# THR, Bonus, Uang Kaget: Kenapa Otak Kita Menghabiskannya Lebih Cepat daripada Gaji

> THR dan bonus mudah lenyap karena otak menganggapnya uang ekstra. Nama dan rencana sebelum uang cair dapat mengubah cara Anda membelanjakannya.

Sumber: https://familio.id/artikel/thr-bonus-mental-accounting · Keuangan keluarga · 25 September 2026 · Familio

## Inti artikel

- Mental accounting membuat uang gaji terasa serius, sedangkan THR, bonus, hadiah, dan cashback terasa sebagai uang ekstra untuk dinikmati.
- Eksperimen Epley, Mak, dan Idson pada 2006 menemukan kelompok yang menerima uang sebagai bonus membelanjakan rata-rata $11,16, sedangkan kelompok pengembalian hanya $2,43.
- Uang kaget dapat dibagi dengan aturan 50/30/20, yaitu 50% untuk tujuan besar, 30% untuk kebutuhan terencana, dan 20% untuk dinikmati.
- Memberi nama spesifik dan memindahkan bagian tujuan besar pada hari uang diterima membantu menjaga THR atau bonus dari belanja spontan.
- Pembelian besar sebaiknya ditunda 7 hari agar kebutuhan nyata dapat dibedakan dari euforia sesaat.

Pak Hendra tidak pernah memakai gajinya untuk membeli HP baru. Gajinya sudah punya tugas: membayar cicilan, sekolah, dan kebutuhan dapur. Namun, ketika bonus tahunannya sebesar Rp12 juta cair bulan lalu, hanya butuh tiga minggu untuk mengubah uang itu menjadi HP baru, sepatu anak, makan malam keluarga di restoran, dan keputusan untuk “sekalian” mengganti ban mobil.

Sisanya? Pak Hendra sendiri tidak yakin. Ia bukan sekadar boros. Otaknya bekerja seperti otak manusia pada umumnya, yaitu memperlakukan gaji dan uang kaget secara berbeda. **Itulah sebabnya THR atau bonus dapat habis lebih cepat daripada gaji, meskipun nilainya sama-sama uang.**

## Mengapa THR dan bonus terasa berbeda dari gaji?

Secara ekonomi, Rp1 juta dari gaji identik dengan Rp1 juta dari bonus. Namun, Richard Thaler, pemenang Nobel Ekonomi 2017, menunjukkan bahwa manusia menyimpan uang dalam “laci-laci mental” yang berbeda. Ia menyebut kebiasaan ini sebagai mental accounting.

Bayangkan kepala Anda memiliki beberapa laci. Gaji masuk ke laci “serius”, sehingga langsung dikaitkan dengan biaya hidup. Bonus, THR, hadiah, cashback, atau hasil menjual barang bekas masuk ke laci “ekstra”, sehingga terasa lebih bebas untuk dinikmati.

Perbedaan laci itu memengaruhi keputusan. Ketika uang dianggap ekstra, aturan hemat yang biasanya Anda terapkan pada gaji seolah tidak berlaku. Pembelian yang sebelumnya terasa terlalu mahal dapat mendadak terlihat pantas.

## Benarkah satu kata bisa membuat orang lebih boros?

Nicholas Epley dari University of Chicago dan rekannya menguji pengaruh penamaan uang melalui eksperimen sederhana yang dipublikasikan di Journal of Behavioral Decision Making pada 2006. Para peserta diberi uang $25.

Separuh peserta diberi tahu bahwa uang tersebut adalah bonus. Separuh lainnya diberi tahu bahwa uang itu merupakan pengembalian atau rebate, yaitu uang mereka sendiri yang dikembalikan. Uangnya sama dan jumlahnya juga sama.

Setelah itu, peserta mendapat kesempatan berbelanja di toko laboratorium. Hasilnya menunjukkan perbedaan besar:

- Kelompok “bonus” menghabiskan rata-rata $11,16.
- Kelompok “pengembalian” hanya menghabiskan $2,43.

