Pasangan
Si Penabung Menikah dengan Si Penikmat: Mengelola Beda "Bahasa Uang"
Si hemat dan si royal memang bisa saling tertarik. Agar beda gaya keuangan tidak memicu konflik, ubah benturan menjadi sistem kerja bersama.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Waktu pacaran, Tia menyukai sikap Arya yang santai soal uang. Arya suka mentraktir, spontan mengajak jalan, dan tidak pernah hitung-hitungan. Bersamanya, hidup terasa bebas dan menyenangkan.
Namun, beda gaya keuangan yang dahulu menarik bisa menjadi sumber konflik setelah menikah. Jalan keluarnya bukan memaksa pasangan berubah, melainkan memahami bahasa uang masing-masing, mengamankan kebutuhan bersama, menyediakan uang pribadi, dan menyepakati batas belanja yang perlu dibicarakan.
Arya pun menyukai Tia yang teliti dan hemat. Tia selalu tahu harga termurah, punya rencana, dan menyimpan tabungan. Di dekatnya, Arya merasa aman.
Lima tahun setelah menikah, sifat yang dahulu mereka kagumi berubah menjadi sumber pertengkaran paling rutin. Tia menyebut Arya boros. Arya menilai Tia pelit dan tidak bisa menikmati hidup.
Keduanya melihat uang melalui kebutuhan yang berbeda. Tia mencari rasa aman, sementara Arya mencari ruang untuk menikmati hidup. Jika perbedaan itu terus dibaca sebagai cacat karakter, percakapan soal uang mudah berubah menjadi serangan pribadi.
Mengapa orang hemat tertarik kepada orang yang royal?
Scott Rick dari University of Michigan, Deborah Small dari Wharton, dan Eli Finkel dari Northwestern meneliti fenomena ini dalam studi berjudul Fatal (Fiscal) Attraction. Studi tersebut dipublikasikan di Journal of Marketing Research pada 2011.
Mereka mensurvei lebih dari 1.000 orang dewasa, baik yang sudah maupun belum menikah, melalui tiga studi terpisah. Temuannya menunjukkan bahwa orang cenderung menikah dengan pasangan yang gaya belanjanya berlawanan, yaitu si hemat atau tightwad dengan si royal atau spendthrift.
Pola itu muncul meskipun orang yang belum menikah mengaku menginginkan pasangan yang mirip dengan dirinya. Dengan kata lain, pilihan yang terasa menarik dalam hubungan belum tentu sama dengan gambaran pasangan ideal yang mereka nyatakan.
Studi Rick, Small, dan Finkel juga menemukan bahwa semakin besar perbedaan gaya belanja pasangan, semakin sering mereka bertengkar soal uang. Kepuasan pernikahan mereka pun semakin rendah. Efek tersebut tetap ada ketika penghasilan, utang, dan tabungan ikut diperhitungkan.
Ada temuan lain yang menarik. Pasangan yang sama-sama royal justru lebih jarang bertengkar soal uang dibandingkan pasangan yang terdiri dari si royal dan si hemat, meskipun utang mereka bisa lebih besar.
Artinya, persoalannya bukan hanya kondisi keuangan keluarga. Benturan cara pandang yang terus berulang juga dapat merusak hubungan. Dua orang bisa menghadapi angka yang sama, tetapi merasakan ancaman dan kebutuhan yang berbeda.
Apakah si hemat selalu benar dan si royal selalu salah?
Tidak. Si hemat dan si royal sama-sama membawa kekuatan yang dibutuhkan keluarga.
Si hemat melindungi keluarga dari krisis. Tanpa perannya, keluarga bisa terjerat utang.
Si royal mengingatkan bahwa uang ada untuk dinikmati. Tanpa perannya, keluarga bisa terus hidup dalam kecemasan dan kehilangan momen berharga.
Masalah muncul ketika masing-masing menganggap caranya sebagai satu-satunya pilihan yang benar. Pada titik itu, perilaku pasangan tidak lagi dibahas sebagai kebiasaan yang bisa dikelola, tetapi dianggap sebagai bukti bahwa dirinya tidak bertanggung jawab, pelit, atau tidak peduli.
Bayangkan kedua gaya tersebut sebagai dua sisi timbangan. Rasa aman dibutuhkan agar keluarga tidak mudah goyah. Ruang untuk menikmati hidup juga diperlukan agar pengelolaan uang tidak terasa seperti hukuman tanpa akhir.

Tujuannya bukan membuat timbangan berhenti bergerak. Tujuannya adalah membangun kesepakatan agar dua kebutuhan itu memperoleh tempat yang jelas dalam keuangan keluarga.
Bagaimana menghadapi perbedaan gaya keuangan dengan pasangan?
Kenali bahasa uang tanpa memberi label negatif
Mulailah dengan mengganti kata yang menyerang karakter. Ubah “boros” menjadi “suka menikmati”. Ubah “pelit” menjadi “suka merasa aman”. Pilihan kata menentukan apakah diskusi akan menjadi percakapan atau pertengkaran.
