Pasangan
Setelah Anak Pertama Lahir, Kepuasan Pernikahan Umumnya Turun. Ini yang Dilakukan Pasangan yang Tidak Ikut Turun
Hampir dua pertiga pasangan makin tidak puas setelah bayi lahir. Tiga kebiasaan ini membantu pasangan menjaga kedekatan dan kerja tim.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Foto-foto di media sosial menunjukkan bayi mungil, orang tua yang tersenyum, serta balon biru atau merah muda. Yang tidak tampak adalah jam 3 pagi, bayi sudah menangis selama 40 menit, ibu belum tidur lebih dari dua jam berturut-turut selama tiga minggu, dan ayah pura-pura tidur karena besok harus rapat jam 8.
Di tengah kelelahan itu, kepuasan pernikahan memang bisa menurun. Riset program Bringing Baby Home menemukan bahwa hampir dua pertiga pasangan mengalaminya hingga tiga tahun setelah bayi lahir. Namun, sepertiga pasangan tidak ikut turun karena mereka tetap menjaga persahabatan, menghadapi konflik secara sehat, dan bekerja sebagai satu tim.
Kalimat seperti, "Kamu tuh nggak ngerti capeknya aku!" mudah terlontar ketika tubuh dan pikiran sudah terkuras. Jika pola ini tidak dibenahi, kalimat serupa bisa terus berulang dalam berbagai bentuk selama bertahun-tahun.
Apakah kepuasan pernikahan menurun setelah punya anak?
Riset dari program Bringing Baby Home yang dikembangkan John dan Julie Gottman menemukan bahwa hampir dua pertiga pasangan mengalami penurunan kepuasan hubungan hingga tiga tahun setelah bayi lahir.
Jadi, jika pernikahan Anda terasa lebih berat setelah punya anak, Anda tidak sendirian dan Anda tidak gagal. Anda sedang melewati salah satu masa transisi paling sulit dalam kehidupan pasangan.
Namun, ada sepertiga pasangan yang tidak mengalami penurunan tersebut. Mereka bukan sekadar pasangan yang kebetulan memiliki bayi yang mudah tidur. Perbedaannya terletak pada cara mereka menjaga hubungan sambil menjalani peran baru sebagai orang tua.
Apa yang dilakukan pasangan yang tetap puas setelah bayi lahir?
Menurut Gottman Institute, pasangan yang tetap puas setelah kehadiran bayi memiliki tiga kesamaan.
1. Mereka tetap menjaga persahabatan
Mereka masih saling bertanya kabar dan berusaha mengetahui apa yang sedang dipikirkan pasangannya. Percakapan mereka tidak hanya berisi popok, jadwal imunisasi, atau siapa yang harus menidurkan bayi.
Menjaga persahabatan tidak harus menunggu waktu luang yang panjang. Percakapan singkat yang sungguh-sungguh dapat mengingatkan bahwa di balik peran ayah dan ibu, ada dua orang yang tetap perlu didengar.
2. Mereka menghadapi konflik dengan cara yang sehat
Mereka tetap bertengkar. Bedanya, mereka tidak saling merendahkan dan tahu cara berbaikan setelah konflik.
Tujuannya bukan menjadi pasangan yang tidak pernah berselisih. Yang perlu dijaga adalah cara menyampaikan rasa lelah dan kecewa tanpa menjadikan pasangan sebagai lawan.
3. Mereka bekerja sebagai satu tim
Mereka menghadapi tuntutan menjadi orang tua sebagai satu tim, bukan sebagai dua pihak yang sibuk menghitung siapa yang lebih capek. Keduanya melihat kebutuhan bayi dan kebutuhan rumah sebagai tanggung jawab yang perlu diatur bersama.
Poin ketiga ini paling sering hancur. Setelah punya bayi, banyak pasangan diam-diam memasuki "lomba kelelahan": siapa yang kurang tidur, siapa yang lebih banyak berkorban, dan siapa yang lebih berhak beristirahat. Lomba ini tidak pernah memiliki pemenang.

Apa saja jebakan pasangan setelah punya bayi?
Ada tiga jebakan yang khas muncul dalam keluarga Indonesia. Mengenalinya membantu Anda melihat pola yang sedang terjadi, bukan sekadar mencari siapa yang bersalah.
"Ayah cukup cari uang"
Pembagian peran yang terlalu kaku membuat ibu memikul hampir seluruh beban malam dan beban mental. Pada saat yang sama, ayah merasa bahwa mencari uang sudah cukup sebagai bentuk kontribusi.
Akibatnya, dua orang dapat merasa tidak dihargai sekaligus. Percakapan tentang pembagian tugas pun mudah berubah menjadi perdebatan tentang siapa yang sudah berbuat lebih banyak.
Terlalu banyak "suara" dalam pengasuhan
Nasihat bisa datang dari orang tua, mertua, tetangga, dan grup WhatsApp keluarga. Tanpa kesepakatan berdua, setiap nasihat baru berpotensi menjadi sumber pertengkaran.
