Lewati ke isi
Familio

Pasangan

69% Masalah Suami-Istri Tidak Akan Pernah Selesai. Itu Kabar Baik

Menurut Gottman, 69% konflik pasangan adalah masalah abadi. Hubungan yang langgeng bergantung pada cara pasangan mengelolanya.

Tim Familio 5 menit baca

Istri berbatik menunggu di pintu sambil tersenyum, suami buru-buru memakai kemeja batik
Daftar isi
  1. Mengapa 69% konflik suami istri tidak pernah selesai?
  2. Mengapa konflik yang tidak selesai justru bisa menjadi kabar baik?
  3. Apa bedanya pasangan yang terjebak dan pasangan yang berdialog?
  4. Bagaimana mengelola pertengkaran yang terus berulang?
  5. Tamparan kecilnya
  6. Coba sekarang di Familio

Rani sudah menikah selama 12 tahun. Selama itu pula, ia dan suaminya bertengkar tentang hal yang sama: suaminya santai soal waktu, sedangkan Rani tidak. Ketika berkata "berangkat jam 7", suaminya memaksudkan jam 7 lewat 25. Bagi Rani, "jam 7" berarti jam 6.45 mereka sudah duduk di mobil.

Pertengkaran berulang seperti ini belum tentu menandakan pernikahan gagal. Dari puluhan tahun meneliti pasangan, John Gottman menemukan bahwa 69% konflik dalam hubungan adalah masalah abadi atau perpetual problems. Hanya sekitar 31% yang benar-benar dapat diselesaikan. Kuncinya bukan menghapus semua perbedaan, tetapi belajar mengelolanya tanpa terus saling melukai.

Rani dan suaminya sebenarnya sudah mencoba banyak cara. Mereka berdiskusi, membuat janji, marah, lalu saling diam. Namun, setiap ada acara keluarga, pertengkaran yang sama kembali muncul.

Sampai suatu hari, Rani membaca satu angka yang mengubah cara pandangnya terhadap masalah tersebut.

Mengapa 69% konflik suami istri tidak pernah selesai?

Menurut temuan John Gottman, masalah abadi berakar pada perbedaan mendasar dalam kepribadian, kebutuhan, nilai, atau latar belakang. Karena menyentuh bagian penting dari diri seseorang, perbedaan ini tidak mudah hilang hanya melalui janji atau satu percakapan panjang.

Bentuknya bisa sangat akrab bagi pasangan:

  • Yang satu suka keramaian, sedangkan yang lain membutuhkan waktu sendiri.

  • Yang satu hemat, sedangkan yang lain senang menikmati uang.

  • Yang satu rapi, sedangkan yang lain nyaman dengan sedikit berantakan.

  • Yang satu tepat waktu, sedangkan yang lain terbiasa dengan "jam karet".

  • Keduanya membawa pola asuh yang berbeda dari keluarga masing-masing.

Perbedaan semacam itu merupakan bagian dari diri pasangan. Anda tidak menikahi versi pasangan yang "sudah diperbaiki". Anda menikahi manusia utuh, lengkap dengan kebutuhan, kebiasaan, nilai, dan paket masalahnya.

Mengapa konflik yang tidak selesai justru bisa menjadi kabar baik?

Riset Gottman menunjukkan bahwa pasangan yang bahagia juga mempunyai masalah abadi. Mereka bukan pasangan yang selalu sepakat atau jauh lebih cocok. Mereka hanya berhenti mencoba "memenangkan" masalah yang memang tidak bisa dimenangkan.

Temuan ini bisa terasa melegakan. Pertengkaran yang muncul lagi belum tentu membuktikan bahwa hubungan Anda rusak. Itu menunjukkan bahwa dua manusia yang berbeda sedang berusaha hidup bersama.

Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna bukan lagi, "Bagaimana saya menghapus masalah ini?" Pertanyaannya menjadi, "Bagaimana kami hidup bersama masalah ini tanpa saling melukai?"

Apa bedanya pasangan yang terjebak dan pasangan yang berdialog?

Pasangan yang terjebak

Dalam kondisi gridlock atau kebuntuan, pola pertengkaran terus berulang. Topiknya mungkin sama, tetapi rasa sakitnya makin besar. Masing-masing merasa bahwa bukan hanya pendapatnya yang ditolak, melainkan dirinya sebagai pribadi.

Lama-kelamaan, pasangan bisa berhenti membicarakan masalah itu sama sekali. Masalahnya tidak hilang. Jarak di antara mereka justru makin lebar.

Pasangan yang berdialog

Pasangan yang berdialog tetap membicarakan masalah abadi mereka. Percakapan itu tidak selalu mulus, tetapi mereka bisa memberi ruang bagi sudut pandang masing-masing dan kadang memakai humor.

Dalam kasus Rani, candaan seperti, "Iya, aku tahu, 'jam 7'-mu itu jam 7.25," dapat menjadi pengakuan terhadap pola yang sudah mereka kenal. Mereka tidak menuntut perubahan total. Mereka mencari kompromi yang cukup masuk akal untuk dijalani bersama.

Pasangan Indonesia menempuh dua jalur mengitari batu besar lalu bertemu kembali.
Masalah abadi mungkin tidak berpindah, tetapi pasangan dapat mencari jalan untuk melewatinya bersama.

Bagaimana mengelola pertengkaran yang terus berulang?

1. Bedakan masalah yang bisa diselesaikan dan masalah abadi

Tanyakan apa sebenarnya yang sedang Anda hadapi. Menentukan siapa yang menjemput anak pada hari Selasa adalah masalah yang bisa diselesaikan. Perbedaan cara memandang waktu lebih mungkin menjadi masalah abadi.

