Lewati ke isi
Familio

Pengasuhan

Orang Tua Hanya "Nyambung" dengan Bayinya Sekitar 30% Waktu. Yang Penting Adalah Memperbaikinya

Pernah membentak anak lalu merasa gagal? Riset Edward Tronick menunjukkan bahwa kemauan memperbaiki hubungan justru sangat penting.

Tim Familio 4 menit baca

Ibu berlutut sejajar mata anaknya di dapur pada malam hari, menggenggam tangannya dengan lembut
Daftar isi
  1. Apa yang terjadi dalam eksperimen Still Face?
  2. Apakah orang tua harus selalu nyambung dengan bayi?
  3. Apa artinya bagi orang tua yang merasa gagal?
  4. Bagaimana cara memperbaiki hubungan setelah membentak anak?
  5. Tamparan kecilnya
  6. Coba sekarang di Familio

Jam 11 malam, Laras duduk di lantai kamar bayi sambil menangis. Tadi sore, ia membentak anaknya yang berusia 3 tahun karena menumpahkan susu untuk ketiga kalinya. Suaranya terlalu keras. Anaknya kaget, lalu menangis.

Sejak itu, satu pikiran terus berputar di kepalanya: "Aku ibu yang buruk. Aku sudah merusak anakku." Padahal, anak tidak membutuhkan orang tua yang selalu sempurna. Anak membutuhkan orang tua yang mau kembali, mengakui kesalahan, dan memperbaiki hubungan.

Jika Anda pernah merasa seperti Laras, ingatlah bahwa satu momen buruk bukan akhir dari kedekatan Anda dengan anak. Membentak memang perlu dikurangi, tetapi setelah itu Anda masih bisa menenangkan diri, meminta maaf, memberi rasa aman, dan kembali terhubung.

Apa yang terjadi dalam eksperimen Still Face?

Edward Tronick, psikolog perkembangan dari Harvard, dikenal melalui eksperimen Still Face pada tahun 1970-an. Dalam eksperimen itu, seorang ibu yang semula bermain riang dengan bayinya tiba-tiba diminta memasang wajah datar tanpa ekspresi.

Bayi-bayi tersebut mula-mula mencoba berbagai cara untuk memperoleh perhatian ibunya. Mereka tersenyum, menunjuk, dan mengoceh. Ketika upaya itu tidak berhasil, mereka mulai gelisah, kemudian menangis, lalu menarik diri.

Eksperimen Still Face sering digunakan untuk menunjukkan betapa pentingnya respons orang tua. Namun, temuan Tronick yang paling membebaskan bagi banyak orang tua justru lebih jarang dibahas.

Ibu berlutut sejajar dengan anak sambil menyambung kembali kain yang sempat terpisah.
Perbaikan membantu orang tua dan anak kembali terhubung setelah momen yang tidak menyenangkan.

Apakah orang tua harus selalu nyambung dengan bayi?

Tidak. Ketika mengamati interaksi ibu dan bayi yang normal dan sehat, Edward Tronick menemukan bahwa keduanya hanya benar-benar sinkron sekitar 30% dari waktu.

Pada waktu lainnya, muncul berbagai momen "tidak nyambung". Ibu bisa salah membaca sinyal bayi. Bayi mungkin ingin beristirahat saat ibu mengajaknya bermain. Ibu bisa terdistraksi, sementara bayi dapat rewel tanpa sebab yang jelas.

Menurut Tronick, ketidaksinkronan tersebut bukan masalah. Hal yang paling penting bukanlah terus-menerus selaras, melainkan perbaikannya, atau repair, yaitu saat hubungan yang sempat tidak terhubung kembali tersambung.

Proses dari "tidak nyambung" menjadi "nyambung" sangat penting bagi perkembangan bayi. Dari proses itu, anak belajar bahwa perasaan tidak enak bisa berubah menjadi enak lagi. Anak juga belajar bahwa hubungan dapat retak dan pulih, serta orang yang ia sayangi akan kembali. Inilah fondasi rasa aman dan ketangguhan.

Kuis: Mitos atau fakta tentang hubungan orang tua dan anak

  1. Dalam interaksi ibu dan bayi yang normal dan sehat, berapa lama keduanya benar-benar sinkron menurut Edward Tronick?

    • Sekitar 30% dari waktu
    • Sepanjang waktu
    • Hanya saat bayi tenang
  2. Apa yang paling penting setelah orang tua dan anak mengalami momen tidak nyambung?

    • Mengabaikan kejadian
    • Kembali terhubung dan memperbaiki hubungan
    • Menjelaskan bahwa anak penyebabnya
  3. Apa pelajaran yang dapat diterima anak dari perbaikan yang tulus?

    • Orang tua tidak pernah salah
    • Kemarahan selalu boleh dibiarkan
    • Hubungan dapat retak lalu pulih

Apa artinya bagi orang tua yang merasa gagal?

Temuan tersebut berarti anak Anda tidak memerlukan orang tua yang tidak pernah salah. Ia memerlukan orang tua yang bersedia kembali dan memperbaiki hubungan setelah terjadi kesalahan.

Membentak anak bukanlah hal yang baik, dan kita perlu berusaha menguranginya. Namun, satu momen buruk yang diikuti perbaikan tulus dapat mengajarkan pelajaran berharga: orang yang mencintai kita bisa berbuat salah, mengakuinya, dan tetap mencintai kita.

Yang merusak bukan momen marahnya saja. Dampaknya menjadi lebih buruk ketika kemarahan tidak pernah diperbaiki, dibiarkan menggantung, atau justru kesalahannya dibebankan kembali kepada anak.

