Pengasuhan
Sulung, Tengah, Bungsu: Riset Besar Membongkar Mitos Urutan Kelahiran
Riset terhadap lebih dari 20.000 orang menunjukkan urutan lahir hampir tak memengaruhi kepribadian. Justru label orang tua perlu diwaspadai.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
"Pantesan tegas, anak sulung sih." "Wajar manja, namanya juga bungsu." "Anak tengah memang suka merasa terlupakan."
Kalimat semacam ini sering terdengar seperti fakta. Padahal, studi besar terhadap lebih dari 20.000 orang menemukan bahwa urutan kelahiran hampir tidak berpengaruh pada sifat kepribadian utama. Anak sulung tidak otomatis tegas, anak tengah tidak pasti merasa terlupakan, dan anak bungsu tidak ditakdirkan menjadi manja.
Yang perlu diperhatikan justru cara kita melihat dan memperlakukan setiap anak. Label yang diulang setiap hari dapat memengaruhi kesempatan anak untuk belajar, mencoba, bertanggung jawab, atau sesekali bergantung kepada orang lain.
Buku, artikel, dan video viral kerap membagi kepribadian anak dengan percaya diri. Anak sulung disebut perfeksionis dan bertanggung jawab. Anak tengah dianggap diplomatis sekaligus pemberontak. Anak bungsu digambarkan manja dan kreatif. Namun, apa kata data?
Apakah urutan kelahiran memengaruhi kepribadian anak?
Pada 2015, Julia Rohrer, Boris Egloff, dan Stefan Schmukle menerbitkan salah satu studi terbesar tentang urutan kelahiran di jurnal PNAS, yaitu Proceedings of the National Academy of Sciences. Mereka menganalisis data lebih dari 20.000 orang dewasa dari tiga negara: Jerman, Amerika Serikat, dan Inggris.
Para peneliti membandingkan saudara kandung di dalam keluarga yang sama serta orang-orang dari keluarga yang berbeda. Setelah itu, mereka mengukur sifat-sifat kepribadian utama.
Hasilnya jelas. Urutan kelahiran tidak berpengaruh bermakna pada sifat kepribadian utama, seperti keterbukaan terhadap pergaulan atau ekstraversi, kestabilan emosi, keramahan, dan kedisiplinan.
Artinya, posisi sebagai sulung, tengah, atau bungsu tidak cukup untuk menjelaskan watak seseorang. Urutan lahir mungkin terasa seperti jawaban yang praktis, tetapi hasil studi ini tidak mendukung anggapan bahwa setiap posisi memiliki paket kepribadian tertentu.
Apakah anak sulung lebih pintar daripada adiknya?
Satu-satunya perbedaan yang ditemukan dalam studi tersebut ada pada aspek kecerdasan. Anak sulung rata-rata sedikit lebih unggul dalam skor kecerdasan, tetapi selisihnya sangat kecil.
Rohrer, Egloff, dan Schmukle juga menegaskan bahwa dalam 4 dari 10 kasus, adik tetap lebih pintar daripada kakaknya. Jadi, temuan rata-rata itu tidak dapat dipakai untuk menebak kemampuan seorang anak atau membandingkan kakak dengan adiknya.
Kalau bukan urutan kelahiran, mengapa anak-anak berbeda?
Orang tua yang memiliki lebih dari satu anak biasanya dapat melihat perbedaan di antara anak-anaknya. Mereka tinggal di rumah yang sama, tetapi dapat menunjukkan kebutuhan, kecenderungan, dan respons yang tidak serupa.
Perbedaan itu tidak harus diterangkan dengan urutan kelahiran. Draf ini menunjukkan tiga hal yang patut diperhatikan: temperamen bawaan, pengalaman yang berbeda, dan label yang diberikan orang tua.
Temperamen bawaan
Setiap anak lahir dengan kecenderungan yang berbeda. Ada anak yang sejak bayi sudah tenang. Ada pula yang sejak awal tampak penuh energi.
Daripada langsung mengaitkannya dengan posisi anak dalam keluarga, orang tua dapat mengamati temperamen tersebut sebagai bagian dari diri anak. Dengan begitu, respons kepada anak bisa disesuaikan dengan kebutuhan pribadinya.
Pengalaman yang tidak selalu sama
Tinggal di keluarga yang sama bukan berarti setiap anak mengalami keadaan yang persis sama. Anak pertama tumbuh ketika orang tua masih baru dan penuh kecemasan. Anak ketiga tumbuh bersama orang tua yang lebih santai.
Situasi ekonomi, lingkungan, dan sekolah juga bisa berbeda pada setiap anak. Karena itu, dua saudara dapat berkembang secara berbeda tanpa harus dianggap sedang menjalankan peran khas sulung, tengah, atau bungsu.
Label dari orang tua
Faktor ini paling jarang disadari. Sebutan yang terdengar sepele dapat berubah menjadi pola perlakuan. Anak kemudian mendapat kesempatan atau beban berdasarkan label tersebut, bukan berdasarkan kemampuan dan kebutuhannya.

Apa bahaya melabeli anak berdasarkan urutan lahir?
