Lewati ke isi
Familio

Pasangan

Anda Tidak Bertengkar Soal Piring Kotor. Anda Bertengkar Soal Merasa Dihargai

Pertengkaran soal piring kotor sering bukan tentang piring, melainkan rasa tak terlihat. Pembagian tanggung jawab yang jelas dapat meredakannya.

Tim Familio 5 menit baca

Suami mencuci piring dan istri mengeringkannya di dapur rumah pada malam hari
Daftar isi
  1. Mengapa pekerjaan rumah bisa memicu pertengkaran besar?
  2. Apa yang sebenarnya diperebutkan saat pasangan membahas piring kotor?
  3. Apa itu beban rumah tangga yang tidak terlihat?
  4. Bagaimana membagi pekerjaan rumah agar lebih adil?
  5. Bagaimana memulai percakapan tanpa saling menyalahkan?
  6. Tamparan kecilnya
  7. Coba sekarang di Familio

Jam 9 malam. Wastafel penuh piring bekas makan malam. Suami sudah rebahan di sofa sambil menonton bola, sedangkan istri baru selesai menidurkan anak.

"Piringnya kok belum dicuci?" tanyanya. Sang suami menjawab, "Nanti saja, besok pagi aku cuci." Ketika istrinya berkata bahwa ia lelah mendengar kata "nanti", balasannya datang, "Ya ampun, cuma piring doang, kenapa sih jadi marah besar?"

Masalahnya memang bukan cuma piring. Piring kotor hanyalah pemicu yang terlihat. Di baliknya, sering ada perasaan tidak dilihat, ditinggalkan menanggung urusan rumah sendirian, atau dianggap kurang berharga oleh pasangan.

Mengapa pekerjaan rumah bisa memicu pertengkaran besar?

Survei Pew Research Center tahun 2016 terhadap orang dewasa yang menikah di Amerika menemukan bahwa 56% menganggap berbagi pekerjaan rumah "sangat penting" untuk pernikahan yang sukses. Faktor ini berada di urutan ketiga, hanya sedikit di bawah minat yang sama (64%) dan hubungan seksual yang memuaskan (61%).

Artinya, pembagian pekerjaan rumah bukan sekadar urusan teknis tentang siapa yang memegang sapu atau mencuci piring. Bagi banyak pasangan, pembagian itu juga mencerminkan kerja sama, kepedulian, dan penghargaan di dalam pernikahan.

Survei Pew Research Center tahun 2016 yang sama menemukan perbedaan persepsi yang tajam di antara orang tua. Sebanyak 50% ibu merasa mereka mengerjakan lebih banyak pekerjaan rumah, sedangkan hanya 12% ayah merasa dirinya yang mengerjakan lebih banyak.

Selisih persepsi ini dapat menjadi sumber pertengkaran. Satu pihak merasa memikul lebih banyak, sementara pihak lain tidak melihat atau tidak merasakan ketimpangan tersebut.

Pasangan Indonesia menghadapi piring kotor dan lapisan beban rumah yang tersembunyi.
Piring kotor sering hanya menjadi bagian yang terlihat dari beban rumah tangga yang jauh lebih besar.

Apa yang sebenarnya diperebutkan saat pasangan membahas piring kotor?

Ketika seseorang marah karena piring kotor, handuk basah di kasur, atau popok yang lupa dibuang, benda itu biasanya bukan inti persoalannya. Ada pesan emosional yang terasa jauh lebih besar daripada tugas yang belum selesai.

Perasaan tersebut sering berbunyi seperti ini:

  • "Aku merasa tidak terlihat." Semua yang aku kerjakan dianggap terjadi secara otomatis, seolah tidak membutuhkan waktu dan tenaga.

  • "Aku merasa sendirian." Rumah ini milik kita berdua, tetapi rasanya hanya aku yang terus memikirkan keperluannya.

  • "Aku merasa tidak dihormati." Waktu dan tenagaku dianggap kurang berharga dibandingkan waktu dan tenagamu.

Karena itu, jawaban "Cuma piring, kenapa marah?" tidak meredakan keadaan. Jawaban tersebut justru dapat membalas perasaan "tidak dihargai" dengan pesan yang terasa seperti bukti bahwa perasaan itu benar.