Karena itu, rasa bersalah tidak perlu menjadi vonis bahwa Anda ibu atau ayah yang buruk. Gunakan rasa bersalah sebagai tanda untuk berhenti, melihat kembali apa yang terjadi, lalu mengambil tanggung jawab dengan jujur.

Bagaimana cara memperbaiki hubungan setelah membentak anak?

Perbaikan tidak harus berupa percakapan panjang. Kata-kata sederhana yang tulus, disampaikan setelah Anda lebih tenang, dapat membantu anak memahami apa yang baru saja terjadi.

  • Tenangkan diri terlebih dahulu. Jangan mencoba memperbaiki hubungan ketika Anda masih marah. Ambil napas, minum air, lalu beri diri Anda waktu beberapa menit.

  • Datangi anak dan turunkan badan sejajar dengan matanya. Sikap ini membantu Anda hadir kembali bersama anak.

  • Akui kejadian dengan sederhana. Anda dapat berkata, "Tadi Mama teriak, ya. Kamu kaget."

  • Ambil tanggung jawab tanpa kata "tapi". Katakan, "Mama enggak seharusnya teriak. Itu salah Mama." Hindari ucapan seperti, "Mama teriak karena kamu nakal."

  • Berikan rasa aman. Anda dapat berkata, "Mama tetap sayang kamu. Mama lagi capek tadi, dan Mama mau belajar lebih sabar."

  • Lanjutkan dengan koneksi. Peluk anak, baca buku bersama, atau bereskan susu yang tumpah bersama-sama.

Untuk anak yang lebih besar, perbaikan juga bisa dilakukan melalui percakapan. Misalnya, tanyakan, "Menurut kamu, tadi rasanya bagaimana waktu Ayah marah?" Pertanyaan itu memberi anak kesempatan untuk menyampaikan pengalamannya.

Perbaikan bukan cara untuk membenarkan kebiasaan membentak. Tujuannya tetap mengurangi ledakan emosi, sambil memastikan bahwa kesalahan yang sudah terjadi tidak dibiarkan menggantung tanpa pengakuan dan koneksi.

Cek diri: Sudahkah Anda memperbaiki hubungan?

Centang langkah yang sudah Anda lakukan setelah merasa kelewatan dengan anak.

  • Saya menenangkan diri sebelum berbicara dengan anak.
  • Saya mendatangi anak dan menempatkan diri sejajar dengan matanya.
  • Saya mengakui dengan sederhana apa yang terjadi.
  • Saya mengambil tanggung jawab tanpa menyalahkan anak.
  • Saya menegaskan bahwa saya tetap menyayangi anak.
  • Saya kembali terhubung melalui pelukan, percakapan, atau kegiatan bersama.

Tamparan kecilnya

Berhentilah mengejar gelar "orang tua sempurna". Gelar itu tidak ada. Mengejarnya hanya membuat Anda lelah, cemas, dan lebih mudah meledak.

Kejar sesuatu yang lebih realistis dan jauh lebih berharga: menjadi orang tua yang selalu kembali untuk memperbaiki. Bukan orang tua yang tidak pernah keliru, melainkan orang tua yang berani mengakui kekeliruan tanpa menyalahkan anak.

Coba sekarang di Familio

Setiap kali Anda merasa "kelewatan" dengan anak, tuliskan di Jurnal Familio apa yang terjadi, apa yang memicunya, dan bagaimana Anda memperbaikinya. Setelah beberapa minggu, Anda dapat melihat pola pemicu seperti lapar, lelah, atau jam sibuk pagi, lalu mencoba mencegahnya lebih awal.

Catat kejadian, pemicu, dan cara Anda memperbaiki hubungan agar polanya lebih mudah terlihat. Buka Jurnal

Sumber: Norland College Journal, wawancara dengan Professor Edward Tronick

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang harus dilakukan setelah membentak anak?

Tenangkan diri terlebih dahulu, lalu datangi anak dan akui apa yang terjadi. Ambil tanggung jawab tanpa menyalahkan anak, berikan rasa aman, kemudian lanjutkan dengan koneksi seperti pelukan atau kegiatan bersama.

Apakah sekali membentak bisa merusak anak?

Satu momen buruk bukan akhir dari hubungan Anda dengan anak. Membentak tetap perlu dikurangi, tetapi perbaikan yang tulus dapat mengajarkan bahwa seseorang bisa berbuat salah, mengakuinya, dan tetap mencintai.

Bagaimana cara meminta maaf kepada anak setelah marah?

Gunakan kalimat sederhana, misalnya, "Tadi Mama teriak. Mama enggak seharusnya teriak. Itu salah Mama." Hindari menambahkan kata "tapi" atau menjadikan perilaku anak sebagai alasan atas ledakan Anda.

Apakah orang tua harus selalu memahami sinyal bayi?

Tidak. Edward Tronick menemukan bahwa interaksi ibu dan bayi yang normal dan sehat hanya sinkron sekitar 30% dari waktu. Hal yang penting adalah kemampuan untuk kembali terhubung setelah terjadi ketidaksinkronan.

Mengapa memperbaiki hubungan dengan anak itu penting?

Perbaikan membantu anak belajar bahwa perasaan tidak enak dapat berubah dan hubungan yang sempat retak dapat pulih. Anak juga belajar bahwa orang yang ia sayangi akan kembali, yang menjadi fondasi rasa aman dan ketangguhan.

Baca juga