Lewati ke isi
Familio

Pasangan

Empat Perusak Pernikahan Menurut Riset, dan yang Paling Berbahaya Justru Bukan Marah

Riset John Gottman menunjukkan empat pola komunikasi yang merusak pernikahan. Yang paling berbahaya bukan marah, melainkan merendahkan pasangan.

Tim Familio 6 menit baca

Suami istri bicara serius namun tenang di dapur rumah pada sore hari
Daftar isi
  1. Apa itu Four Horsemen dalam pernikahan?
  2. Mengapa merendahkan paling berbahaya bagi pernikahan?
  3. Bagaimana menghentikan empat pola perusak pernikahan?
  4. Tamparan kecilnya
  5. Coba sekarang di Familio

Banyak orang mengira pasangan yang sering berteriak adalah pasangan yang paling dekat dengan perceraian. Padahal, ada pasangan yang bertengkar keras lalu tertawa bersama sejam kemudian. Ada pula pasangan yang tidak pernah berteriak, tetapi percakapannya dipenuhi putaran bola mata, senyum sinis, dan kalimat, “Ya udahlah, namanya juga kamu.”

Menurut riset John Gottman, pasangan kedua justru lebih dalam bahaya. Ada empat pola komunikasi yang paling merusak, yaitu kritik, merendahkan, membela diri, dan membisu. Di antara keempatnya, yang paling berbahaya bukan kemarahan, melainkan sikap merendahkan pasangan.

Apa itu Four Horsemen dalam pernikahan?

Gottman menyebut empat pola komunikasi ini Four Horsemen of the Apocalypse, atau empat penunggang kuda kiamat. Menurut risetnya, pola-pola tersebut cenderung datang berurutan. Jika terus hadir dalam hubungan, keberadaannya menjadi tanda bahaya besar bagi masa depan pernikahan.

Keempat pola ini dapat muncul dalam percakapan yang tampaknya biasa. Karena itu, persoalannya bukan hanya seberapa keras Anda dan pasangan bertengkar. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara Anda berdua menyampaikan kekesalan, menerima keluhan, dan memperlakukan satu sama lain saat konflik.

1. Kritik menyerang karakter pasangan

Kritik bukan sekadar mengeluhkan perilaku tertentu. Kritik mengubah satu masalah menjadi penilaian terhadap karakter pasangan.

Keluhan berbunyi, “Aku kesal kamu nggak kabarin kalau pulang telat.” Kalimat itu menyebut perilaku yang mengganggu dan perasaan yang muncul. Kritik berbunyi, “Kamu tuh memang nggak pernah mikirin orang lain.” Fokusnya bergeser dari kejadian tertentu menjadi gambaran buruk tentang diri pasangan.

2. Merendahkan menghilangkan rasa hormat

Sikap merendahkan atau contempt dapat muncul sebagai sindiran, ejekan, julukan yang merendahkan, putaran bola mata, atau meniru ucapan pasangan dengan nada mengejek. Di balik semua bentuk itu, ada pesan yang sama: “Aku lebih baik darimu.”

Kadang bentuknya sangat halus. Tidak ada suara tinggi atau kata kasar yang terang-terangan. Namun, nada bicara dan ekspresi wajah tetap membuat pasangan merasa kecil serta tidak layak dihormati.

3. Membela diri membuat masalah berputar-putar

Membela diri atau defensiveness terjadi ketika setiap keluhan langsung dibalas dengan alasan atau serangan balik. Misalnya, “Aku telat karena macet. Lagian kamu juga kemarin telat.”

Jawaban itu mungkin terasa seperti cara melindungi diri. Namun, masalah awal tidak pernah benar-benar dibahas. Percakapan berubah menjadi lempar bola kesalahan, sementara kebutuhan yang hendak disampaikan pasangan tidak mendapat tempat.

4. Membisu membuat pasangan merasa menghadapi tembok

Membisu atau stonewalling berarti menarik diri sepenuhnya dari percakapan. Bentuknya bisa berupa diam, menatap HP, pergi ke kamar, atau hanya menjawab dengan satu kata.

