Pengasuhan
Remaja Tidak Menjauh, Mereka Sedang Membangun Diri: Panduan Bertahan Orang Tua
Remaja yang menjaga jarak bukan berarti tak lagi membutuhkan Anda. Pahami perubahan otaknya dan cara tetap dekat tanpa membuatnya merasa dikekang.
Tim Familio 5 menit baca

Daftar isi
Dulu, anak Anda selalu menunggu di depan pintu setiap Anda pulang kerja. Ia bercerita tanpa diminta, memeluk tanpa malu, dan menganggap Anda orang paling hebat di dunia.
Sekarang usianya 14 tahun. Ia pulang sekolah, langsung masuk kamar, lalu menutup pintu. Saat ditanya, "Gimana sekolah?" jawabannya hanya, "Biasa." Perubahan ini memang terasa seperti kehilangan, tetapi ia bukan sedang berhenti membutuhkan Anda. Ia sedang membangun identitas dan belajar menjadi dirinya sendiri.
Ajakan jalan bersama keluarga mungkin dibalas, "Males." Di depan teman-temannya, ia bahkan tidak mau terlihat bersama Anda. Rasanya menyakitkan, tetapi para ilmuwan menawarkan penjelasan yang menenangkan: yang sedang terjadi bukan kehilangan, melainkan pembangunan.
Apa yang terjadi pada otak remaja?
Otak remaja sedang mengalami salah satu renovasi terbesar sepanjang hidup manusia. Dua bagiannya berkembang dengan kecepatan berbeda, sehingga dorongan yang kuat belum selalu diimbangi pertimbangan yang matang.
Sistem penghargaan dan emosi menjadi sangat aktif. Remaja sangat sensitif terhadap kesenangan, sensasi, dan penerimaan sosial.
Korteks prefrontal, bagian yang mengurus pertimbangan, pengendalian diri, dan perencanaan jangka panjang, masih terus berkembang sampai pertengahan usia 20-an.
Psikolog Laurence Steinberg dari Temple University menggambarkannya seperti mobil dengan pedal gas yang sangat responsif, tetapi remnya belum terpasang sempurna. Gambaran ini membantu orang tua memahami mengapa remaja bisa tampak berani, impulsif, atau sangat emosional dalam keadaan tertentu.
Penjelasan tersebut bukan alasan untuk membiarkan semua perilaku. Namun, orang tua dapat merespons dengan lebih tenang ketika memahami bahwa kemampuan mengendalikan dorongan memang masih berkembang.

Mengapa teman menjadi sangat penting bagi remaja?
Dalam salah satu eksperimennya, Steinberg dan Margo Gardner meminta remaja dan orang dewasa memainkan permainan simulasi mengemudi. Ketika bermain sendirian, kedua kelompok mengambil risiko yang kurang lebih sama.
Hasilnya berubah ketika teman sebaya ikut menonton. Remaja mengambil risiko jauh lebih banyak, sedangkan orang dewasa hampir tidak terpengaruh.
Bagi otak remaja, penerimaan teman sebaya bukan perkara sepele. Penerimaan itu terasa seperti kebutuhan untuk bertahan hidup. Karena itulah pendapat teman sering terasa lebih penting daripada pendapat orang tua, terutama ketika mereka sedang bersama kelompoknya.
Temuan tersebut juga menjelaskan mengapa teguran di depan teman dapat terasa jauh lebih besar bagi remaja. Orang tua tetap perlu menetapkan batas, tetapi waktu dan cara menyampaikannya ikut menentukan apakah anak mau mendengar.
Apakah remaja yang menjauh masih membutuhkan orang tua?
Ya. Menurut psikologi perkembangan, tugas utama masa remaja adalah membangun identitas dengan menjawab pertanyaan, "Siapa aku, terpisah dari orang tuaku?"
Untuk menemukan jawabannya, remaja perlu mengambil jarak, mencoba pendapatnya sendiri, dan kadang membantah. Menutup pintu kamar tidak selalu berarti ia sedang menolak Anda. Ia mungkin sedang membuat ruang untuk menjadi dirinya sendiri.
Riset menunjukkan bahwa remaja tetap sangat membutuhkan orang tuanya, hanya dengan cara yang berbeda. Mereka mungkin tidak lagi menceritakan setiap hal, tetapi tetap membutuhkan kehadiran, batas yang jelas, dan kepastian bahwa rumah adalah tempat yang aman.
Tantangannya adalah tetap dekat tanpa terus mengejar. Anda dapat membuka pintu percakapan, lalu memberi kesempatan kepada anak untuk menentukan kapan ia siap masuk.
Bagaimana cara tetap dekat dengan anak remaja?
Kurangi ceramah, perbanyak mendengar
Remaja cepat menutup telinga ketika mencium tanda-tanda ceramah. Cobalah menanyakan pendapatnya, lalu dengarkan sampai selesai tanpa langsung mengoreksi.
Mendengar bukan berarti selalu menyetujui. Anda tetap dapat menyampaikan batas dan nilai keluarga setelah anak merasa suaranya benar-benar diterima.
Manfaatkan percakapan samping
Remaja sering lebih mudah bercerita ketika tidak ditatap langsung. Percakapan dapat muncul di mobil, sambil memasak, atau saat berjalan bersama.