Ketika orang tua terus berkata, "Kakak kan sulung, harus mengalah dan jadi contoh," anak sulung bisa tumbuh dengan beban tanggung jawab yang terlalu besar untuk usianya. Ia diperlakukan sebagai kakak terlebih dahulu, bukan dilihat sebagai anak dengan batas kemampuan tertentu.
Sebaliknya, ketika orang tua berkata, "Adik kan bungsu, wajar kalau manja," anak bungsu bisa tidak pernah mendapat kesempatan untuk mandiri. Ia lalu benar-benar tumbuh menjadi manja, bukan karena urutan lahir, melainkan karena perlakuan yang diterimanya.
Label yang terus diulang memiliki kekuatan untuk menjadi kenyataan. Psikolog menyebut proses ini sebagai ramalan yang mewujudkan dirinya sendiri.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar pilihan kata. Orang tua perlu memperhatikan tindakan yang mengikuti kata-kata tersebut. Apakah kakak selalu diberi beban lebih besar? Apakah adik terus dibantu meski sebenarnya dapat mencoba sendiri? Apakah anak tengah hanya diperhatikan ketika ia dibandingkan dengan saudaranya?
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Perubahan dapat dimulai dari percakapan dan pembagian peran sehari-hari. Tujuannya bukan menghapus panggilan kakak atau adik, melainkan berhenti memakai urutan kelahiran sebagai penjelasan tunggal tentang diri anak.
Berhenti memakai urutan kelahiran sebagai penjelasan. Ganti kalimat seperti "Dia kan sulung" dengan pengamatan terhadap temperamen, kemampuan, dan kebutuhan anak sebagai pribadi.
Bagi tanggung jawab berdasarkan kemampuan, bukan urutan. Adik juga bisa diberi tanggung jawab. Kakak juga berhak untuk dimanja.
Hati-hati dengan perintah "harus mengalah". Anak sulung yang terus diminta mengalah bisa menyimpan rasa tidak adil yang terbawa hingga dewasa.
Beri waktu empat mata kepada setiap anak. Setiap anak perlu merasa dilihat sebagai individu, bukan hanya sebagai "kakak" atau "adik".
Saat konflik muncul, tahan dorongan untuk langsung menentukan peran berdasarkan posisi anak. Lihat apa yang terjadi, siapa yang membutuhkan bantuan, dan tanggung jawab apa yang sesuai dengan kemampuan masing-masing.
Anda juga dapat mengamati kalimat yang paling sering keluar di rumah. Jika alasan "karena kakak" atau "karena adik" terus muncul, coba susun ulang permintaan secara lebih spesifik. Jelaskan tindakan yang diharapkan tanpa menjadikan urutan lahir sebagai sifat bawaan anak.
Tamparan kecilnya
Mungkin yang membentuk sifat anak Anda bukan urutan lahirnya. Mungkin yang membentuknya adalah kalimat-kalimat yang Anda ucapkan tentang dirinya setiap hari, tanpa disadari.
Coba sekarang di Familio
Jadwalkan "waktu berdua" dengan setiap anak secara bergantian, misalnya 30 menit seminggu sekali, lalu masukkan ke kalender keluarga Familio. Setelahnya, tulis di Jurnal satu hal unik yang Anda temukan dari setiap anak, tanpa menghubungkannya dengan urutan kelahiran.
Sumber: ScienceDaily (2015), Birth order has only very small effects on personality; Rohrer, Egloff & Schmukle (2015), PNAS
Pertanyaan yang sering diajukan
Apakah urutan kelahiran memengaruhi kepribadian anak?
Studi Rohrer, Egloff, dan Schmukle pada 2015 terhadap lebih dari 20.000 orang menemukan bahwa urutan kelahiran tidak berpengaruh bermakna pada sifat kepribadian utama. Sifat yang diteliti mencakup ekstraversi, kestabilan emosi, keramahan, dan kedisiplinan.
Apakah anak sulung selalu lebih pintar?
Tidak. Dalam studi tersebut, anak sulung rata-rata sedikit lebih unggul dalam skor kecerdasan, tetapi selisihnya sangat kecil. Para peneliti menegaskan bahwa dalam 4 dari 10 kasus, adik tetap lebih pintar daripada kakaknya.
Mengapa kepribadian kakak dan adik bisa berbeda?
Perbedaan dapat berkaitan dengan temperamen bawaan dan pengalaman yang tidak sama. Anak-anak juga dapat menerima label serta perlakuan berbeda meskipun tumbuh di rumah yang sama.
Apa dampak melabeli anak sulung harus selalu mengalah?
Anak sulung yang terus diminta mengalah bisa memikul tanggung jawab yang terlalu besar untuk usianya. Ia juga bisa menyimpan rasa tidak adil yang terbawa hingga dewasa.
Bagaimana memperlakukan anak tanpa terjebak mitos urutan lahir?
Lihat temperamen, kemampuan, dan kebutuhan setiap anak sebagai individu. Bagikan tanggung jawab berdasarkan kemampuan, hindari label, dan sediakan waktu empat mata dengan masing-masing anak.