Keuangan keluarga
Uang Saku Anak: Diberi, Diupah, atau Dua-duanya? Tiga Mazhab dan Konsekuensinya
Uang saku rutin, upah per tugas, atau gabungan keduanya mengajarkan pelajaran berbeda. Pilih pendekatan yang sesuai untuk keluarga Anda.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
- Apa bedanya uang saku rutin, upah, dan sistem hibrida?
- Mazhab 1: Apakah uang saku sebaiknya diberikan rutin?
- Mazhab 2: Perlukah anak dibayar untuk mengerjakan tugas rumah?
- Mazhab 3: Bagaimana sistem uang saku hibrida bekerja?
- Apa pun pilihannya, lima aturan ini membuat uang saku mendidik
- Bagaimana memilih sistem uang saku yang cocok?
- Tamparan kecilnya
- Coba sekarang di Familio
Di satu rumah, anak mendapat uang saku Rp20.000 sehari, menghabiskannya di kantin, lalu menerima uang lagi besok. Di rumah lain, anak dibayar Rp5.000 setiap kali mencuci piring. Di rumah ketiga, anak tidak pernah memegang uang karena semua kebutuhannya dibelikan orang tua.
Ketiga orang tua itu sama-sama menyayangi anak. Namun, mereka sedang mengajarkan pelajaran yang berbeda. Uang saku rutin melatih anak mengelola uang, upah per tugas menghubungkan usaha dengan penghasilan, sedangkan sistem hibrida mengajarkan keduanya. Pilihan terbaik bergantung pada nilai keluarga, tetapi uang saku baru mendidik jika disertai aturan dan pendampingan.
Apa bedanya uang saku rutin, upah, dan sistem hibrida?
Perbedaan utamanya terletak pada pesan yang diterima anak. Apakah uang merupakan alat latihan, imbalan atas pekerjaan, atau gabungan keduanya?
Tidak ada satu pilihan yang otomatis cocok untuk semua keluarga. Yang penting, orang tua memahami konsekuensi dari pendekatan yang dipilih dan menjalankannya secara konsisten.
Mazhab 1: Apakah uang saku sebaiknya diberikan rutin?
Dalam pendekatan ini, anak menerima jumlah tetap setiap minggu. Uang tersebut menjadi miliknya untuk dikelola, baik untuk dibelanjakan, ditabung, maupun dibagi. Tugas rumah tetap wajib, tetapi tidak menjadi syarat untuk mendapatkan uang saku.
Penulis keuangan Ron Lieber dalam bukunya The Opposite of Spoiled mendukung pendekatan ini. Menurut alasannya, uang saku merupakan alat latihan mengambil keputusan. Sementara itu, membantu di rumah adalah kewajiban anak sebagai anggota keluarga.
Jika uang saku dan tugas rumah dicampur, anak dapat berpikir, “Aku tidak butuh uang minggu ini, jadi aku tidak perlu menyapu.” Pesan tentang tanggung jawab keluarga pun bisa bergeser menjadi transaksi.
Kelebihannya, anak belajar menyusun anggaran, melakukan kesalahan dengan uang kecil, dan menanggung akibat pilihannya. Risikonya, tanpa aturan dan pendampingan, uang saku dapat berubah menjadi “uang jajan otomatis” yang selalu tersedia.
Orang tua tetap perlu mengajak anak membicarakan pilihan yang dibuatnya. Bukan untuk mengambil alih, melainkan agar anak memahami hubungan antara keputusan hari ini dan uang yang tersisa untuk hari berikutnya.
Mazhab 2: Perlukah anak dibayar untuk mengerjakan tugas rumah?
Prinsip pendekatan ini sederhana: tidak bekerja, tidak mendapat uang. Cara ini populer karena terasa langsung mengajarkan etos kerja.
Kelebihannya, anak belajar bahwa usaha dapat menghasilkan penghasilan. Ia melihat hubungan yang jelas antara pekerjaan yang dilakukan dan uang yang diterima.
Risikonya, anak dapat mulai menilai semua bantuan sebagai transaksi. Ketika diminta membantu Mama mengangkat belanjaan, jawabannya bisa menjadi, “Berapa?” Jika terjadi terus-menerus, keluarga pelan-pelan terasa seperti tempat kerja.
Karena itu, orang tua perlu menentukan batas dengan jelas. Anak perlu mengetahui bantuan mana yang merupakan kewajiban sebagai anggota keluarga dan pekerjaan mana yang memang diberi upah.
Mazhab 3: Bagaimana sistem uang saku hibrida bekerja?
Dalam sistem hibrida, anak mendapat uang saku dasar yang tidak terikat pada tugas rumah biasa. Namun, pekerjaan tambahan di luar kewajiban normal dapat menghasilkan uang ekstra.
Pekerjaan tambahan itu misalnya mencuci mobil, membantu membereskan gudang, atau membantu usaha keluarga. Dengan pemisahan tersebut, tugas sehari-hari tetap menjadi bagian dari hidup bersama, sedangkan usaha tambahan mempunyai imbalan tersendiri.
Pendekatan ini banyak dipakai keluarga karena memberikan dua pengalaman sekaligus. Anak berlatih mengelola uang yang diterima secara rutin, sekaligus memahami bahwa kerja ekstra dapat menghasilkan penghasilan ekstra.

