Lewati ke isi
Familio

Memori & identitas keluarga

Tradisi Kecil Keluarga yang Dikenang Anak Sampai Dewasa

Anak cenderung mengingat tradisi kecil yang berulang. Temukan 12 ide sederhana untuk membangun kenangan keluarga yang hangat.

Tim Familio 5 menit baca

Ibu dan dua anak memasak nasi goreng bersama di dapur rumah pada Minggu pagi
Daftar isi
  1. Mengapa ritual membuat hal biasa terasa istimewa?
  2. Apakah ritual membuat keluarga lebih dekat?
  3. Apa bedanya rutinitas dan ritual keluarga?
  4. Apa saja tradisi kecil yang bisa dicoba keluarga Indonesia?
  5. Bagaimana membuat tradisi keluarga bertahan?
  6. Tamparan kecilnya
  7. Coba sekarang di Familio

Tanyakan kepada orang dewasa, “Apa kenangan masa kecil yang paling hangat?” Jarang ada yang menjawab, “Liburan ke Singapura tahun 2003.” Yang lebih sering muncul justru kebiasaan kecil yang dilakukan bersama, lagi dan lagi.

“Setiap malam takbiran, Bapak mengajak kami keliling kampung naik motor bertiga.” “Setiap Minggu pagi, Ibu membuat nasi goreng dengan telur ceplok berbentuk hati.” “Setiap ada yang ulang tahun, kami makan mi ayam di warung yang sama.” Tradisi keluarga tidak harus mahal atau spektakuler. Kekuatan utamanya terletak pada pengulangan, keterlibatan, dan makna bersama.

Mengapa ritual membuat hal biasa terasa istimewa?

Pada 2013, Kathleen Vohs, Yajin Wang, Francesca Gino, dan Michael Norton melakukan eksperimen menggunakan cokelat batangan. Satu kelompok memakan cokelat seperti biasa. Kelompok lain diminta mengikuti sebuah ritual: mematahkan cokelat menjadi dua tanpa membuka bungkusnya, membuka separuh lalu memakannya, kemudian membuka separuh lainnya dan memakannya.

Kelompok yang melakukan ritual menilai cokelat tersebut lebih enak. Mereka juga makan lebih pelan, lebih menikmatinya, dan bersedia membayar hampir dua kali lipat untuk mendapatkan cokelat tambahan.

Para peneliti juga menguji ritual sebelum makan wortel. Peserta mengetuk meja, menarik napas dalam, lalu memejamkan mata. Wortel itu pun dinilai lebih enak. Kuncinya adalah keterlibatan, sebab ritual membantu kita hadir sepenuhnya dalam sebuah pengalaman.

Apakah ritual membuat keluarga lebih dekat?

Pada 2016, Ovul Sezer, Michael Norton, Francesca Gino, dan Kathleen Vohs meneliti lebih dari 1.000 orang dewasa di Amerika mengenai perayaan Natal, Tahun Baru, dan Paskah. Penelitian tersebut menemukan:

  • Keluarga yang menjalankan ritual bersama saat hari raya merasa lebih dekat satu sama lain.

  • Mereka menilai hari raya lebih menarik dan lebih bermakna.

  • Rasa dekat dan ketertarikan itu membuat hari raya lebih dinikmati, jauh melampaui sekadar berkumpul tanpa ritual.

Ritual yang paling umum ternyata sederhana, yaitu makan malam keluarga, membuka hadiah bersama, dan memainkan permainan keluarga.

Seperti dibahas dalam artikel 76, tinjauan atas 50 tahun riset oleh Barbara Fiese dan rekan juga menemukan bahwa ritual keluarga yang bermakna berkaitan dengan identitas remaja yang lebih kuat dan kepuasan pernikahan yang lebih tinggi.

Apa bedanya rutinitas dan ritual keluarga?

Rutinitas

Ritual

“Makan malam jam 7.”

“Setiap makan malam, masing-masing menceritakan satu hal lucu hari ini.”

“Anak tidur jam 8.”

“Sebelum tidur, Ayah menyanyikan lagu yang sama sejak kamu bayi.”

“Lebaran pulang ke rumah Nenek.”

“Setiap Lebaran, kita berfoto di tangga depan rumah Nenek dengan posisi yang sama.”

Fungsinya: agar urusan beres

Fungsinya: menyampaikan “inilah kita”

Rutinitas membantu keluarga menyelesaikan urusan. Ritual memberi makna pada urusan itu dan menegaskan siapa keluarga Anda. Rutinitas yang terlewat terasa merepotkan, sedangkan ritual yang terlewat membuat Anda merasa ada sesuatu yang hilang.

Keluarga Indonesia menjalani ritual makan, bernyanyi, dan berfoto bersama.
Kegiatan biasa menjadi kenangan saat diulang dengan keterlibatan dan makna bersama.

Apa saja tradisi kecil yang bisa dicoba keluarga Indonesia?

Anda tidak perlu menunggu perayaan besar. Pilih satu kegiatan yang sesuai dengan keseharian keluarga, lalu ulangi dengan cara yang mudah dikenali anak.

  • Berfoto di tempat dan posisi yang sama setiap tahun, misalnya di depan rumah saat hari pertama sekolah.

  • Menyajikan sarapan spesial pada hari ulang tahun, dengan menu pilihan anggota keluarga yang sedang berulang tahun.

  • Berkeliling bersama pada malam takbiran, lalu minum wedang di tempat yang sama.

  • Menikmati sahur pertama Ramadan dengan menu andalan keluarga.