Orang yang membisu mungkin ingin menghentikan konflik. Bagi pasangan yang masih berusaha bicara, sikap tersebut terasa seperti berbicara kepada tembok. Tidak ada kejelasan apakah percakapan akan dilanjutkan atau dibiarkan begitu saja.

Mengapa merendahkan paling berbahaya bagi pernikahan?

Dari keempat pola tersebut, Gottman menyebut contempt sebagai prediktor perceraian paling kuat. Kritik menyerang karakter, sedangkan contempt menyerang martabat. Pesan yang sampai kepada pasangan adalah bahwa dirinya tidak layak dihormati.

Sikap merendahkan jarang muncul tiba-tiba. Ia dapat tumbuh dari kekesalan kecil yang terus dipendam selama bertahun-tahun, lalu berubah menjadi rasa jijik yang halus. Pelakunya pun sering tidak sadar karena merasa “hanya bercanda” atau “memang begitu kenyataannya”.

Dalam keseharian kita, contempt dapat terdengar sangat biasa. Contohnya adalah membandingkan pasangan dengan suami atau istri orang lain, menceritakan kekurangannya di grup keluarga, atau menjadikan kebiasaannya bahan lelucon di depan teman-teman.

Pasangan Indonesia dipisahkan empat simbol pola komunikasi yang merusak.
Kritik, merendahkan, membela diri, dan membisu dapat menciptakan jarak meski tidak ada teriakan.

Canda tetap dapat melukai ketika pasangan dijadikan objek yang dipermalukan. Ukurannya bukan hanya apakah orang lain ikut tertawa, tetapi apakah cara itu masih menjaga martabat orang yang hidup bersama Anda.

Cek diri: Cek Pola Komunikasi Anda

Centang kebiasaan yang pernah Anda lakukan saat berkonflik dengan pasangan.

  • Saya menyerang karakter pasangan, bukan membahas perilakunya.
  • Saya menyindir atau mengejek pasangan.
  • Saya memutar bola mata saat pasangan berbicara.
  • Saya membandingkan pasangan dengan suami atau istri orang lain.
  • Saya menceritakan kekurangan pasangan di grup keluarga.
  • Saya langsung memberi alasan atau menyerang balik saat menerima keluhan.
  • Saya diam, menatap HP, atau pergi tanpa menjelaskan kapan percakapan dilanjutkan.

Bagaimana menghentikan empat pola perusak pernikahan?

Kabar baiknya, Gottman juga menemukan penangkal untuk masing-masing penunggang kuda. Tujuannya bukan meniadakan seluruh perbedaan, melainkan mengganti cara yang merusak dengan respons yang lebih aman bagi hubungan.

Penunggang kuda

Penangkalnya

Kritik

Soft startup: bicara soal perasaan dan kebutuhan Anda, bukan karakter pasangan.

Merendahkan

Bangun budaya apresiasi: sengaja mencari dan mengucapkan hal-hal yang Anda hargai dari pasangan.

Membela diri

Ambil tanggung jawab, meski hanya sebagian: “Iya, bagian itu memang salahku.”

Membisu

Minta jeda dengan jujur, tenangkan tubuh minimal 20 menit, lalu kembali ke percakapan.

Ubah kritik menjadi kebutuhan yang jelas

Saat kesal, pisahkan perilaku pasangan dari karakternya. Alih-alih memberi cap seperti “egois” atau “tidak pernah peduli”, katakan kejadian yang mengganggu, perasaan Anda, lalu kebutuhan yang ingin disampaikan.

Dengan cara ini, percakapan tetap membahas masalah yang dapat ditanggapi. Pasangan tidak harus lebih dulu mempertahankan harga dirinya sebelum mendengar kebutuhan Anda.

Lawan sikap merendahkan dengan apresiasi

Penangkal contempt adalah membangun budaya apresiasi. Artinya, Anda sengaja mencari dan mengucapkan hal yang dihargai dari pasangan, bukan hanya menyimpan daftar kekesalan.

