Pengasuhan
Anak Perempuan dan Kepercayaan Diri: Usia Kritis yang Sering Terlewat
Kepercayaan diri anak perempuan dapat turun sekitar 30% pada usia 8–14 tahun. Sikap orang tua bisa membantu menjaga keberaniannya.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Waktu berumur 7 tahun, Nadia adalah anak yang paling berani di kelas. Ia selalu mengangkat tangan lebih dulu, mengikuti lomba menyanyi tanpa ragu, dan bercita-cita menjadi astronot.
Pada umur 13 tahun, Nadia berubah. Ia berhenti mengangkat tangan meskipun tahu jawabannya. Ia menolak ikut lomba karena "takut malu", lama berdiri di depan cermin, lalu tidak mau ikut foto kelas. Ketika ditanya tentang cita-cita, ia menjawab, "Nggak tahu. Aku kan nggak pinter-pinter amat."
Perubahan seperti ini perlu diperhatikan. Kepercayaan diri anak perempuan dapat turun sekitar 30% antara usia 8 dan 14 tahun. Orang tua dapat membantu menjaganya dengan memuji keberanian, memberi ruang untuk gagal, menghentikan komentar tentang tubuh, dan menunjukkan bahwa suara anak layak didengar.
Seberapa besar kepercayaan diri anak perempuan menurun?
Katty Kay dan Claire Shipman, penulis buku The Confidence Code for Girls, bekerja sama dengan lembaga riset Ypulse untuk mensurvei lebih dari 1.300 anak perempuan berusia 8 sampai 18 tahun beserta orang tua mereka.
Survei tersebut menemukan:
Kepercayaan diri anak perempuan turun sekitar 30% antara usia 8 dan 14 tahun.
Pada usia 14 tahun, tingkat kepercayaan diri anak laki-laki 27% lebih tinggi dibandingkan anak perempuan.
Anak laki-laki juga mengalami naik-turun selama masa remaja, tetapi penurunannya jauh lebih kecil.
Temuan yang paling mengkhawatirkan, menurut Katty Kay dan Claire Shipman, adalah jurang kepercayaan diri yang terbuka pada masa remaja ini jarang tertutup kembali pada masa dewasa bagi kebanyakan perempuan.
Artinya, perubahan Nadia bukan sesuatu yang patut dianggap sekadar fase. Orang tua tidak perlu panik, tetapi perlu hadir dengan sengaja saat keberanian anak mulai menyusut.
Mengapa usia 8 sampai 14 tahun begitu rawan?
Usia 8 sampai 14 tahun merupakan masa transisi besar. Anak menghadapi pubertas, perubahan tubuh, tekanan sosial dari teman sebaya, serta paparan yang semakin banyak terhadap media sosial dan standar kecantikan yang tidak realistis.
Di tengah perubahan itu, ada pengaruh yang lebih halus. Kalimat sehari-hari di rumah dapat membentuk cara anak menilai dirinya, bahkan ketika orang tua bermaksud baik.
Dipuji karena baik dan rapi, bukan karena berani
Banyak anak perempuan dipuji karena menurut, sopan, rapi, dan tidak merepotkan. Pujian itu terdengar positif, tetapi jika hanya itulah yang sering ia dengar, anak bisa belajar bahwa nilainya terletak pada kemampuannya menyenangkan orang lain.
Akibatnya, mencoba sesuatu yang baru terasa berisiko. Ia mungkin memilih diam agar tidak dianggap salah, merepotkan, atau mengecewakan.
Takut salah dan terlihat tidak sempurna
Anak perempuan yang terbiasa dipuji karena sempurna dapat takut terlihat tidak sempurna. Baginya, tidak mencoba terasa lebih aman daripada mencoba lalu gagal.
Ketakutan ini bisa muncul dalam bentuk yang sederhana. Anak tahu jawaban, tetapi tidak mengangkat tangan. Ia ingin ikut lomba, tetapi mundur karena khawatir dipermalukan.
Komentar tentang penampilan membekas
Ucapan seperti "Kamu gendutan ya sekarang" atau "Jerawatnya banyak banget" mungkin dianggap biasa oleh keluarga besar. Namun, pada usia ini, komentar tersebut bisa sangat membekas.
Anak dapat mulai melihat tubuh sebagai sesuatu yang terus dinilai. Perhatiannya pun bergeser dari apa yang mampu ia lakukan menjadi bagaimana penampilannya di mata orang lain.

Bagaimana cara menjaga kepercayaan diri anak perempuan?
Tujuannya bukan membuat anak selalu yakin atau tidak pernah takut. Orang tua dapat membantunya tetap mencoba meski ragu, lalu mendampinginya menghadapi hasil yang tidak selalu sempurna.
Puji keberanian, bukan hanya hasil
Perhatikan proses yang dijalani anak. Anda bisa berkata, "Kamu berani angkat tangan walaupun nggak yakin jawabannya. Keren."
Pujian seperti ini menunjukkan bahwa mencoba memiliki nilai tersendiri. Keberanian adalah otot yang perlu dilatih, bukan sifat yang harus selalu muncul dengan sendirinya.
