Pengasuhan
Tes Marshmallow Mungkin Salah Dibaca Selama 50 Tahun. Ini Pelajaran Sebenarnya untuk Orang Tua
Tes marshmallow bukan ramalan masa depan anak. Kemauan menunggu juga dipengaruhi rasa percaya serta lingkungan tempat ia tumbuh.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Anda mungkin pernah mendengar cerita tentang anak, marshmallow, dan masa depan. Tahun 1960-an, di sebuah prasekolah di Stanford, anak-anak kecil duduk di depan sepotong marshmallow. Pesannya sederhana: "Kalau kamu bisa menunggu sampai aku kembali, kamu dapat dua."
Namun, tes marshmallow bukan ramalan nasib anak. Studi ulang menemukan bahwa kaitan antara kemampuan menunggu dan keberhasilan anak jauh lebih kecil setelah kondisi keluarga serta lingkungan awal diperhitungkan. Tes ini mungkin bukan hanya mengukur pengendalian diri, tetapi juga kepercayaan anak bahwa orang dewasa akan memenuhi janji.
Sebagian anak dalam tes itu langsung memakan marshmallow. Sebagian lainnya menunggu sambil menutup mata, bernyanyi, atau memalingkan badan agar tidak terus melihat makanan di hadapannya.
Bertahun-tahun kemudian, anak-anak yang mampu menunggu disebut tumbuh dengan nilai akademik lebih baik dan kehidupan yang lebih sukses. Kesimpulan itu kemudian beredar luas selama puluhan tahun: ajari anak menahan diri, maka masa depannya akan cemerlang.
Buku, seminar parenting, dan video motivasi mengulang cerita tersebut tanpa henti. Masalahnya, temuan tentang tes marshmallow ternyata tidak sesederhana cerita yang populer.
Apa hasil studi ulang tes marshmallow?
Pada 2018, Tyler Watts, Greg Duncan, dan Haonan Quan menerbitkan studi ulang dalam jurnal Psychological Science. Studi ini berbeda besar dari studi asli, terutama dalam jumlah dan latar belakang anak yang diteliti.
Studi asli melibatkan anak-anak dari prasekolah kampus Stanford, kelompok yang kecil dan relatif homogen.
Studi ulang menggunakan data longitudinal lebih dari 900 anak dengan latar belakang yang jauh lebih beragam.
Studi ulang tersebut menemukan bahwa anak yang mampu menunggu memang cenderung memiliki kemampuan matematika dan membaca yang lebih baik pada usia remaja. Namun, hubungannya kecil.
Temuan yang paling mengejutkan muncul ketika para peneliti memperhitungkan kondisi keluarga dan lingkungan awal anak. Faktor yang diperhitungkan antara lain latar belakang ekonomi dan kemampuan kognitif awal. Setelah itu, hubungan antara kemampuan menunggu dan kemampuan akademik hampir menghilang.
Kemampuan menunda kepuasan juga tidak memprediksi perilaku atau kepribadian anak di kemudian hari. Karena itu, keputusan anak untuk memakan satu marshmallow tidak layak diperlakukan sebagai penentu masa depannya.
Apa yang sebenarnya diukur tes marshmallow?
Bayangkan dua anak menghadapi pilihan yang sama. Anak pertama tumbuh di rumah tempat janji orang dewasa selalu ditepati. Jika dijanjikan dua marshmallow, ia punya alasan untuk percaya bahwa dua marshmallow itu benar-benar akan datang.
Anak kedua tumbuh di rumah tempat makanan tidak selalu tersedia dan janji sering tidak ditepati. Baginya, memakan marshmallow sekarang merupakan keputusan yang sangat rasional. Pengalaman hidupnya mengajarkan bahwa hal yang pasti adalah apa yang sudah ada di tangan.

Riset Celeste Kidd dan tim dari University of Rochester pada 2013 mendukung penjelasan ini. Riset tersebut menemukan bahwa kesediaan anak untuk menunggu dipengaruhi oleh seberapa besar ia percaya bahwa orang dewasa akan menepati janji.
Jadi, tes marshmallow mungkin tidak hanya mengukur "kekuatan kemauan" seorang anak. Tes itu juga dapat mencerminkan lingkungan tempat anak tumbuh dan pengalaman yang membentuk kepercayaannya kepada orang dewasa.
Kesimpulan ini mengubah pertanyaan yang perlu diajukan orang tua. Pertanyaannya bukan sekadar, "Mengapa anak saya tidak sabar?" Orang tua juga perlu bertanya, "Apakah anak saya punya alasan untuk percaya bahwa menunggu akan membawa hasil yang dijanjikan?"
Bagaimana cara mengajarkan anak untuk sabar?