Apresiasi bukan berarti menutup mata terhadap masalah. Anda tetap dapat membicarakan perilaku yang mengganggu tanpa mengejek, mempermalukan, atau menempatkan diri sebagai pihak yang lebih baik.

Akui bagian Anda tanpa serangan balik

Saat menerima keluhan, perhatikan dorongan untuk langsung menjelaskan atau membalas. Cobalah mencari bagian yang memang menjadi tanggung jawab Anda, meski hanya sebagian.

Kalimat sederhana seperti, “Iya, bagian itu memang salahku,” membantu percakapan kembali kepada masalah. Anda tidak harus mengakui sesuatu yang bukan tanggung jawab Anda. Yang dihentikan adalah kebiasaan melempar seluruh kesalahan kembali kepada pasangan.

Jika kewalahan, minta jeda yang jelas

Poin terakhir penting. Stonewalling sering terjadi karena seseorang sedang kewalahan secara fisik, jantung berdebar, dan pikirannya buntu. Jadi, diam tidak selalu berarti tidak peduli.

Namun, diam tanpa penjelasan dapat terasa seperti hukuman. Bedanya terletak pada satu kalimat: “Aku butuh waktu 20 menit untuk tenang, nanti kita lanjut ya.” Setelah jeda minimal 20 menit, tepati janji untuk kembali ke percakapan.

Tamparan kecilnya

Mungkin Anda tidak pernah memukul, tidak pernah selingkuh, dan tidak pernah berteriak. Namun, jika Anda sering memutar bola mata saat pasangan berbicara, Anda sedang melakukan hal yang menurut riset paling berbahaya bagi pernikahan.

Bercermin memang tidak senyaman menghitung kesalahan pasangan. Namun, empat pola tadi lebih berguna jika dipakai untuk mengenali kebiasaan diri sendiri, bukan sebagai daftar tuduhan baru di rumah.

Coba sekarang di Familio

Malam ini, tulis di Jurnal: dari empat penunggang kuda di atas, mana yang paling sering Anda lakukan? Bukan pasangan Anda, tetapi Anda. Lalu tulis satu penangkal yang akan Anda latih minggu ini. Perubahan pernikahan hampir selalu dimulai dari satu orang yang berani bercermin.

Catat pola komunikasi yang ingin Anda ubah dan satu penangkal yang akan dilatih minggu ini di Jurnal Familio. Buka Jurnal

Sumber: The Gottman Institute, The 6 Things That Predict Divorce; John Gottman, The Seven Principles for Making Marriage Work (1999).

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa saja empat pola komunikasi yang merusak pernikahan?

Menurut riset John Gottman, empat pola tersebut adalah kritik, merendahkan, membela diri, dan membisu. Gottman menyebutnya Four Horsemen of the Apocalypse karena kehadirannya secara konsisten menjadi tanda bahaya besar bagi masa depan hubungan.

Apa perbedaan kritik dan keluhan kepada pasangan?

Keluhan membahas perilaku tertentu serta perasaan yang muncul, sedangkan kritik menyerang karakter pasangan. “Aku kesal kamu nggak kabarin kalau pulang telat” adalah keluhan, sementara “Kamu memang nggak pernah mikirin orang lain” adalah kritik.

Mengapa sikap merendahkan berbahaya bagi pernikahan?

Gottman menyebut contempt atau sikap merendahkan sebagai prediktor perceraian paling kuat. Sikap ini menyerang martabat dan menyampaikan pesan bahwa pasangan tidak layak dihormati.

Apakah diam saat bertengkar selalu berarti tidak peduli?

Tidak selalu. Stonewalling dapat terjadi ketika seseorang kewalahan secara fisik, jantung berdebar, dan pikirannya buntu. Sampaikan kebutuhan untuk berhenti sejenak, tenangkan tubuh minimal 20 menit, lalu kembali ke percakapan.

Bagaimana cara menghentikan kebiasaan membela diri?

Ambil tanggung jawab atas bagian yang memang menjadi kesalahan Anda, meski hanya sebagian. Kalimat seperti “Iya, bagian itu memang salahku” membantu menghentikan serangan balik dan mengembalikan pembicaraan kepada masalah.

Baca juga