Lewati ke isi
Familio

Pasangan

Menikah dengan Keluarganya: Batas Sehat dengan Mertua Tanpa Jadi Menantu Durhaka

Konflik dengan mertua sering membesar saat pasangan tidak kompak. Pelajari batas yang menjaga pernikahan tanpa mengurangi rasa hormat.

Tim Familio 6 menit baca

Pasangan muda menyambut orang tua di depan rumah dengan salim dan membawa makanan
Daftar isi
  1. Apa hasil riset 26 tahun tentang hubungan dengan mertua?
  2. Mengapa konflik dengan mertua sering menjadi konflik pasangan?
  3. Siapa yang sebaiknya menyampaikan batas kepada mertua?
  4. Batas sehat apa yang perlu disepakati dengan keluarga besar?
  5. Bagaimana membicarakan batas tanpa menyakiti mertua?
  6. Tamparan kecilnya
  7. Coba sekarang di Familio

Di Indonesia, ada pepatah tak tertulis: "Menikah itu bukan cuma dengan orangnya, tapi dengan keluarganya." Benar sekali. Mertua mungkin datang tanpa kabar, memberi saran cara menggendong bayi setiap hari, atau bertanya "kapan nambah anak?" di setiap acara keluarga.

Namun, batas sehat dengan mertua bukan berarti menjauh atau menjadi menantu durhaka. Kuncinya adalah pasangan berdiri sebagai satu tim, mengambil keputusan inti berdua, lalu masing-masing menyampaikan batas kepada orang tua kandungnya sendiri dengan tetap hangat dan hormat.

Masalah mulai terasa lebih rumit ketika keputusan rumah tangga sudah diketahui seluruh keluarga besar sebelum Anda dan pasangan selesai membahasnya. Pada saat seperti ini, yang dibutuhkan bukan pertengkaran tentang siapa yang salah, melainkan kesepakatan tentang siapa yang berhak memutuskan dan bagaimana menyampaikannya.

Apa hasil riset 26 tahun tentang hubungan dengan mertua?

Terri Orbuch, peneliti dari University of Michigan, mengikuti ratusan pasangan menikah selama lebih dari dua dekade dalam studi longitudinalnya. Studi longitudinal adalah penelitian yang mengamati orang yang sama dalam jangka panjang. Salah satu temuannya tentang mertua terasa mengejutkan karena hasilnya berbeda bagi suami dan istri.

  • Ketika suami merasa dekat dengan orang tua istrinya, risiko perceraian dalam 16 tahun berikutnya 20% lebih rendah.

  • Ketika istri merasa dekat dengan orang tua suaminya, risiko perceraian justru 20% lebih tinggi.

Mengapa hasilnya bisa berlawanan? Menurut penjelasan Orbuch, bagi banyak perempuan, hubungan dekat dengan mertua lebih mudah berubah menjadi campur tangan. Nasihat dan komentar tentang cara menjadi istri dan ibu dapat terasa sebagai penilaian terhadap identitasnya.

Bagi suami, kedekatan dengan mertua lebih sering dirasakan sebagai dukungan. Jadi, kedekatan itu sendiri bukan masalah. Cara kedekatan tersebut hadir dalam kehidupan rumah tangga yang dapat membuat pengalaman suami dan istri berbeda.

Studi ini dilakukan di Amerika, sedangkan budaya keluarga di Indonesia jauh lebih erat. Meski begitu, polanya mudah dikenali di banyak rumah tangga kita: perhatian dapat terasa menguatkan, tetapi juga dapat terasa menekan ketika masuk terlalu jauh ke wilayah keputusan pasangan.

Kuis: Seberapa paham Anda tentang batas dengan mertua?

  1. Siapa yang sebaiknya menyampaikan batas kepada orang tua?

    • Menantu yang merasa terganggu
    • Anak kandung dari orang tua tersebut
    • Anggota keluarga yang paling tua
  2. Apa yang ditemukan dalam riset Terri Orbuch ketika suami dekat dengan orang tua istrinya?

    • Risiko perceraian 20% lebih rendah dalam 16 tahun berikutnya
    • Risiko perceraian 20% lebih tinggi
    • Tidak ada perbedaan bagi pasangan
  3. Kapan perbedaan pendapat pasangan sebaiknya diselesaikan?

    • Saat semua keluarga berkumpul
    • Melalui orang tua masing-masing
    • Berdua, bukan di depan mertua

Mengapa konflik dengan mertua sering menjadi konflik pasangan?