Kelompok “bonus” membelanjakan hampir lima kali lipat, hanya karena satu kata. Eksperimen Epley dan rekannya memperlihatkan bahwa cara Anda menamai uang dapat menentukan ke mana uang tersebut pergi.

Jika THR disebut “rezeki tambahan”, uang itu cenderung diperlakukan seperti tambahan yang boleh segera dihabiskan. Jika sejak awal diberi nama “uang sekolah Kakak” atau “pelunasan cicilan”, uang yang sama masuk ke laci mental dengan tugas yang lebih jelas.

## Mengapa uang kaget rawan habis saat Lebaran?

THR datang bersamaan dengan musim belanja paling agresif dalam setahun. Ada diskon Ramadan, baju Lebaran, biaya mudik, angpao, dan oleh-oleh yang sama-sama meminta tempat dalam anggaran.

Dua kekuatan pun bertemu. Uang terasa sebagai sesuatu yang ekstra, sementara lingkungan terus mendorong Anda untuk berbelanja. Akibatnya, THR dapat habis sebelum Lebaran selesai. Beberapa keluarga bahkan menambal kekurangannya dengan paylater.

![Keluarga Indonesia mengarahkan uang ke laci kebutuhan dan laci belanja.](https://familio.id/media/articles/01a0fc97b60d76fca7e2f0ed691a1c14.jpg)

Masalahnya bukan hanya banyaknya kebutuhan. Tanpa keputusan yang dibuat lebih awal, setiap pengeluaran terlihat masuk akal saat dilihat sendiri-sendiri. Baru setelah saldo menyusut, keluarga menyadari bahwa uang tersebut tidak pernah mendapat tugas yang jelas.

## Bagaimana cara mengatur THR, bonus, dan uang kaget?

Kuncinya adalah membuat keputusan sebelum uang masuk. Saat saldo sudah terlihat di rekening, rasa memiliki uang ekstra dapat mengambil alih rencana yang masih samar.

### 1. Ganti nama uang sebelum cair

Jangan hanya menyebutnya “bonus”. Beri nama berdasarkan tujuan, seperti “dana tahun depan”, “uang sekolah Kakak”, atau “pelunasan cicilan”. Riset Epley menunjukkan bahwa kata yang dipakai untuk membingkai uang memang penting.

Nama yang spesifik membuat Anda melihat tujuan setiap kali ingin mengambil uang tersebut. Dengan begitu, pertanyaannya bukan lagi “Bonus ini mau dipakai untuk apa?”, melainkan “Apakah saya mau mengambil uang sekolah Kakak untuk pembelian ini?”

### 2. Gunakan aturan 50/30/20 untuk uang kaget

Anda dapat membagi uang kaget dengan pola berikut:

| Bagian | Alokasi | Penggunaan |
|---|---|---|
| Tujuan besar | 50% | Utang, dana darurat, atau pendidikan |
| Kebutuhan terencana | 30% | Kebutuhan yang sudah disepakati sebelum uang cair |
| Dinikmati | 20% | Hadiah yang terukur tanpa rasa bersalah |

Angkanya boleh disesuaikan. Hal yang paling penting adalah menyepakatinya sebelum uang cair, bukan ketika daftar belanja sudah terbentuk.

### 3. Pindahkan bagian tujuan besar pada hari yang sama

Begitu THR atau bonus masuk, segera pindahkan bagian untuk tujuan besar. Uang yang menginap di rekening utama akan pelan-pelan “terpakai”, terutama ketika bercampur dengan uang belanja harian.

Perpindahan ini menjalankan keputusan yang sudah dibuat sebelumnya. Anda tidak perlu berulang kali menimbang apakah uang tersebut masih boleh dipakai untuk hal lain.

### 4. Sisakan bagian yang boleh dinikmati

Jangan menghapus seluruh bagian untuk bersenang-senang. Aturan yang terlalu ketat justru dapat membuat rencana jebol. Otak membutuhkan hadiah, jadi berikan hadiah yang terukur.