Pasangan mungkin membicarakan benda yang sama, tetapi memaknai percakapan secara berbeda. Satu orang membahas tugas yang belum dikerjakan. Orang yang lain sedang mencoba menyampaikan bahwa ia lelah dan ingin usahanya diakui.

Apa itu beban rumah tangga yang tidak terlihat?

Pekerjaan rumah bukan hanya kegiatan fisik seperti mencuci, memasak, dan menyapu. Ada pula pekerjaan mengingat serta merencanakan: mengecek stok beras, mengetahui jadwal imunisasi, mengingat tanggal pembayaran sekolah, menyiapkan ulang tahun mertua, dan menyadari bahwa seragam anak sudah kekecilan.

Pekerjaan ini tidak mudah terlihat, tidak pernah benar-benar selesai, dan sering jatuh kepada satu orang saja. Orang tersebut bukan hanya melakukan tugas, tetapi juga terus memantau apa yang perlu dilakukan berikutnya.

Itulah sebabnya seseorang dapat merasa sangat lelah tanpa mudah menjelaskan penyebabnya. Daftar tugas yang tampak mungkin pendek, tetapi daftar yang terus berputar di kepalanya jauh lebih panjang.

Pasangan Indonesia menyeimbangkan tugas fisik dan beban perencanaan keluarga.
Pembagian yang adil perlu memasukkan pekerjaan fisik sekaligus beban mengingat dan merencanakan.

Gunakan cek singkat berikut untuk melihat apakah beban yang tidak terlihat sudah dibicarakan bersama. Tujuannya bukan menentukan siapa yang salah, melainkan menemukan urusan yang selama ini luput dari percakapan.

Cek diri: Apakah beban rumah sudah terlihat?

Centang hal yang terjadi di rumah Anda, lalu gunakan hasilnya sebagai bahan percakapan bersama.

  • Satu orang lebih sering mengingat jadwal keluarga
  • Satu orang harus berulang kali mengingatkan tugas rumah
  • Stok kebutuhan rumah dipantau oleh satu orang saja
  • Urusan sekolah anak lebih banyak dipikirkan satu orang
  • Pekerjaan rutin jarang mendapat ucapan terima kasih
  • Standar kebersihan belum pernah disepakati bersama

Bagaimana membagi pekerjaan rumah agar lebih adil?

Pembagian yang adil tidak harus berarti setiap tugas dibelah sama rata. Yang dibutuhkan adalah tanggung jawab yang jelas, standar yang disepakati, dan pengakuan terhadap pekerjaan fisik maupun pekerjaan yang tidak terlihat.

1. Ganti kata "membantu" dengan "bertanggung jawab"

Kalimat "suami membantu mencuci piring" menyiratkan bahwa mencuci piring sebenarnya tugas istri. Di rumah bersama, tidak ada satu pihak yang menjadi pemilik utama semua urusan, lalu pihak lain hanya datang membantu. Keduanya bertanggung jawab.

2. Bagi kepemilikan, bukan sekadar tugas satu per satu

Satu orang, misalnya, dapat memiliki urusan dapur secara penuh, mulai dari belanja, memasak, memantau stok, hingga membersihkan. Pasangannya dapat memiliki urusan sekolah anak. Kepemilikan penuh mengurangi beban untuk terus mengingatkan atau memeriksa apakah tugas sudah dilakukan.

3. Tulis pekerjaan yang terlihat dan tidak terlihat

Catat bukan hanya kegiatan seperti menyapu atau mencuci pakaian. Masukkan juga tugas mengingat jadwal imunisasi, memantau stok rumah, mengecek pembayaran sekolah, dan menyadari kebutuhan anak. Kebanyakan pasangan kaget ketika melihat daftar lengkapnya.

4. Sepakati standar bersama

Jangan diam-diam memakai standar satu orang sebagai aturan rumah. Jika satu pihak ingin lantai dipel setiap hari, sementara pihak lain merasa seminggu dua kali cukup, bicarakan dan sepakati titik tengah yang dapat dijalankan bersama.

5. Ucapkan terima kasih untuk pekerjaan rutin

Pekerjaan yang dilakukan setiap hari justru paling mudah dianggap biasa. Ucapan terima kasih menunjukkan bahwa Anda melihat waktu dan tenaga pasangan, termasuk untuk tugas yang berulang dan jarang dibicarakan.