  • Mengadakan Jumat berbagi. Setiap Jumat, anak memilih siapa yang ingin diberi makanan atau bantuan.

  • Menulis surat ulang tahun dari orang tua untuk anak, lalu menyimpannya dari tahun ke tahun.

  • Menjalani Minggu pagi tanpa HP sampai jam 9, kemudian mengisinya dengan jalan kaki atau bersepeda.

  • Menyanyikan lagu atau membaca doa khusus sebelum tidur, dengan pilihan yang sama sejak anak masih bayi.

  • Mengadakan malam film keluarga dengan camilan buatan sendiri.

  • Menjalankan “rapat keluarga” bulanan yang ditutup dengan makan es krim.

  • Menanam pohon setiap kali ada anggota keluarga baru yang lahir.

  • Makan di warung langganan setiap kali ada yang naik kelas atau lulus.

Anda tidak harus mencoba semuanya. Satu tradisi yang ringan dan benar-benar dijalankan akan lebih mudah menjadi bagian dari cerita keluarga daripada banyak rencana yang berhenti setelah satu kali.

Cek diri: Siap Memulai Tradisi Keluarga?

Centang hal yang sudah sesuai dengan rencana tradisi keluarga Anda.

  • Kegiatannya murah dan mudah dilakukan berulang.
  • Tradisi ini sudah memiliki nama yang mudah diingat.
  • Waktunya dapat dijadwalkan secara rutin.
  • Semua anggota keluarga boleh ikut tanpa dipaksa.
  • Ada cara sederhana untuk menyimpan foto atau kenangannya.
  • Keluarga sudah memilih satu tradisi untuk dimulai.

Bagaimana membuat tradisi keluarga bertahan?

Murah dan mudah

Kalau sebuah tradisi membutuhkan biaya besar, kebiasaan itu dapat berhenti ketika keuangan sedang ketat. Padahal, pada masa seperti itulah keluarga paling membutuhkan rasa “kita”. Pilih kegiatan yang tetap mungkin dilakukan dalam kondisi sehari-hari.

Diberi nama

Nama membuat sebuah kebiasaan lebih mudah dikenali dan dinantikan. “Sabtu Pancake” terasa lebih khas daripada sekadar “sarapan akhir pekan”. Nama itu menjadi isyarat bahwa kegiatan tersebut milik keluarga Anda.

Dilindungi, tetapi tidak dipaksakan

Jagalah waktunya dan usahakan tetap berulang. Namun, beri ruang bagi anggota keluarga yang sesekali tidak bisa ikut. Remaja boleh absen. Yang penting, pintunya selalu terbuka ketika ia ingin kembali bergabung.

Tamparan kecilnya

Anak Anda tidak akan mengingat ratusan hari biasa satu per satu. Ia akan mengingat pola, yaitu hal-hal yang dilakukan keluarganya lagi, lagi, dan lagi. Jika keluarga Anda tidak memiliki satu pun tradisi, masa kecil anak bisa terasa seperti ruangan tanpa perabot: ada, tetapi sulit dikenang.

Coba sekarang di Familio

Malam ini, ajak keluarga memilih satu tradisi baru dari daftar di atas, lalu beri nama. Jadwalkan tradisi tersebut di agenda Familio sebagai acara berulang. Setiap kali melakukannya, simpan satu foto di tab Memori dengan judul yang sama. Dalam lima tahun, Anda akan memiliki satu album yang bisa dibuka anak saat ia merindukan rumah.

Jadwalkan tradisi keluarga sebagai acara berulang agar momen kecil ini tidak terlewat. Buka Agenda

Sumber: Vohs, Wang, Gino & Norton, 2013, Rituals Enhance Consumption, Psychological Science; ringkasan eksperimen cokelat dan wortel; Sezer, Norton, Gino & Vohs, 2016, Family Rituals Improve the Holidays, JACR; Fiese et al., 2002, Journal of Family Psychology.

Pertanyaan yang sering diajukan

Apa yang dimaksud dengan ritual keluarga?

Ritual keluarga adalah kegiatan berulang yang memiliki makna bersama dan menyampaikan identitas keluarga, atau rasa “inilah kita”. Bentuknya bisa sangat sederhana, seperti lagu sebelum tidur, sarapan ulang tahun, atau foto tahunan di tempat yang sama.

Apa perbedaan rutinitas dan ritual keluarga?

Rutinitas terutama membantu agar urusan selesai, sedangkan ritual memberi makna pada kegiatan tersebut. Rutinitas yang terlewat biasanya terasa merepotkan, sementara ritual yang terlewat terasa seperti ada sesuatu yang hilang.

Apakah tradisi keluarga harus mahal?

Tidak. Tradisi yang murah dan mudah justru lebih mungkin bertahan ketika keadaan keuangan sedang ketat. Pengulangan dan makna bersama lebih penting daripada biaya atau kemewahan kegiatannya.

Bagaimana cara memulai tradisi keluarga dengan anak?

Pilih satu kegiatan sederhana yang sesuai dengan keseharian keluarga, lalu beri nama agar mudah diingat. Jadwalkan secara berulang dan dokumentasikan dengan foto atau catatan yang memakai judul sama.

Bagaimana agar anak remaja tetap mau mengikuti tradisi keluarga?

Lindungi tradisinya, tetapi jangan memaksakan kehadiran setiap saat. Remaja boleh sesekali absen, selama pintu untuk kembali bergabung selalu terbuka.

Baca juga