Dengan alokasi yang jelas, Anda dapat menikmati sebagian uang tanpa rasa bersalah sekaligus melindungi tujuan keluarga. Batasnya sudah ditentukan sebelum suasana belanja memengaruhi keputusan.

### 5. Tunda pembelian besar selama 7 hari

Ketika ingin membeli HP atau barang besar lain, tunggu 7 hari. HP baru yang masih terasa perlu setelah 7 hari biasanya memang perlu. Keinginan yang menghilang biasanya hanya lahir dari euforia.

Jeda ini bukan larangan membeli. Jeda memberi Anda kesempatan untuk memeriksa apakah pembelian tersebut sesuai dengan nama dan pembagian uang yang sudah disepakati.

**Cek diri: Sudah Siap Menerima Uang Kaget?**

- [ ] Memberi uang nama berdasarkan tujuan yang spesifik
- [ ] Menyepakati pembagian uang sebelum dana cair
- [ ] Menentukan 50% untuk tujuan besar
- [ ] Menentukan 30% untuk kebutuhan terencana
- [ ] Menentukan 20% untuk dinikmati
- [ ] Menyiapkan pemindahan bagian tujuan besar pada hari yang sama
- [ ] Bersedia menunda pembelian besar selama 7 hari

## Tamparan kecilnya

Kalau setiap tahun Anda menerima THR dan bonus, tetapi posisi keuangan keluarga tidak pernah benar-benar naik kelas, masalahnya bukan penghasilan. Masalahnya ada pada laci mental tempat Anda menaruh uang itu.

Uang kaget tidak otomatis memperkuat keuangan keluarga. Uang itu baru bekerja untuk keluarga ketika Anda memberinya nama, porsi, dan tujuan sebelum kesempatan berbelanja datang.

## Coba sekarang di Familio

Sebelum bonus atau THR berikutnya cair, buat target tabungan di Familio dengan nama yang spesifik, misalnya “DP rumah” atau “Kuliah Adik”. Tentukan berapa persen uang kaget yang langsung masuk ke sana. Rencana yang dibuat sebelum uang datang jauh lebih kuat daripada niat baik setelah uang datang.

*Sumber: Epley, Mak & Idson (2006), Journal of Behavioral Decision Making; Yale School of Management, ringkasan temuan*

## Pertanyaan yang sering diajukan

### Kenapa THR dan bonus lebih cepat habis daripada gaji?

Mental accounting membuat orang menempatkan gaji dalam laci “serius”, sedangkan THR dan bonus masuk ke laci “ekstra”. Karena terasa sebagai tambahan, aturan hemat yang biasanya berlaku pada gaji dapat melemah.

### Bagaimana cara agar THR tidak cepat habis?

Beri THR nama yang spesifik sebelum cair, bagi sesuai tujuan, lalu pindahkan bagian tujuan besar pada hari yang sama. Sisakan bagian terukur untuk dinikmati agar rencana tidak terasa terlalu ketat.

### Bagaimana pembagian THR dengan aturan 50/30/20?

Alokasikan 50% untuk tujuan besar seperti utang, dana darurat, atau pendidikan. Gunakan 30% untuk kebutuhan yang sudah direncanakan dan 20% untuk dinikmati tanpa rasa bersalah. Angkanya boleh disesuaikan asalkan disepakati sebelum uang cair.

### Apakah sebagian THR boleh dipakai untuk bersenang-senang?

Boleh. Bagian untuk dinikmati sebaiknya tetap ada dan dibuat terukur, karena aturan yang terlalu ketat justru dapat membuat rencana jebol.

### Berapa lama sebaiknya menunda pembelian besar dari bonus?

Tunda pembelian besar selama 7 hari. Jika setelah 7 hari barang itu masih terasa perlu, kebutuhannya lebih layak dipertimbangkan. Jika keinginannya hilang, kemungkinan itu hanya euforia.

