Keuangan keluarga
"Nanti Juga Cukup": Kalimat Paling Mahal dalam Keuangan Keluarga
“Nanti juga cukup” bisa membuat keluarga menghindari hitungan penting. Kenali tandanya dan mulai membicarakan uang dengan jujur.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Kalimat ini terdengar bijak. Kadang malah terdengar religius: “Sudahlah, rezeki sudah ada yang atur. Nanti juga cukup.” Dan seringnya memang cukup, setidaknya untuk bulan ini atau tahun ini.
Masalahnya muncul ketika “nanti juga cukup” dipakai untuk menghindari menghitung. Jawaban intinya sederhana: keyakinan soal rezeki perlu berjalan bersama ikhtiar yang nyata, yaitu mengetahui kebutuhan, kondisi uang, dan rencana keluarga bila keadaan memburuk.
Tulisan ini bukan untuk mengecilkan keyakinan soal rezeki. Justru sebaliknya. Tawakal yang utuh selalu datang setelah ikhtiar, bukan sebagai pengganti ikhtiar.
Tanpa hitungan, keluarga bisa merasa aman sampai suatu hari uang benar-benar tidak cukup dan tidak ada yang siap. Bukan karena tidak pernah peduli, melainkan karena percakapan penting terus ditunda.
Mengapa kita mudah merasa nanti juga cukup?
Neurosains punya nama untuk kecenderungan pertama: optimism bias. Riset Tali Sharot dari University College London menunjukkan bahwa sebagian besar manusia secara sistematis meremehkan peluang hal buruk menimpa dirinya dan melebih-lebihkan peluang hal baik.
Akibatnya, kita mudah merasa sakit, PHK, atau usaha bangkrut adalah cerita orang lain. Risiko itu diketahui, tetapi terasa jauh dari kehidupan sendiri.
Ada pula present bias. Otak memberi bobot jauh lebih besar pada kenyamanan hari ini daripada keamanan lima tahun lagi. Belanja terasa nyata sekarang, sedangkan dana pensiun terasa abstrak.
Gabungan keduanya dapat membuat keluarga tulus merasa “baik-baik saja”. Pengeluaran tetap berjalan, keputusan besar tetap dibuat, dan pembicaraan tentang risiko disimpan untuk nanti. Lalu datang tagihan yang tidak pernah dihitung.

Optimisme bukan musuh. Ia menjadi jebakan ketika rasa yakin menggantikan pemeriksaan terhadap angka. Kalimat yang menenangkan akhirnya dipakai untuk menutup percakapan yang sebenarnya perlu dibuka.
Apa harga dari tidak menghitung keuangan keluarga?
Data BPS mencatat 438.168 kasus perceraian di Indonesia sepanjang 2025. Faktor ekonomi menjadi penyebab terbesar kedua dengan 105.727 kasus, di bawah perselisihan dan pertengkaran terus-menerus.
Kalau mau jujur, banyak pertengkaran yang terus-menerus itu sebenarnya menyentuh uang yang tidak pernah dibicarakan dengan tenang. Masalahnya dapat bermula dari pertanyaan sederhana yang tidak terjawab: uang habis untuk apa, utang tinggal berapa, atau keputusan besar mana yang sebenarnya mampu ditanggung.
Riset di Amerika Serikat oleh Dew, Britt, dan Huston (2012) terhadap lebih dari 4.500 pasangan menemukan bahwa pertengkaran soal uang adalah jenis pertengkaran yang paling kuat memprediksi perceraian. Hubungannya lebih kuat daripada pertengkaran soal anak, mertua, atau hal lain.
Temuan menariknya, setelah pertengkaran uang dimasukkan dalam analisis, kondisi keuangan itu sendiri tidak lagi berhubungan dengan perceraian. Artinya, yang merusak bukan sedikitnya uang. Yang merusak adalah cara pasangan menghadapinya.
“Nanti juga cukup” adalah cara paling halus untuk menunda pembicaraan yang seharusnya terjadi sekarang. Kalimat itu dapat meredakan kegelisahan sesaat, tetapi tidak menjawab persoalan yang sedang dihadapi.
Apa tanda keluarga hidup dalam mode “nanti juga cukup”?
Periksa kebiasaan di rumah Anda. Lima tanda berikut tidak selalu muncul bersamaan, tetapi masing-masing layak diperhatikan.
Anda tidak tahu persis berapa pengeluaran bulanan keluarga.
Setiap akhir bulan terasa “mepet”, tetapi tidak pernah ada yang mencari tahu penyebabnya.
Tidak ada dana darurat, dan alasannya selalu “belum sempat”.