Sistem hibrida tetap membutuhkan kesepakatan. Jika batas antara tugas biasa dan pekerjaan tambahan tidak jelas, anak maupun orang tua dapat memiliki harapan yang berbeda.
Apa pun pilihannya, lima aturan ini membuat uang saku mendidik
Metode pemberian uang bukan satu-satunya hal yang menentukan hasilnya. Cara keluarga menetapkan jadwal, merespons kesalahan, dan menambah tanggung jawab juga membentuk pelajaran yang diterima anak.
Tetapkan jumlah dan jadwal. Uang saku yang diberikan “kalau lagi ingat” tidak mengajarkan perencanaan. Anak membutuhkan pola yang bisa diperkirakan agar dapat belajar membagi uangnya.
Berikan mingguan, bukan harian, untuk anak SD kelas atas ke atas. Uang harian tidak pernah memaksa anak merencanakan. Uang mingguan membuatnya berpikir, “Kalau hari Senin habis, Kamis aku tidak punya apa-apa.”
Jangan langsung menalangi. Ini sering menjadi bagian paling berat bagi orang tua. Jika uang habis pada hari Rabu, biarkan anak merasakan akibatnya dalam batas aman. Kesalahan dengan uang Rp50.000 pada usia 9 tahun jauh lebih murah daripada kesalahan dengan kartu kredit pada usia 25 tahun.
Pisahkan menjadi tiga pos. Gunakan pos belanja, tabung, dan berbagi. Anak kecil dapat memakai tiga toples, sedangkan anak yang lebih besar dapat menggunakan tiga “kantong” digital.
Naikkan tanggung jawab seiring usia. Anak SMP dapat mulai mengelola pos tertentu sendiri, misalnya pulsa atau jajan sekolah untuk sebulan penuh.
Aturan tersebut membuat uang saku menjadi latihan yang nyata. Anak bukan hanya menerima uang, tetapi juga belajar memilih, menunggu, dan menghadapi akibat dari pilihannya.
Bagaimana memilih sistem uang saku yang cocok?
Mulailah dari pesan yang ingin Anda sampaikan. Jika fokusnya adalah latihan mengelola uang, uang saku rutin dapat menjadi pilihan. Jika Anda ingin mengenalkan hubungan antara usaha dan penghasilan, upah untuk pekerjaan tertentu dapat dipakai.
Jika Anda ingin mengajarkan keduanya, pertimbangkan sistem hibrida. Apa pun pilihannya, sepakati dahulu tugas rumah yang merupakan kewajiban, pekerjaan tambahan yang dapat diberi upah, jumlah uang, dan jadwal pemberiannya.
Kemudian, beri anak ruang untuk mengambil keputusan. Ketika ia memilih membelanjakan uang lebih cepat, pengalaman itu menjadi bagian dari latihan selama akibatnya tetap dalam batas aman.
Tamparan kecilnya
Anak yang tidak pernah memegang uang tidak akan otomatis pandai mengelolanya saat dewasa. Ia hanya akan belajar untuk pertama kalinya dengan jumlah yang jauh lebih besar, serta konsekuensi yang jauh lebih mahal.
Coba sekarang di Familio
Diskusikan dengan pasangan, mazhab mana yang paling cocok untuk keluarga Anda? Setelah sepakat, catat uang saku anak sebagai pos rutin di tab Uang, lalu buat target tabungan kecil untuk anak di Familio. Biarkan ia melihat sendiri bagaimana uang yang ditahan pelan-pelan berubah menjadi sesuatu yang ia inginkan.
Rujukan: Ron Lieber, The Opposite of Spoiled (2015). Artikel ini membahas pendekatan umum; tidak ada satu metode yang terbukti paling benar untuk semua keluarga.
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah uang saku anak sebaiknya diberikan rutin atau berdasarkan tugas?
Uang saku rutin melatih anak mengelola anggaran, sedangkan upah berdasarkan tugas mengajarkan hubungan antara usaha dan penghasilan. Keluarga juga dapat menggabungkan keduanya dengan memberikan uang saku dasar dan upah untuk pekerjaan tambahan.
Apakah anak perlu dibayar saat mengerjakan tugas rumah?
Tugas rumah biasa dapat tetap diperlakukan sebagai kewajiban anggota keluarga. Jika ingin mengenalkan upah, orang tua bisa membayar pekerjaan tambahan di luar kewajiban normal, seperti mencuci mobil atau membantu membereskan gudang.
Seberapa sering uang saku sebaiknya diberikan?
Untuk anak SD kelas atas ke atas, pemberian mingguan lebih membantu latihan perencanaan daripada pemberian harian. Anak perlu membagi uang agar tidak habis pada awal minggu.
Apa yang harus dilakukan jika uang saku anak habis lebih cepat?
Jangan langsung menalangi anak. Selama tetap dalam batas aman, biarkan ia merasakan akibat dari keputusan tersebut agar dapat belajar merencanakan pengeluaran berikutnya.
Bagaimana cara membagi uang saku anak?
Uang saku dapat dipisahkan menjadi tiga pos, yaitu belanja, tabung, dan berbagi. Anak kecil bisa memakai tiga toples, sedangkan anak yang lebih besar dapat menggunakan tiga kantong digital.