Pengasuhan
Membesarkan Anak Laki-laki yang Mampu Bicara soal Perasaan
Melarang anak laki-laki menangis dapat membuat marah menjadi satu-satunya jalan keluar. Bantu ia mengenali dan membicarakan emosinya.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Raka, 6 tahun, jatuh dari sepeda. Lututnya berdarah dan matanya berkaca-kaca.
Anak laki-laki perlu tahu bahwa menangis, sedih, takut, dan kecewa bukan tanda lemah. Orang tua dapat membantunya dengan menerima perasaannya, mengenalkan lebih banyak nama emosi, memberi contoh, serta menegaskan bahwa semua perasaan boleh dirasakan meski tidak semua perilaku boleh dilakukan.
Dari teras, terdengar suara kakeknya, “Eh, anak laki-laki nggak boleh nangis! Jagoan harus kuat!”
Raka menggigit bibir, menahan air mata, lalu berdiri. Semua orang bertepuk tangan. “Nah, itu baru jagoan.”
Hari itu Raka belajar sesuatu. Bukan cara bangkit setelah jatuh, melainkan perasaan mana yang boleh ia tunjukkan dan mana yang harus disembunyikan.
Apa kata riset tentang anak laki-laki dan emosi?
Tara Chaplin dan Amelia Aldao menerbitkan meta-analisis besar dalam jurnal Psychological Bulletin pada 2013. Mereka merangkum 166 studi yang melibatkan 21.709 anak untuk meneliti perbedaan cara anak laki-laki dan perempuan mengekspresikan emosi.
Temuannya menunjukkan dua kecenderungan:
Anak perempuan rata-rata lebih banyak menunjukkan emosi positif dan emosi “ke dalam”, seperti sedih, cemas, simpati, dan malu.
Anak laki-laki rata-rata lebih banyak menunjukkan emosi “ke luar”, seperti marah dan agresif.
Namun, perbedaan tersebut kecil dan sangat dipengaruhi konteks, termasuk siapa yang berada di sekitar anak serta situasi yang sedang dihadapinya. Jadi, hasil ini bukan alasan untuk menganggap semua anak laki-laki pasti sulit mengungkapkan kesedihan atau semua anak perempuan selalu lebih terbuka.
Perbedaan yang kecil dan dipengaruhi konteks menunjukkan bahwa sebagian besar cara anak laki-laki mengekspresikan emosi dipelajari, bukan murni bawaan. Salah satu gurunya adalah kalimat yang berulang kali ia dengar, termasuk “laki-laki nggak boleh nangis”.

Mengapa anak laki-laki sering menunjukkan marah?
Bayangkan seorang anak laki-laki yang terus diajari bahwa sedih, takut, dan kecewa adalah tanda lemah. Emosi itu tidak hilang hanya karena ia dilarang memperlihatkannya. Emosi tersebut mencari jalan keluar lain.
Marah sering menjadi jalan yang paling “diterima” untuk laki-laki. Akibatnya, sebagian anak laki-laki, lalu kelak laki-laki dewasa, hanya mempunyai satu kosakata emosi: marah.
Kecewa berubah menjadi marah. Takut berubah menjadi marah. Malu berubah menjadi marah. Sedih dipendam dalam diam, lalu akhirnya keluar sebagai marah.
Karena itu, orang tua perlu membantu anak melihat perasaan yang ada di balik kemarahannya. Ia mungkin belum bisa langsung menjelaskan, tetapi ia dapat belajar membedakan “Aku marah” dari “Aku kecewa”, “Aku malu”, atau “Aku takut”.
Apa yang terjadi pada kedekatan anak laki-laki saat remaja?
Niobe Way, psikolog dari New York University, meneliti persahabatan anak laki-laki selama bertahun-tahun. Ia menuliskan temuannya dalam buku Deep Secrets yang diterbitkan Harvard University Press.
Temuannya menyentuh hati:
Pada awal masa remaja, banyak anak laki-laki memiliki persahabatan yang sangat dekat dan intim dengan teman laki-lakinya. Mereka berbagi rahasia dan perasaan, bahkan mengaku akan “gila” tanpa sahabatnya.
Menjelang akhir masa remaja, banyak dari mereka menarik diri dari kedekatan tersebut. Mereka menjadi lebih tertutup, tidak percaya, dan terisolasi karena tekanan untuk “jadi laki-laki” yang tidak membutuhkan siapa-siapa.
Way menyebut keadaan ini krisis koneksi. Anak laki-laki sebenarnya sangat membutuhkan kedekatan emosional, tetapi budaya mengajarkan mereka untuk menyangkal kebutuhan tersebut.
Dukungan orang tua terhadap persahabatan anak menjadi penting dalam konteks ini. Jangan mengejek kedekatannya dengan sahabat atau membuatnya merasa bahwa berbagi rahasia dan perasaan adalah sesuatu yang memalukan.
Bagaimana mengajarkan anak laki-laki bicara soal perasaan?
Perubahan dapat dimulai dari tanggapan sehari-hari di rumah. Saat anak terluka, kecewa, atau takut, respons orang dewasa akan memberinya petunjuk tentang apakah perasaannya aman untuk dibicarakan.