Dalam banyak konflik menantu dan mertua, masalah terbesarnya justru bukan mertua. Masalah terbesarnya adalah pasangan yang tidak berdiri di tengah dan tidak membuat pasangannya merasa dilindungi.

Ketika istri merasa tertekan oleh mertua, lalu suami menjawab, "Ya udah sih, namanya juga orang tua," pesan yang sampai kepada istri adalah, "Kamu sendirian di sini." Rasa sendirian itulah yang paling merusak, bukan hanya komentar dari mertuanya.

Hal serupa dapat terjadi ketika salah satu pasangan membiarkan keluarganya mengkritik pasangannya tanpa memberi tanggapan. Diam mungkin dimaksudkan untuk menghindari keributan, tetapi dapat dibaca sebagai persetujuan atau ketidakpedulian.

Pasangan Indonesia berdiri kompak di tengah keluarga besar.
Pasangan yang berdiri sebagai satu tim membuat batas keluarga terasa jelas tanpa memutus kehangatan.

Berdiri bersama bukan berarti membela semua tindakan pasangan secara membabi buta. Artinya, Anda tidak membiarkan perbedaan di antara kalian menjadi tontonan keluarga besar. Anda membahas persoalannya berdua dan menyampaikan keputusan sebagai hasil kesepakatan bersama.

Siapa yang sebaiknya menyampaikan batas kepada mertua?

Prinsip yang sering dipakai konselor pernikahan adalah sederhana: masing-masing pasangan bertanggung jawab menyampaikan batas kepada orang tua kandungnya sendiri. Suami berbicara kepada orang tuanya, sedangkan istri berbicara kepada orang tuanya.

Alasannya, orang tua jauh lebih mudah menerima batas dari anak kandungnya. Kalimat, "Bu, kami mau memutuskan soal sekolah anak berdua dulu," dapat terasa berbeda tergantung siapa yang mengucapkannya.

Dari anak sendiri, kalimat itu lebih mudah dipahami sebagai bentuk kemandirian. Dari menantu, kalimat yang sama bisa terasa seperti penolakan. Karena itu, orang yang berbicara dan cara menyampaikannya sama pentingnya dengan isi batas tersebut.

Suami dan istri berbicara kepada orang tua masing-masing.
Batas lebih mudah diterima saat setiap pasangan berbicara kepada orang tua kandungnya sendiri.

Sebelum berbicara kepada orang tua, pasangan perlu menyepakati pesannya. Jangan sampai satu orang menetapkan batas, sementara yang lain diam-diam memberi izin berbeda. Ketidakkonsistenan seperti ini dapat membingungkan keluarga besar dan memicu konflik baru di dalam rumah.

Batas sehat apa yang perlu disepakati dengan keluarga besar?

Batas sehat tidak harus berupa aturan panjang. Mulailah dari wilayah yang paling sering menimbulkan ketegangan, lalu tentukan sikap bersama yang dapat dijalankan secara konsisten.

Keputusan inti dibahas berdua lebih dahulu

Keuangan, pengasuhan, dan tempat tinggal perlu diputuskan oleh pasangan. Keluarga besar boleh memberi masukan, tetapi keputusan akhir tetap berada di tangan Anda berdua.

Masalah rumah tangga tidak diceritakan saat sedang marah

Hindari membawa pertengkaran kepada orang tua masing-masing ketika emosi masih tinggi. Orang tua akan memaafkan anaknya, tetapi sering lebih sulit memaafkan menantunya. Cerita yang disampaikan saat marah juga dapat menetap dalam ingatan mereka setelah Anda dan pasangan berdamai.

Tampilkan satu suara di depan keluarga besar

Perbedaan pendapat diselesaikan di kamar, bukan di depan mertua. Jika belum ada kesepakatan, Anda dapat menunda jawaban sampai sempat berbicara berdua. Tidak semua pertanyaan keluarga harus dijawab saat itu juga.

Bicarakan kunjungan dan pembagian waktu

Sepakati seberapa sering berkunjung, Lebaran di mana, dan berapa lama menginap. Jadwal yang adil membantu mencegah perasaan bahwa salah satu keluarga selalu didahulukan. Kesepakatan ini juga membuat Anda tidak perlu mengulang perdebatan yang sama menjelang setiap kunjungan.

