Lewati ke isi
Familio

Pengasuhan

Bukan Jumlah Kata, tapi Jumlah Giliran Bicara: Riset MIT tentang Otak Anak

Riset MIT menunjukkan bahwa percakapan bolak-balik lebih bermakna bagi otak dan kemampuan bahasa anak daripada sekadar banyaknya kata.

Tim Familio 5 menit baca

Ibu duduk di tikar bercakap dengan balitanya yang menunjuk gambar di buku pada pagi hari
Daftar isi
  1. Mengapa giliran bicara lebih penting daripada jumlah kata?
  2. Apa yang terjadi saat anak diajak berbicara dua arah?
  3. Bagaimana cara menambah giliran bicara dengan anak?
  4. Tamparan kecilnya
  5. Coba sekarang di Familio

Dua ibu sama-sama menyayangi anaknya dan sama-sama banyak bicara. Ibu pertama menyalakan video edukasi berbahasa Inggris, memutar lagu anak-anak, lalu terus menceritakan kegiatannya. Ibu kedua bicara lebih sedikit, tetapi ia menanggapi saat anak menunjuk sesuatu, bertanya, lalu menunggu jawaban, sekalipun hanya terdengar "bu-bu".

Menurut riset MIT, anak kedua kemungkinan besar memperoleh stimulasi otak yang lebih bermakna. Kuncinya bukan sekadar berapa banyak kata yang didengar anak, melainkan berapa kali anak dan orang dewasa bergantian bicara.

Ibu pertama mungkin berkata sepanjang waktu, "Mama lagi masak, ini wortel, ini bawang, sekarang Mama potong-potong." Anaknya mendengar ribuan kata setiap hari, tetapi tidak selalu mendapat ruang untuk menanggapi.

Ibu kedua mungkin bertanya, "Itu apa? Warnanya apa? Kamu suka yang mana?" Setelah itu, ia berhenti dan benar-benar menunggu. Jeda kecil tersebut memberi anak kesempatan untuk memahami, mencari kata, mencoba menjawab, dan menerima tanggapan berikutnya.

Mengapa giliran bicara lebih penting daripada jumlah kata?

Pada 1995, studi terkenal oleh Hart dan Risley memunculkan istilah "30 million word gap". Anak dari keluarga berpenghasilan rendah disebut mendengar sekitar 30 juta kata lebih sedikit dibandingkan anak dari keluarga berada sebelum usia 4 tahun.

Temuan itu membuat banyak orang tua beranggapan bahwa kuncinya adalah memperdengarkan sebanyak mungkin kata kepada anak. Namun, jumlah kata saja belum menggambarkan apakah anak ikut terlibat dalam komunikasi dua arah.

Pada 2018, Rachel Romeo dan tim peneliti di MIT, bersama Harvard dan University of Pennsylvania, menguji persoalan ini secara lebih mendalam. Mereka meneliti anak-anak usia 4 sampai 6 tahun dari berbagai latar belakang ekonomi.

Para peneliti merekam percakapan di rumah anak-anak tersebut. Setelah itu, mereka memindai otak anak menggunakan MRI ketika anak mendengarkan cerita.

Hasil penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science menunjukkan tiga temuan penting:

  • Jumlah giliran bicara atau conversational turns, yaitu percakapan bolak-balik antara anak dan orang dewasa, lebih kuat memprediksi kemampuan bahasa anak daripada jumlah kata yang didengar.

  • Anak yang mengalami lebih banyak giliran bicara menunjukkan aktivitas lebih tinggi di area Broca, bagian otak yang penting untuk memproduksi dan memproses bahasa.

  • Aktivitas otak tersebut bahkan menjelaskan perbedaan kemampuan bahasa yang terkait dengan penghasilan keluarga. Artinya, percakapan berkualitas dapat berlangsung di rumah mana pun, baik kaya maupun sederhana.