Berhenti mengatakan “laki-laki nggak boleh nangis”
Hapus kalimat itu dari rumah Anda. Saat anak menangis karena jatuh, Anda bisa berkata, “Sakit ya? Boleh kok nangis. Nanti kalau sudah lega, kita obati lukanya.”
Respons ini tidak membuat batas perilaku menghilang. Anda sedang mengakui rasa sakitnya dan menunjukkan bahwa ia tidak perlu menyembunyikan air mata untuk dianggap kuat.
Perkaya kosakata emosinya
Jangan berhenti pada kata “marah” dan “senang”. Kenalkan juga kata kecewa, malu, cemas, frustrasi, iri, lega, dan bangga.
Nama emosi membantu anak menjelaskan apa yang terjadi di dalam dirinya. Anda dapat memulai dengan pertanyaan sederhana, seperti, “Kamu lebih merasa marah atau kecewa?”
Ayah perlu memberi contoh
Anak laki-laki belajar paling banyak dari ayahnya. Ayah yang berkata, “Ayah lagi sedih, kerjaan hari ini berat,” menunjukkan bahwa laki-laki yang kuat juga mempunyai perasaan.
Contoh seperti ini membuat percakapan emosi menjadi bagian biasa dari kehidupan keluarga. Anak melihat bahwa mengatakan “sedih” tidak mengurangi nilai dirinya sebagai laki-laki.
Bicara sambil melakukan kegiatan bersama
Banyak anak laki-laki lebih mudah bercerita ketika melakukan sesuatu secara berdampingan. Percakapan dapat berlangsung di mobil, saat bermain bola, memancing, atau memperbaiki sepeda.
Anda tidak harus selalu mengajaknya duduk dan bertatap muka secara intens. Pilih suasana yang membuatnya lebih nyaman untuk membuka cerita.
Jaga persahabatan dekatnya
Dukung anak laki-laki untuk tetap memiliki sahabat dekat. Jangan mengejek kedekatan itu atau menganggapnya terlalu bergantung pada teman.
Persahabatan dapat menjadi ruang baginya untuk berbagi rahasia dan perasaan. Dukungan di rumah membantunya memahami bahwa membutuhkan orang lain bukan sesuatu yang harus disangkal.
Bedakan perasaan dari perilaku
Marah itu boleh. Memukul tidak boleh. Semua perasaan diterima, tetapi tidak semua perilaku dapat diterima.
Batas ini membantu anak memahami bahwa ia tidak dihukum karena mempunyai emosi. Ia tetap perlu belajar memilih tindakan yang tidak menyakiti orang lain.
Tamparan kecilnya
Kita ingin anak laki-laki kita tumbuh menjadi suami yang peka dan ayah yang hangat. Namun, selama bertahun-tahun, kita justru mengajarinya menyembunyikan semua perasaan kecuali marah.
Kita tidak bisa berharap ia mahir membicarakan sesuatu yang selama ini kita larang. Kemampuan itu perlu diberi ruang, dicontohkan, dan dilatih di rumah.
Coba sekarang di Familio
Sebelum tidur, ajak anak laki-laki Anda menyebutkan satu perasaan yang ia rasakan hari ini dan penyebabnya. Catat jawabannya di Jurnal keluarga. Setelah beberapa minggu, Anda akan melihat kosakata emosinya bertambah dan ia akan belajar bahwa di rumahnya, perasaan boleh dibicarakan.
Sumber: Chaplin & Aldao (2013), Psychological Bulletin; Niobe Way, Deep Secrets, Harvard University Press
Pertanyaan yang sering diajukan
Bagaimana cara mengajarkan anak laki-laki mengenali emosinya?
Mulailah dengan mengenalkan kata selain marah dan senang, seperti kecewa, malu, cemas, frustrasi, iri, lega, dan bangga. Ajak anak menyebutkan satu perasaan yang ia alami dan penyebabnya dalam percakapan sehari-hari.
Apa yang sebaiknya dikatakan saat anak laki-laki menangis?
Akui lebih dulu apa yang ia rasakan, misalnya, “Sakit ya? Boleh kok nangis.” Setelah ia lebih lega, bantu menangani penyebabnya tanpa membuatnya merasa lemah karena menangis.
Mengapa anak laki-laki sering meluapkan kesedihan sebagai marah?
Jika sedih, takut, malu, atau kecewa terus dianggap lemah, anak dapat belajar menekan emosi tersebut. Marah kemudian menjadi jalan keluar yang paling diterima, sehingga orang tua perlu membantunya mengenali perasaan di balik kemarahan.
Bagaimana peran ayah dalam mengajarkan anak bicara soal perasaan?
Ayah dapat memberi contoh dengan menyebutkan perasaannya secara jujur, seperti mengatakan bahwa ia sedang sedih karena pekerjaan terasa berat. Anak pun melihat bahwa laki-laki yang kuat tetap boleh memiliki dan membicarakan perasaan.
Apakah menerima emosi berarti membolehkan semua perilaku anak?
Tidak. Orang tua dapat menerima perasaannya sambil tetap membatasi perilaku, misalnya dengan mengatakan bahwa marah boleh tetapi memukul tidak boleh. Semua perasaan diterima, tetapi tidak semua tindakan dapat diterima.