Pasangan Anda tidak tahu gambaran utang dan aset Anda, atau sebaliknya.
Keputusan besar, seperti mobil, renovasi, atau sekolah anak, diambil berdasarkan “sepertinya bisa”.
Satu tanda saja sudah cukup menjadi alarm. Alarm bukan vonis bahwa keluarga Anda gagal. Alarm adalah pengingat untuk berhenti sebentar, melihat angka, lalu membicarakannya bersama.
Percakapan ini tidak harus langsung menyelesaikan semuanya. Tujuan pertama adalah memastikan Anda dan pasangan melihat keadaan yang sama. Sulit membuat rencana bersama jika gambaran dasarnya saja berbeda.
Kalimat apa yang bisa menggantikan “nanti juga cukup”?
Anda tidak perlu menghilangkan harapan. Anda hanya perlu mengubah harapan menjadi pertanyaan yang bisa dijawab dan langkah yang bisa dilakukan.
“Kita hitung dulu, lalu kita tawakal.” Hitung berapa yang dibutuhkan, berapa yang ada, dan berapa selisihnya.
“Kalau yang terburuk terjadi, rencananya apa?” Pertanyaan ini tidak pesimis. Ini pertanyaan orang yang siap.
“Cukup itu berapa, persisnya?” Tanpa angka, “cukup” akan terus bergeser.
Mulailah dari satu keputusan yang sedang dihadapi. Sebut kebutuhannya, lihat uang yang tersedia, lalu akui selisihnya bila memang ada. Angka yang terlihat mungkin tidak nyaman, tetapi setidaknya Anda dan pasangan tidak lagi mengambil keputusan dari dugaan.
Bila pembicaraan mulai tegang, kembalilah pada masalah yang sedang dihitung. Tujuannya bukan mencari siapa yang paling boros atau siapa yang paling benar. Tujuannya adalah memahami apa yang terjadi pada uang keluarga dan menentukan langkah berikutnya.
Tamparan kecilnya
Yang membuat keluarga jatuh jarang sekali satu keputusan besar yang salah. Yang membuat jatuh adalah ratusan hari ketika kita memilih untuk tidak melihat.
Setiap “nanti” mungkin terasa kecil. Namun, bila terus diulang, keluarga kehilangan kesempatan untuk mengetahui masalah lebih awal dan membicarakannya saat pilihan masih terbuka.
Coba sekarang di Familio
Malam ini, buka tab Uang di Familio berdua dengan pasangan. Jawab satu pertanyaan saja: “Berapa total pengeluaran kita bulan lalu?” Kalau Anda berdua tidak bisa menjawab dengan yakin, mulailah mencatat dari hari ini. Tawakal tetap jalan, tetapi sekarang dengan mata terbuka.
Sumber: CNBC Indonesia, data perceraian BPS 2025; GoodStats, penyebab perceraian 2025; Dew, Britt & Huston (2012), Family Relations
Pertanyaan yang sering diajukan
Apa arti kalimat “nanti juga cukup” dalam keuangan keluarga?
Kalimat itu menjadi masalah ketika dipakai untuk menghindari menghitung kebutuhan, pengeluaran, utang, atau kemampuan keluarga. Keyakinan soal rezeki tetap dapat berjalan bersama ikhtiar dan percakapan terbuka.
Apa tanda keuangan keluarga tidak pernah dihitung?
Tandanya antara lain tidak mengetahui pengeluaran bulanan, selalu merasa mepet pada akhir bulan, tidak memiliki dana darurat, atau mengambil keputusan besar berdasarkan “sepertinya bisa”. Pasangan yang tidak saling mengetahui gambaran utang dan aset juga perlu mulai berbicara.
Mengapa pasangan perlu membicarakan uang?
Riset Dew, Britt, dan Huston (2012) terhadap lebih dari 4.500 pasangan menemukan bahwa pertengkaran soal uang paling kuat memprediksi perceraian. Temuan riset tersebut menekankan pentingnya cara pasangan menghadapi uang, bukan sekadar banyak atau sedikitnya uang.
Bagaimana cara mulai membicarakan keuangan dengan pasangan?
Mulailah dengan satu pertanyaan konkret: “Berapa total pengeluaran kita bulan lalu?” Jika belum bisa menjawab dengan yakin, catat pengeluaran mulai hari ini dan gunakan angka tersebut sebagai dasar percakapan.
Apa pengganti kalimat “nanti juga cukup”?
Gunakan pertanyaan yang dapat dijawab dengan angka, seperti “Cukup itu berapa, persisnya?” Anda juga bisa mengatakan, “Kita hitung dulu, lalu kita tawakal,” dan menyiapkan rencana bila keadaan terburuk terjadi.