Momen terbaik kerap datang tanpa rencana, bahkan larut malam. Ketika pintu itu terbuka, usahakan hadir sejenak sebelum buru-buru memberi solusi.
Beri otonomi sesuai tanggung jawab
Semakin anak dapat dipercaya, semakin besar kebebasan yang bisa diberikan. Buat kesepakatan yang jelas agar ia memahami hubungan antara pilihan, tanggung jawab, dan kepercayaan.
Kesepakatan lebih mudah dipahami daripada larangan tanpa penjelasan. Anak tetap memiliki ruang untuk mengatur dirinya, sementara orang tua menjaga batas yang diperlukan.
Kenali teman-temannya
Undang teman-temannya ke rumah dan kenali mereka. Teman adalah pengaruh terbesar bagi remaja, sehingga Anda perlu mengetahui siapa saja yang dekat dengannya.
Tujuannya bukan menginterogasi atau mengawasi setiap gerak. Kehadiran yang ramah membuat rumah menjadi tempat yang nyaman bagi anak dan lingkaran pertemanannya.
Tetap hadir meski tidak diminta
Datanglah ke pertandingannya. Pertahankan kebiasaan makan malam bersama. Tetap katakan, "Ayah bangga sama kamu," atau ungkapkan kebanggaan dengan cara yang biasa digunakan keluarga Anda.
Remaja mungkin memutar mata atau menjawab singkat. Namun, mereka mencatat semua bentuk kehadiran itu.
Pilih pertempuran yang penting
Rambut, gaya baju, dan musik yang menurut Anda aneh tidak selalu layak menjadi pertengkaran. Simpan energi untuk hal-hal yang benar-benar menyangkut keselamatan dan nilai.
Pilihan ini membantu anak membedakan antara selera pribadi dan batas yang sungguh penting. Anda pun tidak perlu mengubah setiap perbedaan menjadi perebutan kendali.
Jadilah tempat pendaratan yang aman
Pastikan anak tahu bahwa apa pun kesalahannya, ia dapat pulang dan menelepon Anda. Jangan membuat ketakutan akan hukuman habis-habisan menghalanginya meminta bantuan lebih dahulu.
Konsekuensi tetap dapat dibicarakan. Yang terpenting, anak mengetahui bahwa ketika keadaan sulit, ia tidak harus menghadapinya sendirian.
Tamparan kecilnya
Banyak orang tua baru ingin dekat dengan anak justru ketika anak sudah remaja. Padahal, fondasi kedekatan dibangun jauh sebelumnya.
Kabar baiknya, tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai mendengarkan. Kedekatan tidak harus dimulai lewat percakapan besar. Ia dapat tumbuh dari kebiasaan hadir, bertanya tanpa mendesak, dan mendengar tanpa segera menghakimi.
Coba sekarang di Familio
Ajak anak remaja Anda mengisi kalender keluarga Familio dengan jadwalnya sendiri, seperti kegiatan sekolah, latihan, dan janji dengan teman. Ruang untuk mengatur jadwal adalah bentuk kepercayaan. Tanpa banyak bertanya, Anda tetap mengetahui apa yang sedang terjadi dalam hidupnya.
Rujukan: Laurence Steinberg, Age of Opportunity (2014); Gardner & Steinberg (2005), "Peer influence on risk taking, risk preference, and risky decision making in adolescence and adulthood", Developmental Psychology.
Pertanyaan yang sering diajukan
Mengapa anak remaja tiba-tiba menjauh dari orang tua?
Remaja sedang menjalankan tugas perkembangan untuk membangun identitas yang terpisah dari orang tuanya. Mengambil jarak, mencoba pendapat sendiri, dan kadang membantah merupakan bagian dari proses tersebut, bukan selalu tanda bahwa ia menolak Anda.
Apakah anak remaja masih membutuhkan orang tua?
Ya, remaja tetap sangat membutuhkan orang tua, tetapi caranya berbeda dari ketika mereka masih kecil. Mereka membutuhkan kehadiran, batas yang jelas, ruang untuk mandiri, dan kepastian bahwa rumah tetap menjadi tempat yang aman.
Bagaimana cara mengajak remaja bercerita tanpa terkesan menginterogasi?
Manfaatkan percakapan samping, misalnya ketika berada di mobil, memasak, atau berjalan bersama. Tanyakan pendapatnya dan dengarkan sampai selesai tanpa langsung mengoreksi atau memberi ceramah.
Mengapa pendapat teman sangat memengaruhi remaja?
Sistem penghargaan dan emosi remaja sangat aktif, sehingga penerimaan sosial terasa sangat penting. Eksperimen Steinberg dan Margo Gardner juga menunjukkan bahwa remaja mengambil risiko jauh lebih banyak ketika ditonton teman sebaya.
Berapa banyak kebebasan yang sebaiknya diberikan kepada remaja?
Berikan otonomi sesuai tanggung jawab yang telah ditunjukkan anak. Semakin ia dapat dipercaya, semakin besar kebebasan yang bisa diberikan melalui kesepakatan yang jelas, bukan larangan tanpa penjelasan.