Kepala keluarga & fase hidup
Percakapan yang Paling Sering Ditunda: Bertanya pada Orang Tua soal Uang, Kesehatan, dan Wasiat
Obat apa yang diminum Bapak? Di mana sertifikat tanahnya? Tanyakan sekarang agar keluarga tidak kebingungan saat keadaan darurat.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Pukul dua pagi, telepon berdering. Bapak masuk IGD karena stroke. Dokter bertanya, "Obat apa saja yang rutin diminum Bapak? Ada riwayat alergi? Kalau kondisinya memburuk, keluarga mau tindakan apa?" Tiga bersaudara berdiri di lorong rumah sakit dan saling pandang. Tidak ada yang tahu.
Percakapan tentang kesehatan, uang, aset, dan wasiat orang tua perlu dilakukan sebelum keadaan darurat. Tujuannya bukan mendoakan hal buruk atau menghitung warisan, melainkan memastikan keinginan orang tua diketahui dan keluarga tidak perlu mengambil keputusan penting dengan cara menebak.
Minggu berikutnya, muncul pertanyaan lain. Sertifikat tanah disimpan di mana? Bapak punya utang kepada siapa? Rekening Bapak ada di bank mana, dan PIN-nya apa? Masing-masing saudara memiliki versi jawaban sendiri. Dari situlah pertengkaran mulai tumbuh.
Mengapa percakapan dengan orang tua sering ditunda?
Survei nasional The Conversation Project pada 2013 di Amerika menemukan bahwa 90% orang mengatakan penting membicarakan keinginan perawatan di akhir hayat dengan keluarga. Namun, hanya 27% yang benar-benar pernah melakukannya.
Di Indonesia, jaraknya mungkin lebih lebar. Membicarakan kematian dianggap pamali. Membicarakan harta orang tua terasa tidak sopan. Menanyakan penyakit orang tua pun kerap dianggap "mendoakan yang jelek".
Akibatnya, keputusan paling penting dalam hidup keluarga sering diambil di lorong rumah sakit pada pukul dua pagi. Semua orang sedang panik, kurang tidur, dan tidak memiliki informasi yang dibutuhkan.
Apakah membicarakan perawatan benar-benar membantu keluarga?
Pada 2010, Karen Detering dan rekan di Melbourne melakukan uji acak terhadap 309 pasien berusia 80 tahun ke atas yang dirawat di rumah sakit. Separuh pasien mendapat pendampingan untuk membicarakan dan mencatat keinginan perawatan bersama keluarga. Separuh lainnya mendapat perawatan biasa.
Di antara pasien yang meninggal selama studi, hasilnya menunjukkan perbedaan yang jelas:
Keinginan pasien diketahui dan dihormati pada 86% pasien dalam kelompok yang merencanakan, dibanding 30% dalam kelompok biasa.
Keluarga pasien yang merencanakan mengalami stres, kecemasan, dan depresi yang lebih rendah setelah ditinggalkan.
Percakapan ini bukan hanya untuk orang tua. Ini juga menjadi hadiah bagi anak-anak yang ditinggalkan. Mereka tidak perlu menebak dan tidak harus hidup dengan rasa bersalah karena merasa telah "salah memutuskan".

Apa saja yang perlu ditanyakan kepada orang tua?
Tidak semua pertanyaan harus selesai dalam satu pertemuan. Bagi percakapan menjadi tiga topik agar orang tua dan anak punya ruang untuk berpikir, menjawab, serta melanjutkannya pada kesempatan berikutnya.
1. Kesehatan
Mulailah dari kesehatan karena topik ini paling mudah diterima dan paling mungkin dibutuhkan saat keadaan darurat.
Siapa dokter langganan Bapak atau Ibu, dan di rumah sakit mana?
Obat rutin apa saja yang diminum, berapa dosisnya, dan adakah alergi?
Apakah status BPJS Kesehatan dan asuransi lain masih aktif?
Jika suatu hari sakit parah, perawatan seperti apa yang diinginkan?
Siapa yang dipercaya untuk memutuskan jika Bapak atau Ibu tidak bisa bicara?
2. Uang dan aset
Arah percakapan ini bukan sekadar mengetahui nilai harta. Keluarga perlu memahami apa yang ada, apa yang menjadi kewajiban, dan di mana dokumen pendukungnya disimpan.
Rekening, deposito, emas, dan investasi ada di mana saja?
Di mana dokumen penting disimpan, seperti sertifikat, BPKB, polis asuransi, dan buku nikah?
Adakah utang, piutang, atau janji kepada orang lain?
Adakah dana pensiun, JHT BPJS Ketenagakerjaan, atau asuransi jiwa yang bisa diklaim?
3. Wasiat dan keinginan terakhir
Topik ini mungkin terasa paling berat. Anda dapat memecahnya menjadi pertanyaan yang konkret dan memberi orang tua waktu untuk menjawab.