Romeo merangkum pesannya dengan jelas: yang penting bukan hanya berbicara kepada anak, tetapi berbicara dengan anak. Anak perlu mendapat kesempatan menjadi peserta percakapan, bukan hanya pendengar.

Kuis: Pahami Kekuatan Giliran Bicara

  1. Menurut riset MIT, apa yang lebih kuat memprediksi kemampuan bahasa anak?

    • Jumlah video edukasi
    • Jumlah giliran bicara
    • Jumlah lagu anak
  2. Apa yang sebaiknya dilakukan setelah mengajukan pertanyaan kepada anak?

    • Langsung memberi jawaban
    • Mengganti topik
    • Menghitung sampai lima dalam hati
  3. Di area otak mana aktivitas lebih tinggi terlihat pada anak yang mengalami lebih banyak giliran bicara?

    • Area Broca
    • Seluruh otak
    • Tidak disebutkan

Apa yang terjadi saat anak diajak berbicara dua arah?

Ketika hanya mendengar, otak anak menerima informasi. Ketika harus menjawab, otaknya bekerja melalui beberapa langkah: memahami pertanyaan, mencari kata, menyusun jawaban, lalu menunggu respons orang lain.

Setiap giliran menjadi latihan kecil bagi otak. Jawaban anak tidak harus panjang atau sempurna. Bunyi sederhana, satu kata, tatapan, atau usaha menunjuk dapat menjadi awal percakapan bila orang tua menanggapinya.

Orang tua dan anak bergantian berbicara di meja makan.
Setiap respons yang kembali kepada anak membuka satu giliran latihan bagi otaknya.

Inilah alasan layar tidak dapat menggantikan peran orang tua dalam percakapan semacam ini. Video tidak berhenti untuk menunggu jawaban anak. Video juga tidak menyesuaikan diri ketika anak terlihat bingung, serta tidak tersenyum saat anak berhasil mengucapkan kata baru.

Masalahnya bukan semata-mata apakah anak mendengar banyak kata. Yang membedakan adalah adanya respons yang mengikuti tindakan atau jawaban anak, kemudian mengundang anak untuk mengambil giliran berikutnya.

Bagaimana cara menambah giliran bicara dengan anak?

Anda tidak perlu membuat sesi belajar khusus. Gunakan percakapan yang sudah muncul saat makan, mandi, berada di mobil, atau bersiap tidur.

Ajukan pertanyaan terbuka

Pertanyaan yang dapat dijawab dengan satu kata sering membuat percakapan cepat selesai. Alih-alih bertanya, "Enak?", cobalah, "Rasanya kayak apa?"

Setelah anak pulang sekolah, ganti pertanyaan "Seru di sekolah?" dengan "Tadi yang paling bikin kamu ketawa apa?" Pertanyaan seperti ini membuka lebih banyak kemungkinan jawaban dan tanggapan.

Beri anak waktu untuk menjawab

Setelah mengajukan pertanyaan, hitung sampai lima dalam hati. Anak membutuhkan waktu untuk memahami pertanyaan dan menyusun jawabannya.

Jeda dapat terasa lama bagi orang dewasa. Karena ingin membantu, banyak orang tua langsung menjawab pertanyaannya sendiri. Padahal, menunggu merupakan bagian penting dari memberi anak giliran.

Ikuti topik yang menarik perhatian anak

Kalau anak tertarik pada truk sampah, bicarakan truk sampah. Percakapan paling panjang sering muncul dari topik yang memang disukai anak, bukan topik yang dipilihkan orang dewasa.

Anda dapat mengamati apa yang sedang dilihat, disentuh, atau ditunjuk anak. Mulailah dari sana, kemudian ajukan pertanyaan yang masih berhubungan dengan perhatiannya.

Kembangkan jawaban anak

Saat anak berkata, "Kucing!", Anda dapat menjawab, "Iya, kucingnya oranye. Dia lagi ngapain ya?" Anda mengakui jawabannya, menambahkan sedikit informasi, lalu mengembalikan giliran kepadanya.