Tetap hormat dan hangat

Batas bukan tembok. Anda tetap dapat menelepon mertua, mengirim makanan, dan menanyakan kabar. Hubungan dengan batas yang jelas biasanya lebih hangat karena kekesalan tidak terus dipendam.

Cek diri: Cek kesiapan batas keluarga Anda

Centang kesepakatan yang sudah Anda dan pasangan miliki.

  • Kami membahas keputusan keuangan berdua lebih dahulu
  • Kami sepakat tentang batas campur tangan dalam pengasuhan
  • Kami tidak membawa pertengkaran kepada orang tua saat sedang marah
  • Kami tampil dengan satu suara di depan keluarga besar
  • Kami sudah membicarakan jadwal kunjungan
  • Kami sudah menyepakati pembagian waktu Lebaran
  • Masing-masing siap berbicara kepada orang tua kandungnya sendiri
  • Kami tetap menunjukkan perhatian kepada orang tua dan mertua

Bagaimana membicarakan batas tanpa menyakiti mertua?

Mulailah pembicaraan dari keputusan Anda sebagai pasangan, bukan dari tuduhan kepada orang tua. Kalimat "kami sudah sepakat" menegaskan bahwa keputusan itu lahir dari rumah tangga Anda, bukan semata-mata keinginan menantu.

Sampaikan batas secara singkat, jelas, dan sopan. Penjelasan yang terlalu panjang dapat terdengar seperti undangan untuk memperdebatkan keputusan. Setelah itu, tunjukkan kehangatan melalui tindakan yang tetap menghargai hubungan keluarga.

Jika orang tua belum langsung menerima, pasangan perlu mempertahankan pesan yang sama. Batas yang berubah setiap kali ada desakan akan sulit dipahami sebagai kesepakatan yang sungguh-sungguh.

Tamparan kecilnya

Berbakti kepada orang tua dan melindungi pernikahan sendiri bukan dua hal yang bertentangan. Yang sering keliru adalah anggapan bahwa menjaga batas berarti durhaka.

Pernikahan yang hancur karena campur tangan yang tidak dibatasi justru melukai orang tua juga. Menjaga batas berarti merawat hubungan agar rasa hormat tidak berubah menjadi kekesalan yang dipendam.

Coba sekarang di Familio

Duduk berdua dan sepakati tiga batas utama dengan keluarga besar masing-masing. Catat hasilnya di Jurnal keluarga, lalu masukkan jadwal kunjungan kepada orang tua dan mertua di kalender keluarga Familio agar keduanya mendapat waktu yang adil dan tidak muncul lagi perdebatan, "Kok ke rumah orang tuamu terus?"

Catat tiga batas utama yang Anda sepakati bersama pasangan di Jurnal keluarga Familio. Buka Jurnal

Sumber: WBUR, The Outsized Power of the Son-In-Law (2012), mengutip riset Terri Orbuch.

Pertanyaan yang sering diajukan

Bagaimana cara membuat batas sehat dengan mertua?

Sepakati lebih dahulu keputusan inti bersama pasangan, termasuk soal keuangan, pengasuhan, tempat tinggal, dan kunjungan. Setelah itu, masing-masing pasangan menyampaikan batas kepada orang tua kandungnya sendiri secara singkat, jelas, dan tetap hangat.

Apakah membatasi campur tangan mertua termasuk durhaka?

Menjaga batas tidak sama dengan tidak menghormati orang tua. Anda tetap dapat menjaga hubungan melalui perhatian dan komunikasi, sementara keputusan akhir rumah tangga tetap dibuat bersama pasangan.

Siapa yang harus menegur mertua saat batas dilanggar?

Masing-masing pasangan sebaiknya berbicara kepada orang tua kandungnya sendiri. Batas yang disampaikan oleh anak kandung lebih mudah dipahami sebagai kemandirian daripada penolakan dari menantu.

Apa yang harus dilakukan jika pasangan selalu membela orang tuanya?

Jelaskan bahwa persoalannya bukan memilih antara pasangan dan orang tua, melainkan memastikan Anda tidak merasa sendirian. Bicarakan batas yang dibutuhkan secara spesifik, lalu sepakati pesan yang akan disampaikan kepada keluarga.

Bagaimana membagi waktu kunjungan ke orang tua dan mertua?

Bicarakan frekuensi kunjungan, tempat merayakan Lebaran, dan lama menginap sebelum jadwal ditetapkan. Catat kesepakatan dalam kalender keluarga agar pembagiannya terlihat jelas dan dapat dijalankan secara adil.

Baca juga