Apakah sudah ada wasiat tertulis? Di mana wasiat disimpan, dan siapa saksinya?
Bagaimana keinginan orang tua tentang pembagian harta? Lihat artikel 92.
Apa keinginan mereka mengenai pemakaman, tempat dimakamkan, dan tata cara ibadah?
Adakah pesan untuk anak dan cucu?
Bagaimana cara membuka percakapan tanpa menyinggung orang tua?
Pilihan kata, suasana, dan jumlah topik menentukan arah percakapan. Gunakan pengalaman keluarga lain atau persiapan Anda sendiri sebagai pembuka, bukan usia orang tua sebagai alasan untuk mendesak.
Jangan | Coba |
|---|---|
"Pak, harta Bapak berapa sih?" | "Pak, aku mau bikin catatan keluarga biar kalau ada apa-apa, kami nggak bingung. Boleh bantu?" |
"Ibu kan sudah tua, harus siap-siap." | "Kemarin temanku bingung waktu ayahnya masuk RS, nggak tahu obat apa yang diminum. Aku nggak mau itu terjadi di keluarga kita." |
Membicarakannya saat makan bersama seluruh keluarga besar | Membicarakannya berdua dalam suasana santai, misalnya saat jalan pagi |
Menyelesaikan semua dalam satu malam | Membahas satu topik per kunjungan dan mulai dari kesehatan karena paling mudah diterima |
Mendesak dengan berkata "harus sekarang" | Memulai dengan cerita Anda sendiri, seperti "Aku juga sudah bikin catatan untuk anak-anakku" |
Trik yang paling ampuh adalah memulai dari diri Anda sendiri. Tunjukkan bahwa Anda sudah membuat catatan dokumen untuk anak-anak Anda, seperti dibahas dalam artikel 91. Dengan begitu, percakapan bergeser dari kesan "menginterogasi orang tua" menjadi ajakan agar semua anggota keluarga sama-sama bersiap.
Jika orang tua belum siap menjawab, jangan memaksa menyelesaikan semuanya. Anda masih bisa memulai dari satu pertanyaan sederhana, lalu melanjutkan pada kunjungan berikutnya. Yang dibangun bukan hanya sebuah daftar, tetapi kebiasaan berbicara dengan jujur tentang hal yang penting.
Tamparan kecilnya
Kita takut percakapan ini membuat orang tua sedih. Padahal, yang benar-benar menyakitkan adalah tidak pernah bertanya, lalu berdiri di lorong rumah sakit tanpa mengetahui apa yang sebenarnya mereka inginkan. Percakapan canggung selama 30 menit hari ini jauh lebih ringan daripada penyesalan seumur hidup.
Coba sekarang di Familio
Buat catatan di tab Jurnal dengan judul "Catatan Penting Bapak & Ibu". Bagi menjadi tiga bagian: kesehatan, uang dan aset, serta wasiat. Pada kunjungan berikutnya, isi satu bagian saja, mulai dari kesehatan. Lalu, jadwalkan kunjungan untuk bagian selanjutnya di agenda Familio.
Sumber: The Conversation Project, 5 End-of-Life Care Stats Everyone Should Know; Detering, Hancock, Reade & Silvester, 2010, BMJ.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa yang perlu ditanyakan kepada orang tua sebelum keadaan darurat?
Tanyakan informasi kesehatan, uang dan aset, serta wasiat atau keinginan terakhir. Mulailah dari dokter, obat rutin, alergi, dan status BPJS Kesehatan, kemudian lanjutkan ke dokumen, kewajiban, serta keinginan perawatan.
Bagaimana cara membicarakan warisan tanpa menyinggung orang tua?
Jelaskan bahwa Anda ingin membuat catatan keluarga agar tidak kebingungan jika terjadi sesuatu. Hindari langsung menanyakan jumlah harta, lakukan percakapan berdua dalam suasana santai, dan bahas satu topik setiap kunjungan.
Mengapa keluarga perlu mengetahui obat rutin dan alergi orang tua?
Informasi tersebut dapat ditanyakan dokter ketika orang tua masuk rumah sakit dan tidak bisa menjelaskan kondisinya sendiri. Menyiapkannya lebih awal membantu keluarga menjawab berdasarkan catatan, bukan perkiraan.
Haruskah kesehatan, aset, dan wasiat dibicarakan sekaligus?
Tidak. Percakapan dapat dibagi menjadi satu topik per kunjungan, dengan kesehatan sebagai awal karena biasanya paling mudah diterima. Topik lain bisa dilanjutkan setelah orang tua merasa lebih nyaman.
Bagaimana jika orang tua belum mau membicarakan wasiat?
Jangan mendesak untuk menyelesaikan semuanya saat itu juga. Mulailah dari catatan Anda sendiri atau topik kesehatan, kemudian beri ruang dan lanjutkan percakapan pada kesempatan berikutnya.