atau terang.
- [ ] Anak kecewa karena keinginannya tidak terpenuhi.
- [ ] Saya ikut meninggikan suara.
- [ ] Saya sudah mencatat waktu dan tempat kejadiannya.
- [ ] Saya sudah mencatat apa yang terjadi sebelumnya.

## Kapan tantrum perlu dikonsultasikan?

Tantrum pada usia balita adalah hal yang umum. Namun, konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak jika tantrum sangat sering dan sangat panjang, membahayakan anak atau orang lain, masih sangat sering terjadi pada usia sekolah, atau disertai kemunduran perkembangan lainnya.

Anda tidak perlu menunggu sampai benar-benar kewalahan untuk membicarakan kekhawatiran tersebut. Ceritakan pola yang Anda lihat agar dokter anak atau psikolog anak mendapat gambaran tentang kejadiannya.

## Tamparan kecilnya

Anda meminta anak berusia 3 tahun mengendalikan emosinya dengan tenang. Pertanyaannya, apakah Anda, dengan otak dewasa yang sudah matang, selalu bisa melakukannya saat macet, lelah, dan lapar?

## Coba sekarang di Familio

Setiap kali anak tantrum, buat catatan singkat di Jurnal Familio: jam berapa, di mana, dan apa yang terjadi sebelumnya. Setelah dua minggu, biasanya polanya terlihat jelas. Dari sana, Anda dapat berusaha mencegah tantrum sebelum terjadi, bukan hanya memadamkannya.

*Rujukan: Daniel J. Siegel & Tina Payne Bryson, The Whole-Brain Child (2011). Artikel ini tidak menggantikan konsultasi dengan dokter anak atau psikolog.*

## Pertanyaan yang sering diajukan

### Apakah anak tantrum berarti ia nakal atau manja?

Tidak selalu. Saat tantrum, otak anak dapat sedang kewalahan dan belum mampu memproses logika. Memahami keadaan ini bukan berarti menuruti keinginannya, karena orang tua tetap perlu menjaga batas.

### Mengapa anak tidak mau mendengarkan nasihat saat tantrum?

Saat tantrum, bagian otak yang menangani emosi kuat sedang mengambil alih. Bagian yang membantu anak berpikir, menahan diri, dan mempertimbangkan akibat belum siap menerima nasihat logis.

### Apa yang harus dilakukan saat anak tantrum?

Tenangkan diri Anda terlebih dahulu, lalu hubungkan diri dengan anak dan namai perasaannya. Setelah itu, pertahankan batas dengan kalimat sederhana dan bicarakan kejadiannya ketika anak sudah tenang.

### Apa saja pemicu tantrum pada anak?

Pemicu yang perlu diperhatikan antara lain lapar, lelah, transisi mendadak, serta tempat yang terlalu ramai, bising, dan terang. Catat waktu, tempat, dan kejadian sebelum tantrum untuk menemukan polanya.

### Kapan tantrum anak perlu dibawa ke dokter atau psikolog?

Konsultasikan dengan dokter anak atau psikolog anak jika tantrum sangat sering dan sangat panjang, membahayakan anak atau orang lain, masih sangat sering terjadi pada usia sekolah, atau disertai kemunduran perkembangan lainnya.