Pasangan perlu mendengarkan masukan sebagai satu tim. Keputusan akhirnya tetap diambil berdua, lalu dibela bersama di depan keluarga besar.
Waktu berdua hilang sama sekali
Kamar tidur berubah menjadi kamar bayi. Obrolan berubah menjadi koordinasi logistik, dari stok popok sampai jadwal kontrol dokter.
Perlahan, pasangan bisa lupa bahwa mereka dahulu juga teman. Karena itu, waktu berdua tidak perlu menunggu keadaan sempurna. Ruang singkat untuk berbicara sebagai pasangan tetap perlu dibuat dengan sengaja.
Apa yang bisa dilakukan pasangan mulai minggu ini?
Bagi shift malam dengan jelas
Tentukan siapa yang bertanggung jawab pada jam tertentu. Misalnya, satu orang menangani kebutuhan bayi dari jam 10 malam sampai 2 pagi, lalu yang lain mengambil giliran dari jam 2 sampai 6 pagi.
Tidur 4 jam yang tidak terputus jauh lebih memulihkan daripada 7 jam yang terus terbangun. Pembagian yang terang juga mengurangi kebiasaan menunggu pasangan bergerak lebih dahulu.
Sepakati satu "suara" pengasuhan
Dengarkan semua nasihat yang datang, tetapi ambil keputusan berdua. Setelah sepakat, pasangan membela keputusan bersama di depan keluarga besar.
Jika ada perbedaan, bicarakan kembali secara berdua. Jangan menjadikan pendapat keluarga sebagai alat untuk memenangkan pertengkaran dengan pasangan.
Sediakan 10 menit untuk percakapan yang bukan soal bayi
Lakukan setiap hari. Tanyakan kabar pasangan sebagai manusia, bukan hanya sebagai ayah atau ibu.
Selama 10 menit itu, kesampingkan koordinasi tentang popok, imunisasi, dan jadwal tidur. Dengarkan apa yang sedang dirasakan atau dipikirkan pasangan.
Ucapkan terima kasih untuk hal kecil
Katakan dengan spesifik, misalnya, "Makasih sudah ganti popoknya tadi malam." Apresiasi membantu mengubah lomba kelelahan menjadi kerja tim.
Hal yang terasa rutin tetap layak diakui. Dengan begitu, kontribusi pasangan tidak dianggap muncul begitu saja.
Minta bantuan tanpa malu
Bantuan dapat datang dari keluarga, pengasuh, atau layanan konseling. Tidak ada medali untuk orang tua yang paling menderita sendirian.
Meminta bantuan bukan berarti menyerahkan seluruh tanggung jawab. Itu adalah cara memberi ruang agar pasangan dapat beristirahat dan kembali bekerja sebagai tim.
Tamparan kecilnya
Hadiah terbaik untuk anak Anda bukan mainan edukatif termahal atau sekolah terbaik. Hadiah terbaik untuk anak Anda adalah orang tua yang tetap saling mencintai di tengah kelelahan.
Coba sekarang di Familio
Masukkan jadwal shift malam, jadwal imunisasi, dan jadwal kontrol dokter ke kalender keluarga di Familio agar beban mengingat tidak jatuh kepada satu orang saja. Lalu, tambahkan satu agenda rutin berdua setiap minggu, walau hanya 30 menit mengobrol di teras saat bayi tidur.
Sumber: The Gottman Institute, Romantic Relationships Take a Dive After Baby Arrives
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah wajar hubungan suami istri berubah setelah punya anak?
Ya. Riset program Bringing Baby Home menemukan bahwa hampir dua pertiga pasangan mengalami penurunan kepuasan hubungan hingga tiga tahun setelah bayi lahir. Perubahan ini tidak otomatis berarti pernikahan Anda gagal.
Bagaimana menjaga hubungan suami istri setelah bayi lahir?
Jaga persahabatan, hadapi konflik tanpa saling merendahkan, dan perlakukan pengasuhan sebagai kerja tim. Sediakan juga 10 menit setiap hari untuk membicarakan kabar masing-masing, bukan hanya kebutuhan bayi.
Bagaimana membagi tugas malam setelah punya bayi?
Buat pembagian waktu yang jelas, misalnya satu orang bertanggung jawab dari jam 10 malam sampai 2 pagi dan pasangan mengambil giliran dari jam 2 sampai 6 pagi. Masukkan pembagian tersebut ke kalender keluarga agar keduanya mengetahui jadwalnya.
Bagaimana menghadapi campur tangan keluarga dalam mengasuh anak?
Dengarkan nasihat dari orang tua, mertua, tetangga, atau keluarga, lalu putuskan bersama pasangan. Setelah sepakat, tampilkan satu suara dan bela keputusan tersebut bersama di depan keluarga besar.
Apa yang bisa dilakukan jika pasangan sama-sama kelelahan?
Hentikan kebiasaan membandingkan siapa yang paling lelah, lalu bicarakan pembagian tugas secara konkret. Ucapkan terima kasih atas kontribusi kecil dan mintalah bantuan keluarga, pengasuh, atau layanan konseling bila diperlukan.