Pelajaran sebenarnya dari tes marshmallow lebih menantang, tetapi juga lebih memberdayakan. Kemampuan anak mengendalikan diri tidak hanya berkaitan dengan latihan yang diberikan kepada anak. Perilaku orang tua dan lingkungan rumah juga ikut berperan.
1. Tepati janji, sekecil apa pun
Ketika Anda berkata, "Nanti sore kita ke taman," anak belajar mengharapkan hal itu terjadi. Jika rencana batal, beri penjelasan. Janji yang berulang kali tidak terlaksana tanpa penjelasan dapat mengajarkan bahwa menunggu itu sia-sia.
Bukan berarti setiap rencana harus selalu berjalan sempurna. Intinya adalah membuat ucapan Anda dapat dipercaya dan tidak membiarkan anak terus menunggu tanpa kejelasan.
2. Buat rumah yang bisa diprediksi
Rutinitas yang jelas membantu anak merasa aman. Anak yang merasa aman lebih mampu menunggu karena ia dapat memperkirakan apa yang akan terjadi berikutnya.
Mulailah dari kegiatan sehari-hari yang memang ada di rumah Anda. Jadwal yang dapat dipahami anak memberi pengalaman bahwa urutan dan waktu yang disepakati memiliki arti.
3. Ajarkan strategi, bukan hanya menyuruh sabar
Anak-anak dalam studi asli yang berhasil menunggu tidak hanya duduk menatap marshmallow. Mereka mengalihkan perhatian, bernyanyi, menutup mata, atau memalingkan badan.
Strategi seperti itu dapat diajarkan. Saat anak harus menunggu, bantu ia mencari kegiatan lain yang dapat dilakukan. Perintah "sabar ya" lebih berguna jika disertai cara konkret untuk melewati waktu tunggu.
4. Jangan menjadikan satu tes sebagai ramalan nasib
Anak yang tidak sabar pada usia 4 tahun tidak ditakdirkan gagal. Studi ulang menunjukkan bahwa gambaran populer tentang tes marshmallow terlalu menyederhanakan hubungan antara pengendalian diri dan keberhasilan pada masa depan.
Lingkungan yang mendukung jauh lebih menentukan. Karena itu, jangan memberi cap kepada anak hanya berdasarkan satu pilihan, satu kejadian, atau satu tahap perkembangannya.
Tamparan kecilnya
Jika anak Anda sulit menunggu, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa ia kurang disiplin. Tanyakan lebih dahulu kepada diri sendiri: seberapa sering janji Anda kepadanya benar-benar ditepati?
Pertanyaan ini bukan untuk menyalahkan orang tua. Ini adalah ajakan untuk melihat bahwa rasa percaya anak tumbuh melalui pengalaman kecil yang berulang di rumah.
Coba sekarang di Familio
Setiap kali Anda menjanjikan sesuatu kepada anak, seperti pergi ke taman, membeli buku, atau bermain bersama, catat janji itu di kalender keluarga Familio. Pada akhir bulan, lihat berapa banyak yang benar-benar terlaksana. Rumah dengan janji yang bisa dipegang adalah tempat terbaik bagi anak untuk belajar sabar.
Sumber: Association for Psychological Science, A New Approach to the Marshmallow Test; Watts, Duncan & Quan (2018), Psychological Science
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa kesimpulan sebenarnya dari tes marshmallow?
Tes marshmallow tidak dapat digunakan sebagai ramalan sederhana tentang kesuksesan anak. Studi ulang menemukan bahwa hubungan kemampuan menunggu dengan kemampuan matematika dan membaca kecil, lalu hampir menghilang setelah kondisi keluarga dan lingkungan awal diperhitungkan.
Apakah anak yang langsung memakan marshmallow akan gagal?
Tidak. Anak yang tidak sabar pada usia 4 tahun tidak ditakdirkan gagal, dan kemampuan menunda kepuasan tidak memprediksi perilaku atau kepribadian di kemudian hari. Keputusan anak juga dapat dipengaruhi pengalaman serta kepercayaannya kepada orang dewasa.
Mengapa kepercayaan kepada orang dewasa memengaruhi kesabaran anak?
Riset Celeste Kidd dan tim dari University of Rochester pada 2013 menunjukkan bahwa kesediaan anak menunggu dipengaruhi keyakinannya bahwa orang dewasa akan menepati janji. Jika janji sering tidak dipenuhi, mengambil sesuatu yang sudah tersedia dapat menjadi keputusan yang rasional bagi anak.
Bagaimana orang tua dapat mengajarkan anak untuk menunggu?
Orang tua dapat menepati janji, menjelaskan perubahan rencana, dan membangun rutinitas yang jelas. Anak juga dapat diajari strategi konkret seperti mengalihkan perhatian, bernyanyi, menutup mata, atau memalingkan badan saat harus menunggu.