Perubahan istilah tidak berarti Anda harus menyetujui setiap keputusan pasangan. Langkah ini membantu Anda membahas perilaku tertentu tanpa merendahkan orangnya.
Cari tahu asal-usul cara pandang terhadap uang
Tanyakan kepada pasangan, “Waktu kecil, uang di rumahmu itu seperti apa?” Dengarkan jawabannya tanpa buru-buru membantah.
Si hemat mungkin tumbuh dalam keluarga yang pernah kesulitan. Si royal mungkin dibesarkan dengan pesan “hidup cuma sekali”. Memahami asal-usul tersebut dapat melunakkan penilaian, meski kesepakatan keuangan tetap perlu dibuat.
Sepakati sistem, bukan kebiasaan saling mengawasi
Bayar tabungan dan kebutuhan wajib terlebih dahulu secara otomatis. Setelah itu, bagi sisa yang telah disepakati menjadi uang pribadi untuk masing-masing. Uang tersebut dapat dipakai tanpa komentar dari pasangan.
Dengan sistem ini, si hemat lebih tenang karena kebutuhan keluarga sudah aman. Si royal juga mempunyai ruang untuk menikmati uang tanpa merasa setiap keputusan kecil sedang diperiksa.
Tentukan batas belanja yang harus dibicarakan
Sepakati nominal pembelian yang memerlukan diskusi bersama. Misalnya, pembelian di atas Rp1 juta wajib dibicarakan terlebih dahulu, sedangkan pembelian di bawahnya bebas.
Batas ini bukan alat untuk meminta izin atas semua pengeluaran. Fungsinya adalah memberi kejelasan tentang keputusan mana yang bersifat pribadi dan mana yang dapat memengaruhi rencana bersama.
Rencanakan kesenangan sebagai kerja tim
Jangan hanya menyusun anggaran untuk kewajiban. Rencanakan pula sesuatu yang menyenangkan bersama. Minta si royal merancang liburan atau kencan, lalu minta si hemat menyusun anggarannya.
Dengan pembagian peran itu, spontanitas dan kehati-hatian tidak perlu saling meniadakan. Keduanya dipakai untuk mengejar tujuan yang sama.
Tamparan kecilnya
Anda menikahi pasangan Anda sebagian karena ia berbeda. Jangan habiskan sisa pernikahan dengan berusaha mengubahnya menjadi salinan diri Anda.
Keluarga yang paling sehat secara keuangan sering kali bukan keluarga dengan dua orang hemat. Keluarga itu bisa jadi adalah keluarga yang berhasil membuat si hemat dan si royal bekerja sebagai satu tim.
Coba sekarang di Familio
Di tab Uang, buat dua pos “uang pribadi” dengan nominal yang disepakati bersama, satu untuk masing-masing. Lalu buat satu target tabungan bersama untuk sesuatu yang menyenangkan, misalnya liburan keluarga. Biarkan si royal merencanakan tujuannya, sementara si hemat menjaga progresnya.
Sumber: University of Michigan News, Fatal (fiscal) attraction; Rick, Small & Finkel (2011), Journal of Marketing Research
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana mengatasi pasangan yang boros?
Hindari langsung memberi label “boros” karena pembicaraan mudah berubah menjadi serangan pribadi. Amankan tabungan dan kebutuhan wajib terlebih dahulu, sediakan uang pribadi, lalu sepakati batas pembelian yang harus dibicarakan bersama.
Bagaimana menghadapi pasangan yang terlalu hemat?
Cari tahu apakah sikap hematnya berkaitan dengan kebutuhan akan rasa aman. Setelah kebutuhan keluarga diamankan, sepakati ruang untuk uang pribadi dan rencanakan kesenangan bersama agar pengelolaan uang tidak terasa mengekang.
Apakah perbedaan cara mengatur uang bisa merusak pernikahan?
Studi Rick, Small, dan Finkel pada 2011 menemukan bahwa semakin besar perbedaan gaya belanja pasangan, semakin sering mereka bertengkar soal uang dan semakin rendah kepuasan pernikahannya. Karena itu, perbedaan tersebut perlu dikelola melalui percakapan dan sistem yang disepakati.
Perlukah suami istri memiliki uang pribadi?
Uang pribadi dapat memberi masing-masing pasangan ruang untuk membelanjakan bagian yang telah disepakati tanpa komentar. Sebelum membaginya, tabungan dan kebutuhan wajib keluarga perlu dibayar terlebih dahulu.
Apa yang harus dibicarakan pasangan tentang keuangan?
Bicarakan kebutuhan wajib, tabungan, pembagian uang pribadi, dan batas pembelian yang membutuhkan persetujuan bersama. Pasangan juga dapat merencanakan tujuan menyenangkan, seperti liburan keluarga, dengan pembagian peran yang sesuai kekuatan masing-masing.