Masalah yang bisa diselesaikan perlu dituntaskan dengan keputusan yang jelas. Masalah abadi tidak harus dipaksa lenyap. Masalah itu perlu dikenali dan dikelola.

2. Cari mimpi atau nilai di balik sikap pasangan

Gottman menemukan bahwa di balik masalah abadi sering terdapat mimpi atau nilai yang dalam. Bagi Rani, tepat waktu mungkin berkaitan dengan rasa hormat kepada orang lain. Bagi suaminya, bersikap santai mungkin berkaitan dengan kebebasan dari tekanan masa kecil.

Jangan langsung membantah jawabannya. Mulailah dengan pertanyaan sederhana: "Kenapa hal ini penting banget buat kamu?" Tujuannya bukan menentukan siapa yang paling benar, melainkan memahami apa yang sedang dilindungi oleh masing-masing pihak.

3. Pisahkan bagian yang tidak bisa ditawar dan yang masih fleksibel

Rani mungkin tidak dapat berkompromi soal ketepatan waktu untuk acara penting keluarga. Namun, untuk jalan-jalan santai pada akhir pekan, ia bisa memilih lebih longgar.

Pasangannya juga dapat menjelaskan bagian yang terasa penting baginya. Dari sana, keduanya bisa melihat ruang gerak yang nyata tanpa meminta salah satu pihak menghapus dirinya sendiri.

4. Buat kompromi sementara, lalu evaluasi

Kompromi tidak harus langsung menjadi aturan permanen. Rani dan suaminya dapat berkata, "Kita coba satu bulan: untuk acara penting, kita siap 15 menit lebih awal. Untuk acara santai, aku nggak akan protes."

Setelah masa percobaan selesai, mereka dapat membicarakan apa yang membantu dan apa yang masih terasa berat. Fokusnya adalah mencari pola yang dapat dijalani, bukan membuktikan kemenangan salah satu pihak.

5. Gunakan humor tanpa merendahkan

Humor dapat membantu pasangan melihat masalah sebagai pola bersama, bukan sebagai senjata untuk menyerang. Pasangan yang bisa menertawakan masalah abadinya hampir selalu lebih sehat daripada pasangan yang terus berperang tentangnya.

Namun, humor tetap perlu menjaga rasa hormat. Candaan yang dipakai untuk mengecilkan kebutuhan pasangan hanya akan membawa percakapan kembali ke kebuntuan.

Cek diri: Apakah Anda sudah mengelola konflik berulang?

Centang langkah yang sudah Anda lakukan bersama pasangan.

  • Menuliskan pertengkaran yang paling sering berulang
  • Membedakan masalah yang bisa diselesaikan dan masalah abadi
  • Menanyakan mengapa hal itu penting bagi pasangan
  • Menjelaskan kebutuhan sendiri tanpa menyerang pasangan
  • Menentukan bagian yang tidak bisa ditawar dan yang fleksibel
  • Mencoba kompromi sementara lalu mengevaluasinya

Tamparan kecilnya

Jika Anda terus berharap pasangan suatu hari "akhirnya berubah", Anda mungkin sedang menunggu sesuatu yang menurut riset hampir tidak akan pernah datang. Harapan itu juga dapat membuat setiap pengulangan terasa seperti bukti bahwa pasangan tidak peduli.

Pernikahan yang langgeng bukan pernikahan tanpa masalah. Pernikahan yang langgeng adalah pernikahan yang berdamai dengan masalahnya. Berdamai bukan berarti menyerah atau membiarkan diri disakiti. Artinya, pasangan berhenti menuntut keseragaman dan mulai membangun cara hidup yang menjaga kebutuhan keduanya.

Coba sekarang di Familio

Tulis di Jurnal tiga pertengkaran yang paling sering terulang dalam rumah tangga Anda. Tandai mana yang bisa diselesaikan dan mana yang abadi. Setelah itu, ajak pasangan membicarakan satu masalah abadi dengan satu pertanyaan saja: "Kenapa hal ini penting banget buat kamu?"

Catat tiga konflik yang sering berulang, lalu cari kebutuhan di balik salah satunya bersama pasangan. Buka Jurnal

Sumber: The Gottman Institute, Managing Conflict: Solvable vs. Perpetual Problems

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa pertengkaran suami istri selalu membahas hal yang sama?

Pertengkaran dapat terus berulang karena masalahnya berakar pada perbedaan kepribadian, kebutuhan, nilai, atau latar belakang. John Gottman menyebutnya masalah abadi, yaitu konflik yang perlu dikelola dan bukan dipaksa hilang.

Berapa persen konflik pasangan yang tidak bisa diselesaikan?

Dari puluhan tahun meneliti pasangan, John Gottman menemukan bahwa 69% konflik dalam hubungan adalah masalah abadi. Hanya sekitar 31% yang benar-benar dapat diselesaikan.

Bagaimana cara menghadapi konflik rumah tangga yang berulang?

Bedakan dahulu masalah yang dapat diselesaikan dan masalah abadi. Untuk masalah abadi, cari nilai di balik sikap masing-masing, tentukan bagian yang tidak bisa ditawar, lalu coba kompromi sementara dan evaluasi bersama.

Apakah konflik berulang berarti pernikahan gagal?

Tidak selalu. Menurut riset Gottman, pasangan yang bahagia juga mempunyai masalah abadi. Perbedaannya terletak pada kemampuan mereka menjaga dialog dan mencari kompromi tanpa menuntut pasangan berubah total.

Baca juga