Pengasuhan
"Nanti Ayah Marah": Kenapa Ancaman Pinjaman Merusak Wibawa Kedua Orang Tua
Ucapan “nanti Ayah marah” mungkin membuat anak diam, tetapi dapat merusak wibawa ibu, hubungan dengan ayah, dan kekompakan orang tua.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
“Awas ya, nanti Mama bilangin Ayah!” “Kalau nggak mau makan, nanti Ayah pulang marah lho.” “Tunggu aja sampai Ayah pulang.”
Kalimat-kalimat ini terdengar di jutaan rumah Indonesia. Seorang ibu yang lelah dan kewalahan mungkin mengucapkannya setelah berbagai cara tidak berhasil. Anak pun langsung diam.
Namun, ketenangan itu hanya bekerja dalam jangka pendek. Dalam jangka panjang, ancaman “nanti Ayah marah” diam-diam merusak tiga hal sekaligus: wibawa ibu, hubungan anak dengan ayah, dan kekompakan orang tua.
Masalahnya bukan sekadar pilihan kata. Ketika nama pasangan dipinjam sebagai ancaman, anak belajar siapa yang dianggap berkuasa, siapa yang bisa diabaikan, dan bagaimana aturan dijalankan di rumah.
Mengapa ibu kehilangan wibawanya sendiri?
Setiap kali ibu berkata “nanti Ayah marah”, pesan yang dapat ditangkap anak adalah: “Mama sendiri tidak punya kekuatan untuk menegakkan aturan ini.” Wibawa untuk menangani situasi saat itu seolah dipindahkan kepada ayah yang bahkan belum berada di rumah.
Anak itu cerdas. Mereka cepat belajar bahwa aturan Mama bisa ditawar, diabaikan, atau ditunda selama Ayah belum pulang. Bukannya memahami batasan, anak justru menunggu apakah ancaman tersebut benar-benar akan terjadi.
Lama-kelamaan, ibu perlu meminjam nama ayah untuk urusan yang semakin kecil. Ironisnya, cara itu bisa semakin kehilangan pengaruh karena anak terbiasa mendengar ancaman yang ditunda.
Ini tidak berarti ibu harus menjadi keras atau menakutkan. Intinya, orang tua yang sedang menghadapi perilaku anak perlu menyampaikan aturan dan menjalankan konsekuensinya sendiri.
Mengapa ayah berubah menjadi sosok yang ditakuti?
Di sisi lain, ayah pulang kerja lalu langsung menerima laporan kesalahan anak sepanjang hari. Ia kemudian diminta menjadi pihak yang menghukum. Ayah yang seharusnya juga menjadi tempat bermain dan bercerita berubah menjadi hakim dan eksekutor.
Anak akhirnya belajar untuk takut, bukan untuk hormat. Ia bisa mulai tegang saat mendengar suara mobil ayah di depan rumah karena kepulangan ayah dikaitkan dengan kemarahan dan hukuman.
Banyak ayah kemudian bingung ketika anak-anak menjauh saat beranjak remaja. Padahal, sejak kecil nama ayah mungkin berulang kali dipakai sebagai peringatan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi saat ia pulang.

Ayah juga ditempatkan dalam posisi yang sulit. Ia harus menindak kejadian yang tidak disaksikannya, sementara anak mungkin sudah lupa urutan peristiwanya. Pertemuan keluarga pada akhir hari pun dibuka dengan ketegangan, bukan kedekatan.
Apa pengaruhnya terhadap kekompakan orang tua?
Para peneliti keluarga menyebut kerja sama ayah dan ibu dalam mengasuh anak sebagai coparenting. Istilah ini berarti cara kedua orang tua bekerja sebagai satu tim dalam menetapkan aturan, memberi dukungan, dan menghadapi perilaku anak.
Coparenting berbeda dari kualitas pernikahan. Pasangan bisa saling mencintai, tetapi tetap buruk dalam bekerja sama mengasuh anak.
Meta-analisis oleh Teubert dan Pinquart (2010) dalam jurnal Parenting: Science and Practice merangkum puluhan studi. Kajian itu menemukan bahwa kualitas coparenting, seperti kerja sama, kesepakatan, dan rendahnya konflik di antara orang tua, berhubungan dengan penyesuaian diri dan perilaku anak, bahkan setelah memperhitungkan kualitas pernikahan dan pola asuh masing-masing orang tua.
Ucapan “nanti Ayah marah” menunjukkan coparenting yang tidak seimbang. Satu orang ditempatkan sebagai “polisi baik”, sedangkan yang lain menjadi “polisi jahat”. Anak pun belajar memainkan keduanya, terutama jika aturan dan respons mereka berbeda.
Apa yang bisa dikatakan selain “nanti Ayah marah”?
1. Tegakkan aturan saat itu juga
Setiap orang tua perlu menegakkan aturan sendiri ketika perilaku terjadi. Konsekuensi langsung dari orang yang sama jauh lebih efektif daripada ancaman yang ditunda berjam-jam. Anak kecil bahkan sering lupa apa kesalahannya ketika Ayah pulang.