Biarkan ia gagal dan bangkit
Jangan buru-buru menyelamatkan anak dari setiap kegagalan. Kegagalan kecil yang ia lalui dengan dukungan dapat membangun keyakinan, "Aku bisa menghadapi ini."
Anda tetap bisa mendampingi tanpa mengambil alih. Dengarkan perasaannya, tanyakan apa yang ingin ia lakukan berikutnya, dan beri kesempatan kepadanya untuk mencoba lagi.
Dorong kegiatan yang membangun kemampuan
Olahraga, musik, coding, bela diri, atau keterampilan lain dapat membantu anak merasakan, "Aku bisa melakukan sesuatu." Pengalaman ini mengalihkan pusat kepercayaan dirinya dari sekadar "aku terlihat baik" menuju kemampuan yang ia latih.
Biarkan minat anak menjadi panduan. Yang penting bukan kegiatannya terlihat mengesankan, melainkan ia mendapat ruang untuk belajar, berusaha, dan melihat kemajuannya sendiri.
Berhenti mengomentari tubuh
Hindari menilai tubuh anak maupun tubuh orang lain, termasuk tubuh Anda sendiri. Ucapan "Aduh, Mama gendut banget" di depan anak perempuan mengajarkan bahwa tubuh adalah sesuatu yang harus dinilai.
Perubahan ini perlu berlaku dalam percakapan sehari-hari. Anak memperhatikan bukan hanya komentar yang ditujukan kepadanya, tetapi juga cara orang dewasa membicarakan diri sendiri.
Lindungi anak dari komentar keluarga besar
Jika ada kerabat yang mengomentari berat badan atau penampilan anak, Anda dapat memasang batas dengan sopan tetapi tegas. Misalnya, "Kami di rumah nggak membahas berat badan, Tante."
Sikap Anda mengirim pesan penting kepada anak. Ia melihat bahwa dirinya tidak harus menerima setiap penilaian tentang tubuhnya hanya demi bersikap sopan.
Ayah, tunjukkan bahwa suaranya penting
Ayah sangat berperan. Anak perempuan yang merasa pendapatnya dihargai oleh ayah belajar bahwa suaranya penting.
Berikan perhatian penuh ketika ia berbicara. Tanggapi isi pikirannya, bukan hanya penampilan atau sikap manisnya.
Tamparan kecilnya
Anda mungkin mengira kepercayaan diri anak perempuan akan tumbuh sendiri seiring bertambahnya usia. Data menunjukkan sebaliknya. Tanpa usaha sadar dari orang tua, justru pada usia inilah kepercayaan dirinya paling mudah runtuh.
Perhatikan pujian, candaan, dan komentar kecil di rumah. Hal yang tampak sepele bagi orang dewasa dapat ikut menentukan apakah anak merasa aman untuk bersuara, mencoba, dan gagal.
Coba sekarang di Familio
Setiap minggu, ajak anak perempuan Anda mencoba satu hal baru yang sedikit menakutkan baginya. Rayakan keberaniannya, apa pun hasilnya. Simpan momen tersebut di Memori dengan judul "Hari Aku Berani" agar kumpulan kenangan itu dapat mengingatkannya pada kemampuannya saat ia sedang meragukan diri sendiri.
Mulailah dari pengalaman kecil, seperti mengangkat tangan, mencoba kegiatan baru, atau menyampaikan pendapat. Fokuskan percakapan pada keberaniannya mengambil langkah, bukan pada keberhasilan atau kegagalannya.
Sumber: TIME, How to Help Young Girls Keep Their Confidence During Puberty
Pertanyaan yang sering diajukan
Pada usia berapa kepercayaan diri anak perempuan mulai menurun?
Kepercayaan diri anak perempuan dapat turun sekitar 30% antara usia 8 dan 14 tahun. Masa ini bertepatan dengan pubertas, perubahan tubuh, tekanan teman sebaya, serta meningkatnya paparan media sosial dan standar kecantikan yang tidak realistis.
Mengapa anak perempuan menjadi takut salah?
Anak yang sering dipuji karena sempurna dapat merasa bahwa kesalahan akan mengurangi nilainya. Akibatnya, tidak mencoba terasa lebih aman daripada mencoba lalu gagal.
Bagaimana orang tua meningkatkan kepercayaan diri anak perempuan?
Puji keberaniannya mencoba, bukan hanya hasil akhirnya. Beri ruang untuk mengalami kegagalan kecil, dorong kegiatan yang membangun kemampuan, dan tunjukkan bahwa pendapatnya layak didengar.
Apa yang harus dilakukan jika keluarga mengomentari tubuh anak?
Pasang batas dengan sopan tetapi tegas, misalnya, "Kami di rumah nggak membahas berat badan, Tante." Hindari pula mengomentari tubuh orang lain atau tubuh Anda sendiri di depan anak.
Apa peran ayah dalam kepercayaan diri anak perempuan?
Ayah dapat menunjukkan bahwa suara anak penting dengan mendengarkan dan menghargai pendapatnya. Tanggapi isi pikirannya, bukan hanya penampilan atau sikap manisnya.