Kuis singkat ini membantu Anda memeriksa kembali inti pembagian tanggung jawab di rumah.

Kuis: Sudah paham pembagian tanggung jawab?

  1. Apa inti yang sering tersembunyi di balik pertengkaran soal piring kotor?

    • Perbedaan jenis piring
    • Rasa tidak terlihat atau tidak dihargai
    • Keinginan membeli peralatan baru
  2. Pembagian seperti apa yang dapat mengurangi beban mengingatkan?

    • Membagi kepemilikan urusan secara penuh
    • Menunggu pasangan menawarkan bantuan
    • Mengerjakan tugas hanya saat diminta
  3. Apa yang perlu dilakukan saat standar kebersihan berbeda?

    • Mengikuti standar satu orang
    • Menghindari pembicaraan
    • Menyepakati titik tengah bersama

Bagaimana memulai percakapan tanpa saling menyalahkan?

Mulailah dari daftar pekerjaan, bukan daftar kesalahan pasangan. Tunjukkan urusan yang perlu dikerjakan, lalu bicarakan siapa yang akan memilikinya secara penuh dan standar seperti apa yang disepakati.

Saat pasangan menyampaikan kelelahan, dengarkan pesan di balik tugas yang disebutkan. Jika ia membahas piring kotor, mungkin yang ingin ia sampaikan adalah bahwa ia merasa sendirian atau tidak terlihat. Mengakui perasaan tersebut membuka ruang untuk membahas pembagian tanggung jawab dengan lebih jernih.

Percakapan ini juga perlu mencakup pekerjaan yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan salah satu pihak. Begitu beban tersebut terlihat, pasangan dapat membicarakannya sebagai urusan bersama, bukan sebagai keluhan pribadi.

Tamparan kecilnya

Kalau Anda merasa pasangan "terlalu sensitif soal hal sepele", mungkin hal itu memang tidak sepele baginya. Jika Anda terus menganggapnya sepele, pesan yang ia terima bukan sekadar "ini cuma piring", melainkan "kamu cuma kamu".

Coba sekarang di Familio

Tulis semua pekerjaan rumah dan urusan keluarga di daftar tugas rumah Familio, termasuk pekerjaan yang tidak terlihat seperti "mengingat jadwal imunisasi". Bagi kepemilikannya berdua dengan adil. Ketika semuanya tercatat di satu tempat, tidak ada lagi yang merasa bekerja sendirian tanpa terlihat.

Catat pekerjaan yang terlihat dan tidak terlihat, lalu bagi kepemilikannya bersama pasangan. Bagi tugas

Sumber: Pew Research Center (2016), Sharing chores a key to good marriage

Pertanyaan yang sering diajukan

Mengapa pasangan sering bertengkar karena pekerjaan rumah?

Pekerjaan rumah dapat mewakili perasaan yang lebih besar, seperti tidak terlihat, sendirian, atau tidak dihormati. Karena itu, piring kotor atau handuk basah sering hanya menjadi pemicu dari beban yang sudah menumpuk.

Apa yang dimaksud dengan beban rumah tangga yang tidak terlihat?

Beban yang tidak terlihat adalah pekerjaan mengingat dan merencanakan urusan keluarga. Contohnya meliputi memantau stok beras, mengingat jadwal imunisasi, mengecek tanggal pembayaran sekolah, dan menyadari seragam anak sudah kekecilan.

Bagaimana cara membagi pekerjaan rumah dengan adil?

Tuliskan semua pekerjaan fisik dan pekerjaan yang tidak terlihat, lalu bagi kepemilikannya secara jelas. Sepakati juga standar pelaksanaan bersama agar satu pihak tidak harus terus mengingatkan atau mengawasi.

Apakah pekerjaan rumah harus selalu dibagi sama rata?

Pembagian yang adil tidak harus berarti setiap tugas dibelah sama rata. Yang penting, tanggung jawabnya jelas, bebannya dibicarakan, dan standar rumah disepakati oleh kedua pihak.

Bagaimana membicarakan pekerjaan rumah tanpa menyalahkan pasangan?

Mulailah dengan melihat daftar urusan rumah, bukan mengumpulkan kesalahan pasangan. Jelaskan perasaan di balik masalah, dengarkan tanggapan pasangan, lalu tentukan kepemilikan tugas dan standar yang dapat dijalankan bersama.

Baca juga