Sampaikan batasan dengan kalimat pendek. Setelah itu, jalankan konsekuensi yang sudah disebutkan agar anak memahami hubungan antara pilihan dan akibatnya.
2. Sepakati aturan inti berdua
Ayah dan ibu dapat menyepakati aturan tentang jam tidur, jam layar, sopan santun, serta konsekuensi ketika anak memukul adik. Jika aturannya sama, siapa pun yang sedang berada di rumah dapat menegakkannya.
Kesepakatan ini juga mengurangi kemungkinan anak menerima jawaban yang berbeda. Orang tua tidak perlu saling mengambil alih karena keduanya sudah mengetahui batas yang berlaku.
3. Ganti ancaman dengan pilihan dan konsekuensi
Hindari kalimat “nanti Ayah marah”. Katakan, “Kalau mainannya belum dibereskan dalam 5 menit, mainannya Mama simpan sampai besok.” Setelah 5 menit, lakukan apa yang sudah disampaikan.
Kalimat tersebut menjelaskan perilaku yang diharapkan, waktu yang tersedia, dan konsekuensinya. Nama pasangan tidak perlu dijadikan alat untuk menakut-nakuti anak.
4. Sambut ayah dengan cerita baik terlebih dahulu
Saat Ayah pulang, biarkan pertemuan itu menjadi momen yang menyenangkan. Sambut dengan cerita baik terlebih dahulu, bukan daftar kesalahan anak sepanjang hari.
Masalah hari itu tetap dapat dibicarakan. Namun, ayah dan ibu bisa membahasnya berdua setelah anak tidur, terutama jika mereka perlu menyepakati respons untuk kejadian serupa.
5. Tetap satu suara di depan anak
Jika Anda tidak setuju dengan keputusan pasangan, bicarakan berdua nanti. Di depan anak, saling membela dan tetap satu suara.
Ini bukan berarti semua keputusan pasangan harus selalu dianggap tepat. Tujuannya adalah mencegah perbedaan pendapat orang tua berubah menjadi celah bagi anak untuk mengadu atau memilih aturan yang paling mudah.
6. Bagi beban pengasuhan
Orang tua yang lebih banyak berada di rumah membutuhkan dukungan, bukan hanya penilaian. Sering kali ucapan “nanti Ayah marah” muncul karena ibu kelelahan menegakkan aturan sendirian sepanjang hari.
Karena itu, solusinya bukan sekadar mengganti kalimat. Ayah dan ibu juga perlu berbagi beban pengasuhan agar satu pihak tidak terus-menerus menghadapi semua konflik sendirian.
Tamparan kecilnya
Meminjam wibawa pasangan untuk menakut-nakuti anak memang menjadi cara tercepat untuk membuat anak diam. Namun, harganya mahal: ibu tidak didengar, ayah ditakuti, dan anak belajar bahwa aturan hanya berlaku ketika orang tertentu berada di rumah.
Diam sesaat bukan ukuran bahwa anak sudah memahami aturan. Yang lebih penting adalah apakah ayah dan ibu dapat menegakkan batas yang sama tanpa saling menjadikan ancaman.
Coba sekarang di Familio
Duduklah berdua dengan pasangan, lalu tulis “5 Aturan Rumah” beserta konsekuensinya di Jurnal keluarga Familio. Aturan yang tertulis dan disepakati berdua dapat ditegakkan oleh siapa pun yang sedang berada di rumah, tanpa perlu meminjam nama pasangan.
Rujukan: Teubert & Pinquart (2010), “The Association Between Coparenting and Child Adjustment: A Meta-Analysis”, Parenting: Science and Practice.
Pertanyaan yang sering diajukan
Kenapa tidak boleh mengatakan “nanti Ayah marah” kepada anak?
Kalimat itu dapat membuat anak menganggap ibu tidak mampu menegakkan aturan sendiri. Nama ayah juga berubah menjadi ancaman, sementara orang tua terlihat tidak bekerja sebagai satu tim.
Apa pengganti kalimat “nanti Ayah marah”?
Sampaikan pilihan dan konsekuensi yang bisa dijalankan saat itu juga. Misalnya, “Kalau mainannya belum dibereskan dalam 5 menit, mainannya Mama simpan sampai besok,” lalu lakukan sesuai ucapan.
Bagaimana agar ayah dan ibu kompak dalam mendisiplinkan anak?
Sepakati aturan inti dan konsekuensinya berdua, termasuk soal jam tidur, jam layar, sopan santun, dan memukul adik. Jika muncul perbedaan pendapat, bicarakan berdua setelahnya dan tetap satu suara di depan anak.
Apa itu coparenting?
Coparenting adalah kerja sama ayah dan ibu dalam mengasuh anak. Konsep ini berbeda dari kualitas pernikahan karena pasangan dapat saling mencintai tetapi belum tentu kompak saat menetapkan dan menjalankan aturan pengasuhan.
Apakah kesalahan anak perlu langsung dilaporkan saat ayah pulang?
Tidak harus langsung. Sambut ayah dengan cerita baik terlebih dahulu agar kepulangannya tetap menjadi momen menyenangkan, lalu bahas masalah hari itu berdua setelah anak tidur.