Cara ini menjaga percakapan tetap berjalan tanpa menuntut anak langsung memberi jawaban panjang. Satu kata dari anak dapat berkembang menjadi beberapa giliran bila orang tua menanggapinya dengan sabar.

Manfaatkan kegiatan rutin

Makan, mandi, perjalanan di mobil, dan waktu sebelum tidur dapat menjadi ruang percakapan. Tidak perlu alat khusus atau jadwal tambahan.

Percakapan terbaik justru sering terjadi di tengah kegiatan biasa. Yang dibutuhkan adalah perhatian terhadap respons anak dan kesediaan untuk tidak terburu-buru mengambil kembali gilirannya.

Cek diri: Cek Kebiasaan Percakapan di Rumah

Centang kebiasaan yang sudah Anda lakukan bersama anak.

  • Saya mengajukan pertanyaan terbuka kepada anak.
  • Saya menunggu hingga hitungan kelima sebelum membantu menjawab.
  • Saya mengikuti topik yang sedang menarik perhatian anak.
  • Saya mengembangkan jawaban singkat anak dengan pertanyaan lanjutan.
  • Saya mengajak anak berbicara saat makan, mandi, di mobil, atau sebelum tidur.
  • Saya memberi anak kesempatan mengambil giliran tanpa memotong jawabannya.

Tamparan kecilnya

Anda mungkin sudah membeli mainan edukatif mahal, aplikasi belajar, dan langganan video anak. Namun, alat pendidikan paling canggih untuk otak anak Anda sudah tersedia sejak awal, gratis, dan kerap terlupakan: percakapan dua arah dengan orang tuanya.

Banyak bicara kepada anak tetap berbeda dari memberi ruang bagi anak untuk ikut bicara. Pertanyaan sederhana yang disertai kesediaan menunggu bisa mengubah kegiatan sehari-hari menjadi percakapan yang lebih bermakna.

Coba sekarang di Familio

Malam ini, ajukan satu pertanyaan terbuka kepada anak dan tulis jawabannya di Jurnal keluarga. Lakukan setiap hari selama seminggu. Selain menambah giliran bicara, Anda sedang mengumpulkan cara berpikir anak pada usia ini, sesuatu yang akan sangat berharga ketika dibaca kembali bertahun-tahun mendatang.

Catat satu jawaban anak setiap malam selama seminggu di Jurnal keluarga. Buka Jurnal

Sumber: MIT News (2018), Back-and-forth exchanges boost children's brain response to language; Romeo et al. (2018), Psychological Science

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang dimaksud dengan giliran bicara pada anak?

Giliran bicara adalah percakapan bolak-balik antara anak dan orang dewasa. Orang dewasa berbicara atau bertanya, anak menanggapi, lalu orang dewasa merespons kembali.

Apakah banyak bicara kepada anak sudah cukup untuk melatih bahasanya?

Menurut riset Rachel Romeo dan tim pada 2018, jumlah giliran bicara lebih kuat memprediksi kemampuan bahasa anak daripada jumlah kata yang didengar. Anak perlu mendapat ruang untuk menjawab dan menerima tanggapan.

Bagaimana cara mengajak anak yang jawabannya masih satu kata untuk berbicara?

Akui jawabannya, tambahkan sedikit keterangan, lalu ajukan pertanyaan lanjutan. Jika anak berkata, "Kucing!", Anda dapat menjawab, "Iya, kucingnya oranye. Dia lagi ngapain ya?"

Berapa lama orang tua sebaiknya menunggu jawaban anak?

Setelah bertanya, hitung sampai lima dalam hati sebelum berbicara lagi. Jeda tersebut memberi anak waktu untuk memahami pertanyaan dan menyusun jawaban.

Kapan waktu yang tepat untuk menambah percakapan dengan anak?

Manfaatkan kegiatan rutin seperti makan, mandi, perjalanan di mobil, dan waktu sebelum tidur. Percakapan tidak memerlukan sesi atau alat khusus.

Baca juga